Berita

Ketua DPP PDIP Andi Widjajanto di Kantor DPP PDIP, Menteng, Jakarta Pusat pada Sabtu, 26 April 2025/RMOL

Politik

Andi Widjajanto:

Indonesia Harus Persiapkan Diri jadi Kekuatan Global di 2050

SABTU, 26 APRIL 2025 | 20:29 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Ketua DPP PDIP Andi Widjajanto menyampaikan analisis mendalam mengenai kemunduran hegemoni Amerika Serikat (AS) serta peluang bagi negara-negara Global South, termasuk Indonesia, untuk menjadi kekuatan baru pasca-tahun 2050.

Andi memprediksi bahwa hegemoni AS akan mengalami erosi signifikan dalam periode 2025-2035. Setelah itu, ia memperkirakan akan terjadi periode “anarki global” (2035-2050) di mana kekuatan-kekuatan seperti China, India, Indonesia, Brasil, dan Nigeria akan bersaing untuk mengisi kekosongan kekuasaan.

“Pada tahun 2050, jika situasi global stabil, Tiongkok berpotensi menjadi hegemoni baru. Namun, Indonesia harus mempersiapkan diri untuk berada dalam antrean kekuatan utama,” tegas Andi dalam diskusi bertajuk “Masa Depan Geopolitik: Refleksi 70 Tahun KAA dan Proyeksi 2050” yang diselenggarakan oleh Badan Sejarah DPP PDIP di Kantor DPP PDIP, Menteng, Jakarta Pusat pada Sabtu, 26 April 2025. 


Mantan Gubernur Lemhannas ini menekankan bahwa bahwa sejarah belum pernah mencatat adanya blok negara Asia-Afrika atau Non-Blok yang berhasil menjadi hegemon global.

“Masalah utama yang dihadapi negara-negara Selatan adalah kerapuhan internal. Banyak di antaranya masuk kategori negara gagal seperti Myanmar atau Kongo, sementara ekonomi Argentina dan Afrika Selatan diprediksi akan mengalami kebangkrutan dalam lima tahun ke depan,” jelas Andi sambil merujuk pada data CFR Sovereign Risk Index.

Lebih lanjut, ia berpendapat bahwa kembalinya Donald Trump sebagai Presiden AS pada tahun 2024 justru akan mempercepat keruntuhan hegemoni negara tersebut. Menurutnya, Trump adalah “katalis” yang diperlukan bagi kebangkitan negara-negara Selatan.

Ia merinci lima pilar utama hegemoni AS yang mulai menunjukkan keretakan: dominasi nuklir yang kini dimiliki banyak negara, aliansi militer seperti NATO yang dinilai mulai kehilangan pengaruh, ekspor demokrasi dan HAM yang semakin dikritik, institusi ekonomi global seperti Bank Dunia dan IMF yang dianggap tidak adil, serta dominasi Dolar AS sebagai mata uang global yang terancam.

“Bergabungnya Indonesia dengan BRICS adalah langkah yang tepat untuk mengikis hegemoni dolar,” imbuhnya.

Andi pun menyerukan reaktualisasi visi geopolitik Sukarno yang mencakup anti-kolonialisme dan imperialisme, pembangunan tatanan dunia baru, politik bebas-aktif, kesetaraan antara negara Utara dan Selatan, serta Pancasila sebagai ideologi alternatif yang dapat melengkapi Piagam PBB.

“Bung Karno pernah menawarkan Pancasila kepada PBB sebagai jalan tengah antara ideologi komunisme dan kapitalisme. Ini sangat relevan untuk menjawab potensi anarki global pasca-runtuhnya hegemoni AS,” tegasnya.

Ia juga mengkritisi kebijakan Orde Baru yang dinilai “mengkhianati” semangat Konferensi Asia Afrika (KAA) melalui aneksasi Timor Leste pada tahun 1975 dan membatasi Pancasila sebagai alat kekuasaan semata.

“PDIP memiliki tugas untuk meluruskan sejarah kelam ini, sesuai dengan pesan Ibu Megawati,” ujarnya.

Meskipun optimistis terhadap potensi Indonesia, Andi mengingatkan akan sejumlah tantangan yang perlu diatasi, termasuk kondisi ekonomi global yang rentan terhadap pandemi, ancaman konflik nuklir, serta kebutuhan negara-negara Selatan untuk fokus memperkuat stabilitas internal.

Diskusi ini menggarisbawahi bahwa perjalanan Indonesia menuju tahun 2050 tidak akan mudah, namun peluang untuk memainkan peran yang lebih signifikan di panggung global tetap terbuka lebar.

“Semangat KAA dan nilai-nilai Pancasila harus menjadi kompas bagi langkah Indonesia ke depan, bukan sekadar menjadi nostalgia sejarah,” tandasnya.

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

PT PMM Keberatan 15 Kontainer Mineral Ekspor Dibongkar Aparat

Minggu, 24 Mei 2026 | 16:43

PT DSI Resmi jadi BUMN dan Siap Buka Rekrutmen

Senin, 25 Mei 2026 | 23:14

Pengacara Blueray Cargo Ragu Amplop Suap Kode 1 Diterima Dirjen Bea Cukai

Selasa, 26 Mei 2026 | 23:19

Blusukan Jokowi Sulit Naikkan Suara PSI, Apalagi Goyang PDIP

Senin, 01 Juni 2026 | 04:00

UPDATE

13 Langkah Komprehensif Kuatkan Rupiah

Rabu, 03 Juni 2026 | 06:11

Dua Guru Magelang Didakwa Korupsi Modus Pungli Peserta PPG

Rabu, 03 Juni 2026 | 06:00

Bukan Dapur Asal Ngebul

Rabu, 03 Juni 2026 | 05:26

Pakai Jaket Gojek Mulyono di Sidang Pledoi, Nadiem Ingin Seret Jokowi?

Rabu, 03 Juni 2026 | 05:18

Putusan MK soal Keterwakilan Kuota Perempuan Berikan Keadilan Gender

Rabu, 03 Juni 2026 | 05:14

Syafrin Liputo Dituntut Bawa Jaksel Lebih Maju, Inklusif, dan Sejahtera

Rabu, 03 Juni 2026 | 05:01

2.081 Polisi Kawal Ketat Piala AFF U-19 2026

Rabu, 03 Juni 2026 | 04:22

Korban Kebakaran Kemayoran

Rabu, 03 Juni 2026 | 04:19

Multipolaritas Harus Jadi Jalan Kerja Sama, Bukan Konfrontasi

Rabu, 03 Juni 2026 | 04:09

KDM Sikat PKL Usai 30 Tahun Berkuasa di Bandung

Rabu, 03 Juni 2026 | 03:45

Selengkapnya