Berita

Profesor Hikmahanto Juwana/Ist

Politik

Pakar HI Kaget Prabowo Temui Xi Jinping Bahas Joint Development Maritim

RABU, 23 APRIL 2025 | 13:55 WIB | LAPORAN: RAIZA ANDINI

Guru Besar Ilmu Hubungan Internasional (HI) Universitas Indonesia Profesor Hikmahanto Juwana sempat terkejut Presiden Prabowo Subianto menyepakati joint development dengan Presiden China Xi Jinping terkait batas wilayah kemaritiman.

Profesor Hikmahanto menuturkan bahwa selama ini China mengklaim 9 garis putus di wilayah Laut China Selatan, namun pihak Indonesia tidak mengakui adanya 9 garis putus tersebut. 

Pasalnya, dalam UU Nomor 18 Tahun 2007 tentang wilayah negara, di pasal 8 ayat 1 disebutkan bahwa wilayah yuridiksi tersebut merupakan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) atau landas kontinen.


“Zona ekonomi eksklusif atau landas kontinen maka Indonesia berbatasan dengan wilayah yurisdiksi Australia, Filipina, India, Malaysia, Papua Nugini, Palao, Thailand, Timor Leste dan Vietnam nggak ada di situ cerita tentang China,” kata Prof. Hikmahanto di Gedung Nusantara II, Kompleks DPR, Senayan, Rabu, 23 April 2025.

Mengetahui adanya aturan tersebut, ia mengaku terkejut lantaran Prabowo dan Xi Jinping membuat statemen akan joint development.

“Waduh saya agak kaget juga maka saya mohon izin saya pertanyakan ini. Apakah kita sudah bergeser sudah mengakui 9 garis putus,” ungkapnya.

“Karena joint development itu harusnya itu kita tumpang tindih kalau selama ini kita kan nggak pernah tumpang tindih karena kita tidak mengakui 9 garis putus itu yang dibuat dari China,” sambung dia.

Sementara itu, lanjut Prof Hikmahanto, China tidak mengakui zona ekonomi eksklusif (ZEE). Namun, pihaknya merasa lega ketika Prabowo ke Amerika Serikat, kesepakatan joint development itu berubah.

“Alhamdulillah ketika Bapak Presiden berkunjung ke Washington DC beberapa waktu setelah itu di dalam joint statement disebutkan joint development lagi tetapi yang digunakan adalah penetapan batas harus sesuai dengan UNCLOS dan merujuk pada putusan Permanent Court Arbitration tahun 2016 yang tidak mengakui klaim dari China atas dasar sejarah,” tutupnya.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Insentif SPPG Dipangkas, Wamenkeu Senang MBG Terus Lakukan Reformasi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:15

Putra Pandeglang jadi Kapolri, Sejarah Baru bagi Banten!

Jumat, 02 Oktober 2026 | 00:43

Dana Kopdes Rp37 Triliun Sudah di Himbara, Tapi Masih Dikunci Kemenkeu

Jumat, 02 Oktober 2026 | 00:20

Bupati Gowa Tidak Ditahan Usai Diperiksa sebagai Tersangka, Ini Sebabnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 23:18

Muhadjir Effendy Menyesal Tak Bisa Maksimal Dongkrak Kesejahteraan Guru

Kamis, 01 Oktober 2026 | 22:33

Kasus Alpriado Osmond Diputus PN Tangerang, Hak Asuh Anak Dimenangkan Ibu

Kamis, 01 Oktober 2026 | 22:06

Saatnya Mahasiswa Kritisi Sistem Dominasi "Fraksi" di Parlemen

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:42

Pertamina Patra Niaga Salurkan LPG 3 Kg ke 958 Kopdes Merah Putih

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:31

Asesmen jadi Fondasi Pembinaan Warga Binaan Lapas Cianjur

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:03

Selengkapnya