Berita

Ilustrasi/Net

Bisnis

Tarif Amerika jadi Biang Kerok, IMF Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Global 2025

RABU, 23 APRIL 2025 | 09:46 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Dampak tarif Amerika Serikat (AS) yang kini mencapai titik tertinggi dalam 100 tahun membuat Dana Moneter Internasional (IMF) memangkas perkiraannya untuk pertumbuhan Amerika Serikat (AS), China, dan sebagian besar negara.

Dalam laporan pembaruan World Economic Outlook yang dirilis Selasa 22 April 2025 waktu setempat, IMF kini memperkirakan pertumbuhan ekonomi global hanya akan mencapai 2,8 persen pada 2025, turun 0,5 poin dari proyeksi Januari. 

Laporan ini disusun hanya dalam 10 hari setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan tarif universal pada hampir semua mitra dagang dan tarif yang lebih tinggi - yang saat ini ditangguhkan. 


Proyeksi 2026 juga diturunkan menjadi 3 persen, dari sebelumnya 3,3 persen.

Inflasi diperkirakan menurun lebih lambat dari ekspektasi pada Januari, mengingat dampak tarif, mencapai 4,3 persen pada 2025. 

IMF menyebut laporan tersebut sebagai "proyeksi referensi" berdasarkan perkembangan hingga 4 April, dengan mengutip kompleksitas dan fluiditas ekstrem dari momen saat ini.

"Kita memasuki era baru karena sistem ekonomi global yang telah beroperasi selama 80 tahun terakhir sedang diatur ulang," kata Kepala Ekonom IMF, Pierre-Olivier Gourinchas.

IMF mengatakan eskalasi ketegangan perdagangan yang cepat dan "tingkat ketidakpastian yang sangat tinggi" tentang kebijakan masa depan akan berdampak signifikan pada aktivitas ekonomi global.

"Ini cukup signifikan dan melanda semua wilayah di dunia. Kita melihat pertumbuhan yang lebih rendah di AS, pertumbuhan yang lebih rendah di kawasan Euro, pertumbuhan yang lebih rendah di China, pertumbuhan yang lebih rendah di bagian lain dunia," ujar Gourinchas.

Prospek pertumbuhan yang lebih lemah menurunkan permintaan Dolar, tetapi penyesuaian di pasar mata uang dan penyeimbangan kembali portofolio yang terlihat hingga saat ini telah berjalan teratur.

IMF memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi AS sebesar 0,9 poin menjadi 1,8 persen pada 2025,  jauh dari realisasi 2,8 persen di 2024.

Inflasi AS diperkirakan tembus 3 persen pada 2025, satu poin lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya. Gourinchas menyebut peluang resesi AS naik dari 25 persen menjadi 37 persen.

Itu berarti Federal Reserve harus sangat waspada dalam menjaga ekspektasi inflasi tetap terjangkar, kata Gourinchas, mencatat bahwa banyak warga Amerika masih terpukul lonjakan inflasi selama pandemi Covid.

Ketika ditanya tentang dampak dari langkah apa pun yang diambil Gedung Putih untuk menyingkirkan Chairman Fed Jerome Powell, Gourinchas mengatakan bahwa "sangat penting" bagi bank sentral untuk tetap independen guna menjaga kredibilitas mereka dalam menangani inflasi.

Negara tetangga Amerika, Kanada dan Meksiko, yang keduanya menjadi sasaran berbagai tarif Trump, juga mengalami pemangkasan proyeksi pertumbuhan. IMF memperkirakan ekonomi Kanada akan tumbuh 1,4 persen pada 2025 dan 1,6 persen pada tahun depan.

Pertumbuhan di Kawasan Euro diperkirakan melambat menjadi 0,8 persen pada 2025 dan 1,2 persen pada 2026, dengan kedua proyeksi menyusut sekitar 0,2 poin persentase dari Januari. 

Pertumbuhan ekonomi Inggris akan mencapai 1,1 persen pada 2025, sekitar 0,5 poin persentase di bawah perkiraan pada Januari, naik menjadi 1,4 persen pada 2026.

Perkiraan pertumbuhan ekonomi China dipangkas menjadi 4 persen untuk 2025 dan 2026, yang mencerminkan revisi ke bawah masing-masing sebesar 0,6 poin persentase dan 0,5 poin persentase dari proyeksi Januari.

Gourinchas mengatakan dampak tarif terhadap China - yang sangat bergantung pada ekspor - sekitar 1,3 poin persentase pada 2025, tetapi hal itu diimbangi oleh langkah-langkah fiskal yang lebih kuat.

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

Praperadilan Dokter Tifa Ditolak, Ini Pertimbangan Hakim

Jumat, 21 Agustus 2026 | 10:25

UPDATE

Jaga Energi dan Cairan, Tantangan 14.000 Pelari Maybank Marathon 2026

Senin, 24 Agustus 2026 | 08:25

Bawa Hasil Riset UGM ke Bursa, SWAP Bidik Dana Segar Rp45 Miliar Lewat IPO\

Senin, 24 Agustus 2026 | 08:14

BEI Agendakan RUPSLB, Catat Syarat Kehadirannya

Senin, 24 Agustus 2026 | 08:00

Iran Anggap Negara Pendukung Perang Ekonomi AS sebagai Musuh

Senin, 24 Agustus 2026 | 07:21

ASBI Laporkan Dugaan Penggelapan ke BEI-OJK, Enam Pihak Jadi Terlapor

Senin, 24 Agustus 2026 | 07:03

Hasil Penelitian Ungkap Air Galon Guna Ulang Tak Berisiko Kanker

Senin, 24 Agustus 2026 | 07:02

Pemuda Katolik NTT Berangkatkan Puluhan Relawan ke Flores

Senin, 24 Agustus 2026 | 06:42

PAN Launching Lapor PAN dan PANsar Murah

Senin, 24 Agustus 2026 | 06:27

Pertina Bawa Polemik Legalitas ke PTUN dan PN Jakpus

Senin, 24 Agustus 2026 | 06:14

TNI AL Berhasil Operasi Patah Tulang Korban Gempa NTT di KRI

Senin, 24 Agustus 2026 | 06:02

Selengkapnya