Berita

Ilustrasi/Net

Bisnis

Proyek Baterai EV Rp130 Trliun Gagal, LG Tarik Diri dari Indonesia Gara-gara Ini

SELASA, 22 APRIL 2025 | 15:44 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Rencana investasi jumbo senilai 11 triliun Won (Rp130 triliun) oleh raksasa baterai asal Korea Selatan, LG Energy Solution batal direalisasikan di Indonesia. 

Seperti dikutip dari media Korea Selatan, Yonhap, seorang pejabat di perusahaan itu menyebut kondisi pasar dan lingkungan menjadi alasan utama hengkangnya mereka dari proyek rantai pasok baterai EV di Tanah Air.

"Mempertimbangkan kondisi pasar dan lingkungan investasi, kami telah memutuskan untuk keluar dari proyek," kata seorang pejabat LG Energy Solution, dikutip Selasa 22 April 2025.


Padahal sebelumnya, pemerintah Indonesia bersama konsorsium yang terdiri dari LG Energy Solution, LG Chem, LX International Corp, dan mitra lainnya, telah menyusun rencana besar untuk membangun ekosistem baterai EV secara menyeluruh. Mulai dari pengadaan bahan baku, produksi prekursor dan katoda, hingga manufaktur sel baterai di dalam negeri.

Namun kini, proyek itu tinggal sejarah. Meski demikian, LG akan tetap melanjutkan proyek lain yang masih berjalan, seperti pembangunan pabrik baterai Hyundai LG Indonesia Green Power (HLI Green Power), hasil kerja sama dengan Hyundai Motor Group.

Pembatalan investasi ini berbuntut spekulasi panas di media sosial. Sejumlah netizen menyoroti kemungkinan hubungan antara langkah LG dan kondisi politik dalam negeri, khususnya pasca disahkannya revisi Undang-undang TNI.

"Tau alasannya apa? RUU TNI disahkan. Ini bukan tanpa alasan, karena negara mereka punya masa lalu yang serupa, jadi kemungkinan mengerti suasananya," tulis salah satu warganet dalam unggahan yang ramai dibicarakan di platform X.

Isu ini juga disorot media Korsel lainnya, New Daily. Dalam laporannya, media tersebut mengakui adanya kekhawatiran sejumlah perusahaan Korea terhadap potensi kembali menguatnya pengaruh militer di Indonesia, yang mereka nilai bisa mengganggu kepastian berusaha.

"Saat Indonesia beralih ke pemerintahan militer, ketegangan meningkat di antara perusahaan-perusahaan domestik yang beroperasi di negara ini. Perusahaan domestik yang mengalami darurat militer di Korea tahun lalu kini menderita ketidakpastian politik bahkan di luar negeri," tulis New Daily.

Media itu juga menyoroti dampak kebijakan domestik Presiden Prabowo Subianto, seperti program makan siang gratis di sekolah, yang bisa mendorong pengalihan anggaran dari insentif pajak bagi investor asing.

"Ada kekhawatiran bahwa perusahaan Korea yang telah menginvestasikan triliunan Won dapat berakhir sebagai pion rezim militer Indonesia. Perusahaan yang belum sepenuhnya melaksanakan investasinya, perlu bersikap hati-hati," kata seorang sumber industri kepada New Daily.

Meski begitu, sampai saat ini, Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani belum buka suara soal kabar pembatalan investasi tersebut.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Insentif SPPG Dipangkas, Wamenkeu Senang MBG Terus Lakukan Reformasi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:15

Putra Pandeglang jadi Kapolri, Sejarah Baru bagi Banten!

Jumat, 02 Oktober 2026 | 00:43

Dana Kopdes Rp37 Triliun Sudah di Himbara, Tapi Masih Dikunci Kemenkeu

Jumat, 02 Oktober 2026 | 00:20

Bupati Gowa Tidak Ditahan Usai Diperiksa sebagai Tersangka, Ini Sebabnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 23:18

Muhadjir Effendy Menyesal Tak Bisa Maksimal Dongkrak Kesejahteraan Guru

Kamis, 01 Oktober 2026 | 22:33

Kasus Alpriado Osmond Diputus PN Tangerang, Hak Asuh Anak Dimenangkan Ibu

Kamis, 01 Oktober 2026 | 22:06

Saatnya Mahasiswa Kritisi Sistem Dominasi "Fraksi" di Parlemen

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:42

Pertamina Patra Niaga Salurkan LPG 3 Kg ke 958 Kopdes Merah Putih

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:31

Asesmen jadi Fondasi Pembinaan Warga Binaan Lapas Cianjur

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:03

Selengkapnya