Berita

Pelaut/Dok Foto: ANTARA

Publika

Harapan Baru Perlindungan Pelaut

Oleh: Syofyan El Comandante*
MINGGU, 20 APRIL 2025 | 22:16 WIB

SURAT Edaran Mahkamah Agung (SEMA) Nomor 2 Tahun 2024 menjadi oase di tengah gurun ketidakpastian hukum bagi awak kapal Indonesia. Di tengah upaya terselubung untuk "mengamankan" isu ketenagakerjaan pelaut di bawah rezim UU Pelayaran yang minim substansi, SEMA ini hadir sebagai penegasan yang tak terbantahkan: hukum ketenagakerjaan adalah payung pelindung terakhir ketika regulasi pelayaran tidak memberikan jawaban yang adil.

Ayat 2 Pasal 337 UU No. 66 Tahun 2024, yang terkesan ingin menafikan relevansi hukum ketenagakerjaan bagi awak kapal, kini mendapatkan penyeimbang yang kuat dari  Mahkamah Agung. SEMA ini secara eksplisit menyatakan bahwa jika KUHD dan UU Pelayaran beserta aturan turunannya tidak mengatur persoalan ketenagakerjaan, maka ketentuan ketenagakerjaanlah yang menjadi pedoman penyelesaian sengketa. Sebuah tamparan keras bagi ego sektoral yang selama ini “enggan” mengakui bahwa awak kapal adalah pekerja dengan hak-hak yang dilindungi oleh undang-undang ketenagakerjaan.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa UU Pelayaran, meskipun mengatur aspek operasional dan keselamatan pelayaran, memiliki keterbatasan signifikan dalam mengatur secara detail hak dan kewajiban awak kapal sebagai pekerja. Kekosongan hukum inilah yang seringkali dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk mengeksploitasi awak kapal.


SEMA No. 2 Tahun 2024 memberikan kejelasan yang mendasar. Ketika terjadi perselisihan hubungan industrial di sektor perkapalan, hakim tidak lagi perlu gamang dalam mencari landasan hukum. Jika UU Pelayaran dan KUHD tidak memberikan jawaban yang memadai terkait isu upah yang tidak dibayar, pemutusan hubungan kerja yang sewenang-wenang, atau pelanggaran hak-hak normatif lainnya, maka Undang-Undang Ketenagakerjaan dan aturan turunannya wajib menjadi rujukan.

Ironisnya, penegasan dari Mahkamah Agung ini seharusnya menjadi wake-up call bagi para pengambil kebijakan, khususnya di Sub Direktorat Kepelautan Perhubungan Laut. Jangan sampai ego sektoral dan keengganan untuk mengakui relevansi hukum ketenagakerjaan terus menghambat perlindungan dan kepastian hukum bagi awak kapal Indonesia. Mereka adalah pekerja yang berhak atas perlindungan yang sama dengan pekerja di sektor lainnya.

SEMA No. 2 Tahun 2024 bukan hanya sekadar surat edaran, melainkan sebuah perintah yang jelas untuk mengedepankan keadilan dan kepastian hukum bagi awak kapal. Para pejabat di sektor kepelautan seharusnya menyambut baik panduan ini dan menjadikannya sebagai landasan utama dalam menyelesaikan setiap perselisihan yang melibatkan awak kapal. Mengabaikan SEMA ini sama dengan mengabaikan amanat keadilan dan merendahkan martabat pekerja di sektor maritim.

Momentum ini harus dimanfaatkan untuk mendorong adanya harmonisasi regulasi yang lebih baik antara UU Pelayaran dan UU Ketenagakerjaan, khususnya dalam mengatur hak-hak awak kapal. SEMA No. 2 Tahun 2024 adalah langkah awal yang positif, namun regulasi yang lebih komprehensif dan implementasi yang tegas di lapangan adalah kunci untuk mewujudkan perlindungan yang sesungguhnya bagi para pahlawan di lautan. Keadilan bagi awak kapal tidak boleh lagi menjadi barang langka di negeri maritim ini.

*Penulis adalah Sekretaris Jenderal Serikat Pekerja SAKTI

Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

Prabowo Tegaskan Indonesia Tidak Takut Ancaman MSCI

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:32

Buruh Usul UMP 2027 Naik 9,5 Persen, Ini Respons Menaker

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:20

Ombudsman Ungkap Titik Rawan Korupsi di Layanan Pertanahan dan Kebencanaan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:19

Kasus CSR BI Jalan di Tempat, MAKI dan ARUKKI Bersiap Ajukan Praperadilan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:12

Pembenahan MBG hingga Program 3 Juta Rumah jadi PR Besar Prabowo

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:59

Begini Jurus BI Stabilkan Rupiah Hadapi Ancaman MSCI hingga Konflik Geopolitik

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:58

Nusron Hadiri Sidang Kabinet Paripurna setelah Dua Kali Absen Pemeriksaan KPK

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:53

PJJ dan WFH Bisa Jadi Opsi Antisipasi Asap Karhutla

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:53

UU Pelindungan Ketenagakerjaan Masih Diproses Setneg, Yassierli Minta Publik Bersabar

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:50

Event Konser hingga Festival Belanja Jadi Mesin Uang Jakarta

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:48

Selengkapnya