Berita

Wisatawan bersantai di pantai di Maafushi, sebuah pulau di Maladewa, pada 22 Oktober 2024/Net

Global

Maladewa Boikot Israel, Tutup Akses Wisatawan dari Negeri Yahudi

RABU, 16 APRIL 2025 | 12:03 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Pemerintah Maladewa secara resmi melarang masuknya warga negara Israel ke wilayahnya, dalam langkah yang disebut sebagai bentuk “solidaritas tegas” terhadap rakyat Palestina.

Keputusan ini diumumkan pada hari Selasa, 15 April 2025 dan langsung diratifikasi oleh Presiden Mohamed Muizzu setelah disetujui oleh parlemen.

“Pengesahan tersebut mencerminkan sikap tegas pemerintah dalam menanggapi kekejaman dan tindakan genosida yang terus berlanjut yang dilakukan oleh Israel terhadap rakyat Palestina,” tulis kantor Presiden Muizzu dalam pernyataan resminya, seperti dimuat AFP.


“Maladewa menegaskan kembali solidaritasnya yang kuat terhadap perjuangan Palestina," tegasnya lagi.

Juru bicara kantor kepresidenan menyampaikan bahwa larangan ini akan segera diterapkan.

Langkah tersebut diambil di tengah meningkatnya tekanan dari partai oposisi dan beberapa sekutu pemerintah agar Maladewa mengambil sikap tegas terhadap agresi Israel di Gaza.

Maladewa, yang dikenal sebagai destinasi wisata eksklusif dengan pantai berpasir putih dan laguna biru yang menakjubkan, sebelumnya pernah mencabut larangan masuk terhadap warga Israel pada awal 1990-an dan sempat memulihkan hubungan pada tahun 2010.

Namun, ketegangan akibat perang Gaza yang kembali pecah pada Oktober 2023 membuat kebijakan itu dikaji ulang.

Data pariwisata menunjukkan bahwa hanya 59 wisatawan asal Israel yang mengunjungi Maladewa pada Februari lalu, dari total 214.000 kedatangan wisatawan asing lainnya.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Israel tahun lalu telah mengimbau warganya untuk menghindari perjalanan ke Maladewa, menyusul eskalasi konflik di Gaza.

Menurut data terbaru, lebih dari 50.000 warga Palestina telah tewas sejak perang dimulai pada Oktober 2023, setelah serangan besar-besaran oleh kelompok Hamas ke wilayah Israel yang menewaskan lebih dari 1.200 orang, mayoritas warga sipil.

Langkah Maladewa ini diperkirakan akan memicu reaksi internasional, namun bagi pemerintah negara kepulauan tersebut, ini adalah bentuk komitmen moral terhadap nasib rakyat Palestina.

Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

KPK Setengah Hati Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:16

Optimisme dan Tantangan Golkar di Era Bahlil Lahadalia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:08

Dibuka Program Madrasah Layak Belajar 2026 untuk 700 Madrasah

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:38

Prabowo dan DPR Harus Dengarkan Desakan Gibran Mundur dari Wapres

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:23

Bantu Kuliner Indonesia Mendunia, Pemerintah Diminta Tiru Thailand

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:01

Lumat Arema, Persija Puncaki Klasemen

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:39

PDIP: Usulan Luhut Cederai Rasa Keadilan Masyarakat

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:19

Infrastruktur Perikanan KNMP di Papua Tengah Diharapkan Dorong Ekonomi Nelayan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:01

Usulan Luhut soal Ubah Definisi Korupsi Membahayakan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:35

Polisi Bunuh Polisi Melonjak Dua Kali Lipat pada 2026

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:15

Selengkapnya