Berita

Tangkapan layar kun TikTok @bestiebag1 yang mengungkap sejumlah tas dari brand mewah dunia dibuat di China/Repro

Bisnis

Perang Dagang Bikin Geger, Tas Branded AS-Eropa Didominasi Made in China

SENIN, 14 APRIL 2025 | 19:40 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan China memicu fenomena baru di media sosial. Langkah Presiden AS Donald Trump yang menerapkan tarif impor hingga 145 persen terhadap produk China pada April 2025 memantik reaksi balik dari para produsen Negeri Tirai Bambu.

Sejumlah unggahan produsen asal China viral di media sosial TikTok usai mengungkap sejumlah brand mewah Barat seperti tas Hermès Birkin, Dior, hingga celana ketat Lululemon sebenarnya dibuat di China dengan biaya produksi yang jauh lebih murah dari harga jualnya.

Melalui video-video yang diberi label "Perang Dagang TikTok" dan "Produsen Tiongkok Tok", mereka memamerkan proses produksi, detail harga unit, bahkan memberikan panduan bagaimana konsumen bisa memesan langsung dari pabrik, untuk menghindari harga ritel yang dibumbui merek.


Salah satu akun, @bagbestie1, bahkan mengklaim 80 persen brand mewah di dunia dibikin oleh pabrik-pabrik di China.

“Beberapa orang menyebut bahwa tag 'made in China' membuat tas tidak bisa terlihat mewah. Namun kenyataannya lebih dari 80 persen tas dari brand ternama di dunia dibuat di China,” tulis akun tersebut dikutip RMOL, Senin 14 April 2025. 

Ia juga mengklaim bahwa tas Hermès Birkin seharga 38 ribu Dolar AS (Rp637 juta) sebenarnya hanya membutuhkan biaya produksi sekitar 1.000 Dolar AS (Rp16 juta).

Sementara celana ketat Lululemon yang dijual seharga 100 Dolar AS (Rp1,6 juta) di Washington, dengan barang yang diproduksi di Yiwu seharga 5-6 Dolar AS (Rp83 ribu-Rp100 ribu) sepasang, berasal dari lini produksi yang sama.

Video lainnya menunjukkan bagaimana produk kebutuhan rumah tangga seperti kapsul deterjen ala Tide Pods hanya dibanderol 1 Dolar AS di China, namun dijual hingga 13 Dolar di pasar Amerika.

Tak hanya sebatas konten pabrik, sebagian video juga berasal dari agen pengiriman dan sourcing yang memberikan saran praktis seperti cara memesan langsung melalui platform seperti Taobao atau bahkan lewat WhatsApp dan WeChat. Beberapa kreator juga membagikan tautan pemesanan di kolom komentar.

Namun, tren ini turut membawa risiko. Sejumlah ahli memperingatkan potensi penipuan dari akun tak resmi yang mengaku sebagai perwakilan pabrik atau menyebarkan tautan mencurigakan.

Fenomena ini mencuat di tengah berakhirnya kebijakan "de minimis AS"—yang sebelumnya memungkinkan barang bernilai rendah dari China dan Hong Kong bebas dari bea masuk. Dengan kebijakan itu dihentikan, semua kiriman kini dikenai tarif tinggi, tanpa memandang nilai barangnya.

Kondisi ini telah menekan bisnis kecil yang sebelumnya mengandalkan pengiriman langsung dari pabrik ke pelanggan AS tanpa gudang lokal. Selain itu, perusahaan besar seperti Nike yang menggantungkan pasokan dari China juga mulai mempertimbangkan relokasi sebagian rantai produksi mereka.

Namun, dampak paling nyata dirasakan langsung oleh konsumen. Di tengah tekanan pengeluaran rumah tangga, harga produk-produk gaya hidup dan fashion yang sudah tinggi berpotensi naik lebih tajam.

Meski solusi memesan langsung dari pabrik belum tentu bertahan dari pengawasan regulator, tren ini mencerminkan keresahan publik atas kenaikan harga akibat proteksionisme.

“Jika barang-barang ini semakin mahal karena tarif, maka wajar saja konsumen mencari tahu bagaimana sebenarnya barang itu dibuat dan mencari jalan memotong rantai distribusi,” demikian tanggapan warganet di tengah fenomena perang dagang ini.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

BKSAP DPR Dukung Menlu Arrmanatha Perkuat Diplomasi Bebas Aktif

Minggu, 04 Oktober 2026 | 14:26

Korea Utara Uji Coba Rudal Berteknologi AI, Terbang Sejauh 1.000 Km

Minggu, 04 Oktober 2026 | 14:10

Kuota Internet Kok Masih Hangus? Ini Penjelasan Komdigi

Minggu, 04 Oktober 2026 | 14:01

Banggar DPR Tekankan Disiplin Fiskal di Tengah Belanja Negara Rp4.106 Triliun

Minggu, 04 Oktober 2026 | 13:53

RUU Migas Ditargetkan Rampung 22 Oktober, DPR Ingatkan Pembahasan Harus Cermat

Minggu, 04 Oktober 2026 | 13:13

Kemenko PM Dorong Kolaborasi Dunia Usaha untuk Pertumbuhan Ekonomi Inklusif

Minggu, 04 Oktober 2026 | 13:09

Rangkap Jabatan Bahlil Harus Dimaksimalkan untuk Selaraskan Kebijakan

Minggu, 04 Oktober 2026 | 13:05

KPK Ungkap Ada Setoran dari Kantah ke Tingkat Pusat ATR/BPN

Minggu, 04 Oktober 2026 | 12:36

Sequis Life Digugat Rp1,27 Miliar ke PN Jakarta Selatan

Minggu, 04 Oktober 2026 | 12:28

AS Usir Dua Delegasi Iran Setelah Sidang Umum PBB

Minggu, 04 Oktober 2026 | 12:17

Selengkapnya