Berita

Ilustrasi/Net

Bisnis

Ekonomi Menyusut, Singapura Longgarkan Kebijakan Moneter Lagi

SENIN, 14 APRIL 2025 | 11:03 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Bank sentral Singapura kembali melonggarkan kebijakan moneternya untuk kedua kalinya tahun ini pada Senin, 14 April 2025.

Dikutip dari Bloomberg, Singapura menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2025 menjadi 0–2 persen, dari sebelumnya 1–3 persen. Penurunan ini disebabkan oleh lemahnya permintaan global, setelah data awal menunjukkan ekonomi Singapura menyusut 0,8 persen pada kuartal pertama (disesuaikan secara musiman).

Otoritas Moneter Singapura (MAS) mengatakan akan sedikit mengurangi laju penguatan mata uang dalam kerangka kebijakan berbasis nilai tukar yang dikenal sebagai S$NEER (Nilai Tukar Efektif Nominal). Namun, mereka tidak mengubah kisaran dan posisi pusat dari kebijakan tersebut.


MAS menyebutkan bahwa negara-negara pengekspor yang terkena tarif akan menghadapi permintaan yang melemah dan tekanan untuk menurunkan harga. Sementara itu, kondisi keuangan global juga semakin ketat karena pasar mulai mempertimbangkan kembali risiko ekonomi global.

"Faktor-faktor ini bisa menjadi hambatan bagi produksi, perdagangan, dan investasi di negara-negara mitra dagang utama Singapura," kata MAS. 

"Jika perdagangan global melemah secara tiba-tiba atau berkepanjangan, sektor-sektor perdagangan di Singapura dan ekonomi secara keseluruhan bisa terkena dampak besar," lanjutnya.

Para ekonom memperkirakan kemungkinan pelonggaran kebijakan lanjutan di paruh kedua tahun ini, terutama jika kondisi ekonomi memburuk.

Ekonom OCBC, Selena Ling, menyatakan bahwa MAS masih memberi ruang bagi penguatan S$NEER agar tetap memiliki cadangan kebijakan. 

"MAS tidak mengambil tindakan ekstrem karena masih banyak ketidakpastian dari kebijakan tarif global yang terus berubah, sehingga dampaknya terhadap pertumbuhan dan inflasi belum jelas," katanya.

Sementara itu, ekonom DBS, Philip Wee, mengatakan bahwa meskipun MAS mencermati risiko perdagangan global, mereka belum menyimpulkan bahwa hal itu akan menyebabkan resesi global.

Jika dibandingkan dengan tahun lalu, ekonomi Singapura tumbuh 3,8 persen pada kuartal pertama 2025, lebih lambat dari 5,0 persen pada kuartal keempat 2024 dan 4,4 persen secara keseluruhan pada tahun lalu.

Ekonom Maybank, Chua Hak Bin, menilai bahwa pelonggaran lebih lanjut menuju kebijakan netral mungkin saja terjadi jika Singapura mengalami resesi teknis. Ia mempertahankan proyeksi pertumbuhan PDB sebesar 2,1 persen, sedikit di atas kisaran baru yang ditetapkan Kementerian Perdagangan dan Industri (MTI), yaitu 0–2 persen.

Selain itu, MAS juga menurunkan proyeksi inflasi inti dan inflasi umum untuk 2025. Inflasi inti diperkirakan 0,5–1,5 persen (dari sebelumnya 1–2 persen), sedangkan inflasi umum diperkirakan 1–2 persen (dari 1,5–2,5 persen).

Setelah pengumuman kebijakan ini, dolar Singapura menguat dan membalikkan kerugiannya sebelumnya.

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Enam Pengusaha Muda Berebut Kursi Ketum HIPMI, Siapa Saja?

Kamis, 22 Januari 2026 | 13:37

Rakyat Lampung Syukuran HGU Sugar Group Companies Diduga Korupsi Rp14,5 Triliun Dicabut

Kamis, 22 Januari 2026 | 18:16

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

UPDATE

Nama Elon Musk hingga Eks Pangeran Inggris Muncul dalam Dokumen Epstein

Minggu, 01 Februari 2026 | 14:00

Said Didu Ungkap Isu Sensitif yang Dibahas Prabowo di K4

Minggu, 01 Februari 2026 | 13:46

Pengoperasian RDF Plant Rorotan Prioritaskan Keselamatan Warga

Minggu, 01 Februari 2026 | 13:18

Presiden Harus Pastikan Kader Masuk Pemerintahan untuk Perbaikan

Minggu, 01 Februari 2026 | 13:03

Danantara Bantah Isu Rombak Direksi Himbara

Minggu, 01 Februari 2026 | 12:45

Ada Kecemasan di Balik Pidato Jokowi

Minggu, 01 Februari 2026 | 12:25

PLN Catat Penjualan Listrik 317,69 TWh, Naik 3,75 Persen Sepanjang 2025

Minggu, 01 Februari 2026 | 12:07

Proses Hukum Berlanjut Meski Uang Pemerasan Perangkat Desa di Pati Dikembalikan

Minggu, 01 Februari 2026 | 12:03

Presiden Sementara Venezuela Janjikan Amnesti untuk Ratusan Tahanan Politik

Minggu, 01 Februari 2026 | 11:27

Kelola 1,7 Juta Hektare, Agrinas Palma Fokus Bangun Fondasi Sawit Berkelanjutan

Minggu, 01 Februari 2026 | 11:13

Selengkapnya