Berita

Ekonom Ichsanuddin Noorsy/Ist

Bisnis

Berikut Saran Ekonom ke Pemerintah Hadapi Perang Dagang Trump

RABU, 09 APRIL 2025 | 17:08 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Perang dagang yang dimulai Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump akibat kebijakan tarif perdagangan, mendorong sejumlah pihak mendorong pemerintah Indonesia merespons dengan memperbaiki struktur dasar ekonomi nasional. 

Ekonom Ichsanuddin Noorsy memandang, penetapan tarif 32 persen barang Indonesia oleh Trump saat ini memang ingin dinegosiasikan pemerintahan Indonesia. 

Namun menurutnya, ada sejumlah hal yang patut dilihat dalam perspektif risiko dan manfaat bagi perekonomian Indonesia. 


"Belajar dari 40 tahun terakhir, jatuhnya nilai tukar (rupiah) dan merupakan nilai tukar terlemah kelima di dunia, memberikan pembelajaran bahwa ada yang salah dalam pemilihan dan pemilahan kebijakan," ujar Ichsan kepada Kantor Berita Politik dan Ekonomi RMOL pada Rabu, 9 April 2025. 

Menurutnya, ada sejumlah aspek ekonomi yang dapat dijadikan tolak ukur dalam memperhatikan adanya ketidakberesan dalam struktur dasar perekonomian dalam negeri. 

"Defisit neraca pembayaran bersamaan dengan defisit anggaran, menunjukkan surplus neraca perdagangan tidak identik dengan membaiknya makroprudensial (nilai tukar, suku bunga, dan inflasi)," tuturnya.

Dia memandang, rentannya makroprudensial tersebut membuat mikroprudensial juga selalu berhadapan dengan rendahnya kepastian struktur biaya produksi. 

"Pasar barang terutama pada barang dan jasa hajat hidup orang banyak, serta pasar uang akan memengaruhi pasar tenaga kerja," urai Ichsan. 

Sebagai contoh, Ichsan menyebut fenomena pemutusan hubungan kerja (PHK) yang terjadi dalam beberapa waktu lalu dan menurutnya terjadi karena disebabkan oleh kebijakan pemerintah.

"Sementara, membaiknya nilai ekspor terhadap utang luar negeri dari 123 persen pada 2013 menjadi 130 persen pada 2024 malah menunjukkan ada yang salah dengan struktural perekonomian Indonesia," ucapnya. 

Di balik perang dagang yang dipicu kebijakan Trump, Ichsan meyakini ada satu hal yang bisa dijadikan mengajarkan kaum teknokrat dan intelektual ultra pembelajaran oleh teknokrat maupun intelektual ekonomi di Indonesia.

"Bahwa melihat ke dalam, mengutamakan kepentingan nasional merupakan hal sangat penting untuk memelihara dan menjaga kedaulatan ekonomi," ungkap dia. 

Oleh karena itu, ada aspek mendasar yang mesti dilakukan pemerintah Presiden Prabowo dalam mengantisipasi tekanan ekonomi global. 

"Penyelamatan ini harus dilakukan bukan hanya dengan menganekaragamkan pasar, atau memperluas pasar. Ada yang lebih penting lagi, yakni memperbaiki kepercayaan sosial, politik dan ekonomi bersamaan dengan mendorong terjadinya inovasi. Sehingga, bangsa ini tidak melulu dijadikan konsumen, atau menjadi budak dan operator atas kemajuan teknologi informasi dan komunikasi," jelasnya. 

"Bangsa Indonesia tetap mempunyai harapan besar untuk bangkit sepanjang bangsa ini setia, tangguh dan teguh mempertahankan janji suci para pendiri republik. Mari berhenti menjadi penjilat dan penghianat karena kita mempunyai kiblat ekonomi sendiri," pungkas Ichsan.

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Istri Wali Kota Madiun Dicecar KPK soal Dugaan Aset Hasil Korupsi

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:22

Giant Sea Wall Pantura Dirancang Lindungi Jutaan Warga dan Jadi Mesin Ekonomi Baru

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:17

Pengamat: Pencoretan Saham Unggulan RI dari MSCI Jadi Tekanan Psikologis Pasar

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:14

Harga Minyak Dunia Terus Merangkak Naik

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:05

Dana PIP 2026 Belum Cair? Begini Cara Mudah Cek Status Pakai NIK dan NISN

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:04

IHSG Ambles 1,59 Persen, Asing Catat Net Sell Rp49,28 Triliun Usai Pengumuman MSCI

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:47

Komisi VIII DPR: Predator Seksual di Ponpes Pati harus Dihukum Seberat-beratnya!

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:43

Singapura Ingin Hidupkan Sijori Lagi Bersama RI dan Malaysia

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:35

Anak Buah Zulhas Dicecar KPK soal Pengaturan Proyek dan Fee Bupati Rejang Lebong

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:33

MUI GPT Bisa Jadi Terobosan Pelayanan Umat Berbasis AI

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:32

Selengkapnya