Berita

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump/Net

Bisnis

Vietnam dan Thailand Limbung Terkena Tarif Baru Trump

SABTU, 05 APRIL 2025 | 07:43 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Sejumlah negara Asia Tenggara terguncang oleh besaran tarif yang diberlakukan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Vietnam, yang terkena tarif sebesar 46 persen, segera bereaksi atas keputusan yang "tidak adil" tersebut,  yang membuat pemerintahan Presiden Luong Cuong menyerukan agar Washington membuka peluang untuk berunding.

Vietnam adalah tempat perusahaan-perusahaan seperti Apple, Nike, dan Samsung Electronics memiliki unit-unit manufaktur yang besar, sangat terekspos kebijakan perdagangan Trump. 


Ekspornya ke Amerika Serikat bernilai 142 miliar Dolar AS tahun lalu, hampir 30 persen dari produk domestik bruto negara itu.

Indeks saham acuan Vietnam jatuh 6,7 persen, menuju penurunan satu hari terbesar sejak Januari 2021. Mata uang Dong melorot 0,7 persen hingga mencapai titik terendah sepanjang masa.

Dikutip dari Reuters, Sabtu 5 April 2025, Menteri Perdagangan Nguyen Hong Dien telah mengirim nota diplomatik ke AS dan mengatakan akan berbicara dengan Perwakilan Dagang AS untuk meninjau kembali keputusan yang dianggapnya tidak adil.

Perdana Menteri Pham Minh Chinh sebelumnya telah memerintahkan pembentukan gugus tugas untuk menangani situasi tersebut setelah rapat kabinet. Ia mencatat target pertumbuhan 8 persen negara tersebut untuk tahun ini tetap tidak berubah.

Hal yang sama juga terjadi di Thailand yang terkena tarif baru Trump sebesar 37 persen. Pemerintah negara itu menyatakan akan melanjutkan perundingan untuk mencoba mengurangi tarif tersebut, yang ternyata jauh lebih besar dari ekspektasi sebesar 11 persen.

"Kita tidak bisa membiarkannya sampai pada titik di mana kita tidak mencapai target PDB," kata Perdana Menteri Thailand Paetongtarn Shinawatra. Ia berharap semuanya akan berjalan dengan baik, dengan mengutip hubungan baik Thailand dengan AS.

Thailand mengekspektasikan pertumbuhan 3 persen pada tahun ini. Negara ini tertinggal dari negara-negara tetangga, hanya tumbuh 2,5 persen tahun lalu, tertahan oleh masalah lonjakan utang rumah tangga.

Indeks saham SET, yang telah terpukul tahun ini karena perekonomian yang lemah dan bencana gempa bumi minggu lalu, merosot 1,1 persen. Mata uang Baht jatuh ke level terendah dalam satu bulan. ING memperkirakan tarif tersebut membahayakan 3 persen PDB negara itu.

Vietnam dan Thailand merupakan eksportir besar ke AS. Kedua negara mendapat keuntungan dari apa "strategi China+1". 

Dengan strategi ini, para produsen, yang berusaha menghindari tarif AS terhadap China, mengalihkan sebagian produksi mereka dari China ke negara-negara tetangga di kawasan tersebut.

Sementara reaksi Malaysia terhadap tarif baru Trump telah mengumumkan bahwa mereka tidak akan mengajukan tarif balasan. 

Malaysia terkena tarif sebesar 24 persen. Kementerian perdagangan mengatakan akan secara aktif bekerja sama dengan otoritas AS "untuk mencari solusi yang akan menegakkan semangat perdagangan bebas dan adil."

Kamboja begitu terpuruk dengan pengenaan tarif baru Trump sebesar 49 persen. Ini akan sangat merugikan industri garmen dan alas kaki negara itu, dan menjadi situasi yang sangat serius bagi perekonomian. 

Sementara Indonesia, yang terkena tarif 32 persen, akan mengupayakan negosiasi dengan Pemerintah AS. 

Tim lintas kementerian dan lembaga, perwakilan Indonesia di AS dan para pelaku usaha nasional, telah berkoordinasi secara intensif untuk persiapan menghadapi tarif resiprokal AS ini. 

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan pengenaan tarif resiprokal AS akan memberikan dampak signifikan terhadap daya saing ekspor Indonesia ke AS.

Menurutnya, pemerintah akan terus melakukan komunikasi dengan Pemerintah AS dalam berbagai tingkatan, termasuk mengirimkan delegasi tingkat tinggi ke Washington DC untuk melakukan negosiasi langsung dengan Pemerintah AS.

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Dua Tahun Cukup bagi Prabowo Mengasuh Geng Solo

Selasa, 13 Oktober 2026 | 13:43

UPDATE

Kabakom Sebut Kebijakan Ekonomi Prabowo Makin Inklusif, Upah Buruh Naik

Jumat, 23 Oktober 2026 | 18:20

B50 jadi Andalan Presiden Prabowo Wujudkan Kemandirian Energi

Jumat, 23 Oktober 2026 | 17:44

Antusiasme Tinggi, Pendaftaran Anugerah Jurnalistik KPU 2026 Diperpanjang

Jumat, 23 Oktober 2026 | 17:26

Masuk PSN, Agrinas Palma Siapkan Model Pengelolaan Sawit Rakyat

Jumat, 23 Oktober 2026 | 17:20

IHSG Parkir Zona Hijau, Rupiah Nyaris Tembus Rp18.100 per Dolar AS

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:54

Kreativitas Jadi Kunci Koperasi Bertahan dan Berkembang

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:41

Menkeu Pastikan Gaji ASN Tak Lewat Kopdes

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:34

Bahlil Dikejar Deadline DIM RUU Migas

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:32

Konser Andrea Bocelli dan Peluang Indonesia Perkuat Diplomasi Budaya

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:23

AsetKu Dukung Literasi Keuangan Bersama AFPI di Jakarta Financial Festival 2026

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:06

Selengkapnya