Berita

Ilustrasi/Ist

Publika

Tiga Resep Dasar Berumur Panjang

JUMAT, 04 APRIL 2025 | 07:01 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

SAAT menghadiri pertemuan ilmiah di Vatikan baru-baru ini, Dr. Venkatraman (Venki) Ramakrishnan, peraih Nobel Kimia 2009, menyempatkan diri menjenguk Paus Fransiskus yang baru saja pulih dari sakit. Dengan penuh hormat, ilmuwan berusia 73 tahun kelahiran Chidambaram, India, itu mendoakan kesehatan sang Paus.

Sebagai ahli biologi struktural, ilmuwan lulusan Ohio University itu menawarkan tiga saran sederhana namun mendasar untuk menjaga umur panjang: diet seimbang, olahraga teratur, dan tidur yang cukup. Saran ini bukan sekadar basa-basi. Ia telah menulis buku “Why We Die”, sebuah eksplorasi ilmiah tentang penuaan dan kematian.

Dalam risetnya, ia menemukan bahwa meskipun sains telah berkembang pesat, kunci umur panjang tetap terletak pada kebiasaan hidup yang sederhana dan alami. Ia berkesimpulan bahwa tidak ada pil ajaib atau teknologi canggih yang bisa menggantikan pola makan sehat, aktivitas fisik, dan tidur yang berkualitas.


Ramakrishnan memenangkan Nobel bersama rekan-rekannya atas penelitiannya tentang ribosom, mesin kecil dalam sel yang menerjemahkan DNA menjadi protein. Penemuan ini berkontribusi besar dalam dunia kedokteran, terutama dalam memahami bagaimana antibiotik bekerja.

Meski fokus utamanya adalah ilmu dasar, ia juga tertarik pada isu-isu kesehatan yang lebih luas, termasuk penuaan dan cara memperpanjang umur dengan kualitas hidup yang baik. Dari penelitiannya, ia merumuskan tiga resep panjang umur untuk kita semua. Rumusnya sederhana saja, namun mesti dilaksanakan secara konsisten.

Pertama, diet seimbang. Ramakrishnan menyarankan pola makan sehat yang minim makanan ultra-proses dan kaya akan buah, sayur, biji-bijian utuh, serta lemak sehat. Diet yang sekaligus menjaga kesehatan perut ini terbukti membantu memperlambat penuaan, memperbaiki metabolisme, dan menurunkan risiko penyakit kronis.

Rumusnya yang kedua ada olahraga teratur. Ini kedengarannya sederhana, namun inilah yang paling banyak ditinggalkan. Meskipun jadwalnya padat, ia sendiri selalu menyempatkan bersepeda hampir 10 km setiap hari dan berolahraga di gym beberapa kali seminggu. Aktivitas fisik ini menjaga kebugarannya hingga usia 73 tahun.

Rumus ketiga, ini yang paling enak: tidur berkualitas. Bukan tidur asal tidur. Ramakrishnan sangat disiplin dalam menjaga waktu tidur. Ia memastikan tidur setidaknya delapan jam per malam, dan ini dilakukannya secara disiplin karena kurang tidur terbukti mempercepat penuaan dan meningkatkan risiko penyakit degeneratif.

Ramakrishnan mengingatkan bahwa meskipun kita hidup di era teknologi canggih, rahasia umur panjang tetap kembali pada kebiasaan dasar yang sering kita abaikan. Bukan laboratorium mutakhir atau terapi mahal yang menjadi solusi utama, melainkan pola hidup sederhana yang telah dikenal sejak dahulu.

Paus Fransiskus, yang telah melewati usia 87 tahun, tersenyum mendengar saran dari ilmuwan yang jauh-jauh datang menjenguknya ini. Mungkin, di antara doa-doanya, ia juga merenungkan betapa umur panjang bukan sekadar anugerah, tetapi juga tanggung jawab pribadi untuk merawat tubuh yang telah diamanahkan kepada kita.

Selain tiga resep utama tersebut, agar hidup lebih bermakna, Dr. Ramakrishnan juga menyoroti pentingnya menghindari isolasi sosial dan memiliki tujuan hidup. Studi menunjukkan bahwa keterlibatan sosial yang aktif dan rasa memiliki tujuan dapat menurunkan risiko penyakit jantung dan depresi pada lansia.

Di tengah gemerlapnya janji teknologi anti-penuaan, dia mengingatkan kita bahwa kunci umur panjang terletak pada kebiasaan sederhana yang sering kita abaikan. Yaitu, resep nenek moyang kita yang masih relevan: makan dengan bijak, bergerak aktif, tidur nyenyak, menjalin hubungan sosial, dan menemukan makna dalam hidup.

Jadi, sebelum tergoda oleh pil ajaib anti-penuaan temuan sains yang terus berkembang, mungkin kita perlu kembali ke dasar-dasar sederhana tersebut. Lagipula, meski tentu kita yakin usia berada di tangan Tuhan, siapa sangka bahwa rahasia hidup panjang justru tersembunyi di balik rutinitas harian yang seolah membosankan tadi?

*Penulis adalah Pemerhati Kebangsaan, Pengasuh Pondok Pesantren Tadabbur Al-Qur'an

Populer

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

UPDATE

OJK Catat Penyaluran Kredit Tembus Rp 8.659 Triliun, Sektor UMKM Mulai Tunjukkan Perbaikan

Rabu, 06 Mei 2026 | 08:14

Trump Mendadak Hentikan Operasi Project Freedom di Selat Hormuz

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:52

Harga Emas Rebound Saat Pasar Pantau Geopolitik dan Data Tenaga Kerja

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:23

Sektor Teknologi Eropa Bangkit dari Keterpurukan, STOXX 600 Menghijau

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:05

Kemenag Fasilitasi Kepindahan Santri Ponpes Ndolo Kusumo

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:45

Dana Wakaf Baitul Asyi untuk Jemaah Haji Aceh Diusulkan Naik

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:32

Rudy Mas’ud di Ujung Tanduk

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:09

Rakyat Antipati dengan PSI

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:38

10 Orang Jadi Korban Penyiraman Air Keras Kurir Ekspedisi

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:19

Kapal Supertanker Iran Masuk RI Bukan Dagang Biasa

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:08

Selengkapnya