Berita

Ilustrasi/Ist

Publika

Diplomasi Indonesia dan Konflik Ukraina-Rusia

Oleh: Laksma TNI (Purn) Jaya Darmawan, M.Tr.Opsla*
MINGGU, 30 MARET 2025 | 04:39 WIB

KEMENTERIAN Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) menegaskan bahwa hingga saat ini, Indonesia belum menerima permintaan resmi untuk mengirim pasukan penjaga perdamaian ke perbatasan Rusia-Ukraina. 

Pernyataan ini disampaikan oleh Jurubicara Kemlu RI, Rolliansyah ‘Roy’ Soemirat, pada 27 Maret 2025, sebagai respons atas isu yang beredar terkait kemungkinan partisipasi Indonesia dalam misi penjaga perdamaian di kawasan konflik tersebut.

“Pemerintah Indonesia terus mengikuti perkembangan situasi di Ukraina dan mendukung penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi yang inklusif. Hingga saat ini, tidak ada permintaan resmi yang diterima oleh Indonesia untuk mengirim pasukan penjaga perdamaian ke wilayah perbatasan Rusia-Ukraina,” ujar Soemirat dalam konferensi pers di Jakarta.


Pernyataan ini muncul di tengah perdebatan global mengenai pembentukan pasukan penjaga perdamaian pasca-kesepakatan gencatan senjata antara Rusia dan Ukraina. Sejumlah negara Barat yang menjadi sekutu Ukraina dikabarkan tengah mempertimbangkan pengiriman pasukan penjaga perdamaian ke perbatasan sebagai bagian dari upaya memastikan stabilitas dan mencegah eskalasi konflik.

Usulan Pembentukan Pasukan Perdamaian Multinasional

Dalam beberapa pekan terakhir, muncul wacana bahwa pasukan penjaga perdamaian yang akan ditempatkan di perbatasan Rusia-Ukraina dapat terdiri dari personel dari negara-negara netral seperti Indonesia, India, Brasil, dan Arab Saudi. Keempat negara ini dinilai memiliki posisi yang lebih seimbang dalam diplomasi global dan bukan bagian dari blok militer NATO maupun sekutu Rusia, sehingga dapat diterima oleh kedua pihak yang bertikai.

Selain itu, beberapa sekutu utama Ukraina seperti Inggris dan Prancis juga mengusulkan pembentukan pasukan penjaga perdamaian di bawah komando Eropa dan negara-negara Persemakmuran. Skema ini diperkirakan akan melibatkan pasukan dari Jerman, Kanada, Australia, Polandia, dan negara-negara Nordik seperti Swedia, Norwegia, dan Finlandia. Koalisi ini disebut-sebut akan mengerahkan pasukan dengan jumlah berkisar antara 10.000 hingga 30.000 personel yang akan ditempatkan di berbagai titik strategis di perbatasan.

Rencana ini masih dalam tahap pembahasan di berbagai forum internasional, termasuk di tingkat PBB dan NATO. Beberapa negara NATO, seperti Amerika Serikat dan Turki, cenderung berhati-hati dalam mengambil keputusan karena khawatir hal ini dapat memperburuk hubungan dengan Rusia. Sementara itu, negara-negara netral seperti Swiss dan Austria juga diminta untuk mempertimbangkan partisipasi mereka dalam misi ini sebagai bagian dari upaya kemanusiaan.

Posisi Indonesia: Diplomasi dan Netralitas

Bagi Indonesia, kebijakan luar negeri yang bebas aktif menjadi pertimbangan utama dalam merespons isu ini. Pemerintah Indonesia menegaskan bahwa pihaknya akan terus mendorong pendekatan diplomasi dan penyelesaian konflik melalui jalur negosiasi. Indonesia juga telah berulang kali menekankan pentingnya solusi damai dalam berbagai forum internasional, termasuk di PBB, G20, dan ASEAN.

Indonesia memiliki sejarah panjang dalam mengirim pasukan penjaga perdamaian di bawah bendera United Nations Peacekeeping Forces (UNPKF), seperti dalam misi di Kongo, Lebanon, dan Sudan. Namun, keterlibatan dalam konflik yang melibatkan kekuatan besar seperti Rusia dan NATO akan membutuhkan pertimbangan yang lebih mendalam, terutama terkait dampaknya terhadap hubungan bilateral Indonesia dengan kedua pihak.

Meskipun demikian, Indonesia tetap membuka kemungkinan untuk berkontribusi dalam upaya perdamaian, baik melalui jalur diplomasi maupun misi kemanusiaan. Pemerintah Indonesia juga akan terus memantau perkembangan situasi di Ukraina dan memastikan bahwa kebijakan luar negeri tetap selaras dengan prinsip-prinsip perdamaian dan kepentingan nasional.

Saat ini, komunitas internasional masih menunggu perkembangan lebih lanjut terkait keputusan akhir mengenai pembentukan pasukan penjaga perdamaian di perbatasan Rusia-Ukraina. Sementara itu, Indonesia tetap berpegang pada prinsip diplomasi sebagai jalan terbaik untuk menyelesaikan konflik global.

*Penulis adalah pemerhati masalah kebangsaan

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Menteri P2MI Didesak Terbitkan Aturan Transisi SIUKAK-SIP3MI

Selasa, 29 September 2026 | 03:59

Ombudsman Diminta Tindaklanjuti Secara Terbuka Temuan di Lapas Cibinong

Selasa, 29 September 2026 | 03:43

KPK Diminta Periksa Petinggi Summarecon Terkait Aliran Uang ke Pejabat

Selasa, 29 September 2026 | 03:23

28.620 Manajer KDKMP Terima SK, Penempatan Diserahkan ke Agrinas

Selasa, 29 September 2026 | 02:55

Dunia Butuh Penguatan Multilateralisme di Tengah Geopolitik yang Tak Pasti

Selasa, 29 September 2026 | 02:25

PHE Ajak Mahasiswa Kenali Industri Hulu Migas Lewat Upstream Youth Champs 2026

Selasa, 29 September 2026 | 01:56

Polisi Pastikan Bupati Gowa Sitti Husniah Dicekal ke Luar Negeri

Selasa, 29 September 2026 | 01:26

Menhan Sjafrie Serahkan 12 Ranpur Amfibi AAV M-35 Buatan AS ke Marinir

Selasa, 29 September 2026 | 00:47

BEI Buka Short Selling Mulai 1 Oktober, Begini Cara Kerja dan Risikonya

Selasa, 29 September 2026 | 00:20

KPK Diminta Tidak Tebang Pilih Usut Kasus Korupsi Kementerian ATR/BPN

Senin, 28 September 2026 | 23:48

Selengkapnya