Berita

Ilustrasi/RMOL

Bisnis

Jerman Balas Dendam ke AS, Tiap Update iPhone Bakal Kena Biaya

SABTU, 29 MARET 2025 | 12:59 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Jerman berencana menerapkan biaya tambahan pada setiap pembaruan perangkat lunak iPhone.

Langkah ini sebagai respons terhadap kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang memberlakukan tarif impor sebesar 25 persen untuk mobil dan suku cadang dari Uni Eropa (UE).

Dikutip dari RT, Sabtu 29 Maret 2025, Menteri Luar Negeri Jerman, Annalena Baerbock, mengusulkan kebijakan ini dalam Konferensi Eropa Berlin, yang berlangsung Kamis 27 Maret 2025. 
Ia merujuk pada Undang-Undang Layanan Digital (DSA) Uni Eropa yang memungkinkan blok tersebut mengambil tindakan terhadap tekanan perdagangan dari luar.

Ia merujuk pada Undang-Undang Layanan Digital (DSA) Uni Eropa yang memungkinkan blok tersebut mengambil tindakan terhadap tekanan perdagangan dari luar.
"Jika pihak lain menetapkan tarif 25 persen, kami juga punya cara untuk merespons," kata Baerbock.

Salah satu opsi yang ia ajukan adalah mengenakan pungutan kecil pada setiap pembaruan perangkat lunak iPhone.

"Berapa kali kita memperbarui iPhone dalam setahun? Tambahkan biaya 10 sen pada setiap pembaruan, itu bisa menghasilkan pendapatan besar bagi Eropa, meskipun mungkin ada pihak yang tidak menyukainya," tambahnya.

Menurut data Statista, ada sekitar 165 juta pengguna iPhone di Uni Eropa. Jika setiap iPhone menerima 6 hingga 10 pembaruan per tahun, maka pungutan 0,10 Euro per pembaruan bisa menghasilkan sekitar 165 juta Euro (sekitar Rp2,8 triliun) per tahun.

Februari lalu Trump mengatakan akan mengenakan tarif 25 persen untuk semua impor dari UE, dengan alasan bahwa blok tersebut dirancang untuk "menipu" Amerika. Kebijakan ini mulai berlaku pada 12 Maret setelah berakhirnya pengecualian bea masuk untuk baja dan aluminium dari UE. 

Sebagai balasan, Uni Eropa berencana memberlakukan tarif baru senilai 26 miliar Euro terhadap produk AS mulai April.

Sengketa dagang serupa terjadi selama masa jabatan pertama Trump, ketika ia mengenakan tarif sebesar 25 persen untuk baja Eropa dan 10 persen untuk aluminium, yang memicu tindakan balasan dari Brussels. Tindakan tersebut berdampak pada perdagangan trans atlantik senilai lebih dari 10 miliar Dolar AS.

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

PT PMM Keberatan 15 Kontainer Mineral Ekspor Dibongkar Aparat

Minggu, 24 Mei 2026 | 16:43

PT DSI Resmi jadi BUMN dan Siap Buka Rekrutmen

Senin, 25 Mei 2026 | 23:14

Pengacara Blueray Cargo Ragu Amplop Suap Kode 1 Diterima Dirjen Bea Cukai

Selasa, 26 Mei 2026 | 23:19

Blusukan Jokowi Sulit Naikkan Suara PSI, Apalagi Goyang PDIP

Senin, 01 Juni 2026 | 04:00

UPDATE

Meluruskan Hari Lahirnya Pancasila: Dari Piagam Jakarta Hingga Dekrit Presiden

Selasa, 02 Juni 2026 | 20:01

Kuasa Hukum Gus Yaqut Sebut Tidak Ada Konfirmasi Aliran Dana

Selasa, 02 Juni 2026 | 19:46

RI Impor Emas 2,5 Ton pada April 2026, Australia jadi Pemasok Terbesar

Selasa, 02 Juni 2026 | 19:16

Saksi Perkara Maluku, Thobahul Aftoni Akui Mardiono Ketum PPP

Selasa, 02 Juni 2026 | 19:13

BEM PTMA: MBG adalah Investasi Jangka Panjang Menuju Indonesia Emas

Selasa, 02 Juni 2026 | 19:09

Gerinda Sebut Lawatan Prabowo Perkokoh Posisi Indonesia di Kancah Dunia

Selasa, 02 Juni 2026 | 19:08

KPK Tahan Tiga Tersangka Korupsi Pembangunan Gedung Pemkab Lamongan

Selasa, 02 Juni 2026 | 19:05

Habiburokhman: Zaman Pak Dino Sehebat Apa sih?

Selasa, 02 Juni 2026 | 18:50

Daftar Harga LPG 5,5 kg dan 12 Kg Terbaru, Cek Tiap Provinsi

Selasa, 02 Juni 2026 | 18:47

SPI: Nasionalisme dan Kepastian Hukum Harus Seimbang

Selasa, 02 Juni 2026 | 18:46

Selengkapnya