Berita

Jusuf Kalla dan Mahfud MD (tangkapan layar/RMOL)

Politik

Berikut Kesaksian JK dan Mahfud soal Keteladanan Megawati di 2004

JUMAT, 28 MARET 2025 | 05:20 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Sosok Presiden Ke-5 RI Megawati Soekarnoputri diakui sebagai negarawan yang menegakkan demokrasi di Indonesia. Hal itu terlihat saat Megawati maju sebagai calon petahana yang mengikuti kontestasi Pilpres 2004.

Megawati yang saat itu berpasangan dengan KH Hasyim Muzadi harus mengakui keunggulan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla (SBY-JK).

Dikutip dalam video pendek yang diunggah akun Facebook genbanteng, JK menyatakan bahwa Megawati merupakan politisi yang paling objektif. JK saat itu merupakan Menko Kesra di era Megawati yang mengundurkan diri untuk mengikuti kontestasi Pilpres 2004.


“Karena dia incumbent, tapi dia tidak pakai (alat negara). Jadi kita hormati beliau, walaupun kalah, tapi kalah dengan ksatria,” ungkap JK dikutip RMOL pada Jumat, 28 Maret 2025.

Mantan Ketua Umum Golkar itu menyatakan Megawati bisa saja menggunakan seluruh alat negara, namun hal itu tidak dilakukan.

Selain JK, dalam video tersebut juga ada mantan cawapres 2024, Mahfud MD yang menambahkan kesaksiannya soal sikap negarawan Megawati di Pilpres 2004.

Mahfud yang ketika 2004 menjadi politikus PKB itu mengungkap bahwa Megawati sama sekali tidak mengintervensi KPU.

“Orang KPU bilang Bu Mega itu tidak mau ikut campur soal KPU, nggak mau intervensi. Orang KPU bilang, Bu Mega datang ke KPU ‘kamu perlu apa?’ alat ditawari oleh Bu Mega, ‘kerja yang benar, yang baik, yang adil gitu. Jadi Bu Mega tidak ikut campur waktu 2004,” ujar Mahfud.  

“Dia incumbent, kalau mau bisa dipakai semua alat, TNI, Polri di bawah dia semua, tapi ndak ada dipakai, birokrasi (juga),” tambahnya.

Pernyataan dan pengakuan kedua tokoh seakan membandingkan dengan yang terjadi pada Pilpres 2024. Terlihat rezim petahana dengan terang-terangan memberikan dukungan kepada salah satu pasangan dengan berbagai cara.

Populer

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

UPDATE

Keputusan Pemerintah Batasi Ekspor Gas ke Singapura Sangat Tepat

Selasa, 27 Oktober 2026 | 01:57

IHSG, Selat Malaka dan Ujian Kedaulatan Ekonomi Indonesia

Selasa, 27 Oktober 2026 | 01:41

MKD Diminta Bersikap Tegas Sikapi Laporan Dugaan KDRT Anggota Dewan

Selasa, 27 Oktober 2026 | 01:20

Singapura, Dino Patti Djalal dan Opini Sesat

Selasa, 27 Oktober 2026 | 00:45

Bareskrim Tahan WN Taiwan Manajer Kapal Pengangkut 1 Ton Ketamin

Selasa, 27 Oktober 2026 | 00:26

Haji Isam dan Kutukan Demokrasi Mahal

Senin, 26 Oktober 2026 | 23:50

Kinerja Sektor Hukum Era Prabowo-Gibran Makin Bertaring

Senin, 26 Oktober 2026 | 23:24

Temui Mendikdasmen, DPR Minta Gerakan Lawan Bullying Diperkuat Lintas Sektor

Senin, 26 Oktober 2026 | 23:09

Balas Singapura! Bahlil Bakal Bangun PLTN di Batam

Senin, 26 Oktober 2026 | 22:18

Pelabuhan Sabang Didorong jadi Hub Internasional yang Ramah Lingkungan

Senin, 26 Oktober 2026 | 22:17

Selengkapnya