Berita

Wapres AS J D Vance dan istri/Net

Dunia

Usai Dikecam, Wapres AS Pilih Temani Istrinya Kunjungi Greenland

RABU, 26 MARET 2025 | 14:09 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance dijadwalkan mengunjungi Pangkalan Luar Angkasa Pituffik di Greenland pada Jumat besok, 28 Maret 2025.

Kunjungan ini merupakan bagian dari upaya pemerintahan Trump untuk memperkuat posisi AS di kawasan Arktik. 

Ini sekaligus menambah ketegangan diplomatik antara Washington dan Kopenhagen, mengingat Greenland adalah wilayah otonomi Denmark yang tengah menghadapi tekanan internasional terkait isu strategis dan keamanan.


Dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada hari Selasa, 25 Maret 2025 kantor Vance mengungkapkan bahwa perjalanan ini bertujuan untuk memberikan pengarahan mengenai masalah keamanan Arktik, serta untuk bertemu dengan anggota angkatan bersenjata AS yang ditempatkan di pangkalan tersebut. 

Vance, yang dikenal sebagai suara keras Trump dalam masalah kebijakan luar negeri, akan membawa serta istrinya, Usha Vance, dalam kunjungan ini. 

Wapres AS itu sendiri menjelaskan dengan ringan bahwa keputusannya untuk ikut serta disebabkan oleh banyaknya tanggapan negatif dari pemimpin Greenland terkait kunjungan istrinya ke sana.

"Ada begitu banyak 'kegembiraan' seputar kunjungan Usha ke Greenland pada hari Jumat ini sehingga saya memutuskan bahwa saya tidak ingin dia bersenang-senang sendirian, jadi saya akan bergabung dengannya," ujar Vance dalam sebuah video yang dipublikasikan, seperti dimuat Reuters.

Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen, menyuarakan kritik terhadap rencana kunjungan tersebut, yang dianggapnya sebagai bentuk "tekanan yang tidak dapat diterima" terhadap Greenland dan Denmark. 

Frederiksen menegaskan bahwa pengaturan kunjungan pribadi dengan perwakilan resmi negara lain tidak seharusnya dilakukan tanpa persetujuan pemerintah Denmark.

Kunjungan Vance ke Greenland ini bertepatan dengan ketegangan politik di wilayah tersebut, di mana Greenland tengah berusaha merumuskan pemerintahan koalisi baru setelah pemilihan umum pada 11 Maret. 

Hal ini semakin memperumit situasi, mengingat Greenland memiliki cadangan mineral dan minyak yang sangat potensial, meskipun eksplorasi terhadap sumber daya alam tersebut telah dibatasi.

Keamanan Arktik kini menjadi prioritas utama bagi AS, terutama dengan meningkatnya minat negara-negara besar seperti China dan Rusia terhadap kawasan tersebut, yang semakin terbuka akibat perubahan iklim global. 

Trump, yang kembali berkuasa pada Januari lalu, telah menegaskan bahwa Amerika Serikat memiliki hak untuk mengambil alih Greenland, dengan alasan demi memperkuat keamanan nasional.

"Kami ingin menyegarkan kembali keamanan rakyat Greenland," ujar Vance, yang berbicara atas nama Presiden Trump. 

"Negara-negara lain berusaha menggunakan wilayah ini untuk mengancam Amerika Serikat, mengancam Kanada, dan tentu saja, mengancam rakyat Greenland," kata dia lagi.

Trump juga baru-baru ini membuat pernyataan kontroversial terkait Kanada, dengan mengatakan bahwa Kanada harus menjadi "negara bagian ke-51" AS. 

Pernyataan ini semakin menambah ketegangan dalam hubungan antara Amerika Serikat dan negara-negara tetangga, termasuk Denmark.

Sementara itu, Perdana Menteri Greenland yang akan lengser, Mute Egede, mengungkapkan bahwa Penasihat Keamanan Nasional AS Mike Waltz dan Menteri Energi Chris Wright juga dijadwalkan untuk mengunjungi Greenland dalam minggu ini, menunjukkan bahwa intensitas diplomasi AS di wilayah tersebut semakin meningkat.

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Enam Pengusaha Muda Berebut Kursi Ketum HIPMI, Siapa Saja?

Kamis, 22 Januari 2026 | 13:37

Rakyat Lampung Syukuran HGU Sugar Group Companies Diduga Korupsi Rp14,5 Triliun Dicabut

Kamis, 22 Januari 2026 | 18:16

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

UPDATE

Nama Elon Musk hingga Eks Pangeran Inggris Muncul dalam Dokumen Epstein

Minggu, 01 Februari 2026 | 14:00

Said Didu Ungkap Isu Sensitif yang Dibahas Prabowo di K4

Minggu, 01 Februari 2026 | 13:46

Pengoperasian RDF Plant Rorotan Prioritaskan Keselamatan Warga

Minggu, 01 Februari 2026 | 13:18

Presiden Harus Pastikan Kader Masuk Pemerintahan untuk Perbaikan

Minggu, 01 Februari 2026 | 13:03

Danantara Bantah Isu Rombak Direksi Himbara

Minggu, 01 Februari 2026 | 12:45

Ada Kecemasan di Balik Pidato Jokowi

Minggu, 01 Februari 2026 | 12:25

PLN Catat Penjualan Listrik 317,69 TWh, Naik 3,75 Persen Sepanjang 2025

Minggu, 01 Februari 2026 | 12:07

Proses Hukum Berlanjut Meski Uang Pemerasan Perangkat Desa di Pati Dikembalikan

Minggu, 01 Februari 2026 | 12:03

Presiden Sementara Venezuela Janjikan Amnesti untuk Ratusan Tahanan Politik

Minggu, 01 Februari 2026 | 11:27

Kelola 1,7 Juta Hektare, Agrinas Palma Fokus Bangun Fondasi Sawit Berkelanjutan

Minggu, 01 Februari 2026 | 11:13

Selengkapnya