Berita

Bendera Ukraina dan Rusia/Net

Dunia

Rusia-Ukraina Sepakat Gencatan Senjata di Laut Hitam dan Pabrik Energi

RABU, 26 MARET 2025 | 10:16 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Amerika Serikat berhasil menengahi kesepakatan terpisah antara Rusia dan Ukraina untuk mencapai gencatan senjata di Laut Hitam serta menerapkan larangan serangan terhadap fasilitas energi masing-masing negara.

 Kesepakatan ini, yang dicapai di Arab Saudi, bertujuan untuk memastikan keamanan navigasi di Laut Hitam dan mengurangi dampak serangan terhadap infrastruktur energi sipil, yang telah menjadi sasaran utama dalam perang yang telah berlangsung selama tiga tahun tersebut.

Menurut sumber-sumber yang terlibat dalam perundingan, kedua negara sepakat untuk menegakkan kesepakatan ini, dengan AS bertindak sebagai penjamin yang akan mengawasi pelaksanaan kesepakatan tersebut. 


Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, menegaskan jika Rusia melanggar ini, maka ia akan mengadukan langsung pada Presiden Donald Trump. 

"Jika mereka melanggar, ini buktinya, kami meminta sanksi, kami meminta senjata, dan lain-lain,” ujarnya dalam sebuah konferensi pers di Kyiv, seperti dimuat Reuters pada Rabu, 26 Maret 2025. 

Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, mengungkapkan pandangannya yang lebih skeptis terhadap kesepakatan ini. 

"Kami akan membutuhkan jaminan yang jelas. Dan mengingat pengalaman menyedihkan dari kesepakatan hanya dengan Kyiv, jaminan tersebut hanya dapat menjadi hasil perintah dari Washington kepada Zelenskyy dan timnya untuk melakukan satu hal dan bukan yang lain," ungkap Lavrov.

Kesepakatan ini muncul setelah pembicaraan yang diprakarsai oleh Trump, yang bertekad untuk segera mengakhiri perang dan merestrukturisasi posisi Washington terhadap konflik ini. 

Sebelumnya, AS telah mendukung Ukraina secara tegas, namun kini tampaknya ada kecenderungan untuk mengadopsi pendekatan yang lebih simpatik terhadap Rusia, dengan tujuan untuk meredakan ketegangan yang sudah berlangsung lama.

Sebagai bagian dari kesepakatan, Washington berjanji untuk membantu mengembalikan akses Rusia ke pasar ekspor pertanian dan pupuk, yang sebelumnya terhambat oleh sanksi internasional. Kremlin menuntut pencabutan beberapa sanksi tersebut agar kesepakatan ini dapat berjalan efektif.

Menteri Pertahanan Ukraina, Rustem Umerov, memberikan peringatan tegas, dengan mengatakan bahwa Ukraina akan menganggap setiap pergerakan kapal militer Rusia di luar bagian timur Laut Hitam sebagai pelanggaran, yang berpotensi mengancam keselamatan dan keamanan nasional. 

"Dalam hal ini, Ukraina akan memiliki hak penuh untuk membela diri," tegasnya.

Di sisi lain, Rusia telah mengklaim bahwa serangan terhadap infrastruktur energi Ukraina adalah hal yang sah, karena jaringan energi tersebut mendukung kemampuan Ukraina untuk berperang.

Sementara itu, Ukraina menanggapi dengan meluncurkan serangan jarak jauh terhadap fasilitas energi Rusia, yang dianggap sebagai penyedia bahan bakar untuk pasukan Rusia.

Kesepakatan ini berpotensi menjadi langkah penting menuju perundingan damai yang lebih luas. 

Trump berjanji untuk mengakhiri perang ini dengan cepat dan efektif, sebuah janji yang ia tekankan saat mencalonkan diri sebagai presiden.

"Kami ingin kedua belah pihak segera mengakhiri perang ini,” ujar Trump dalam pernyataan yang disampaikan setelah kesepakatan tercapai.

Namun, ada kekhawatiran di kalangan negara-negara Eropa dan sekutu-sekutu Ukraina, bahwa Trump mungkin tergesa-gesa dalam mencapai kesepakatan dengan Moskow. 

Mereka khawatir bahwa keputusan cepat dapat berisiko merugikan keamanan mereka dan mengalah pada tuntutan Rusia, termasuk menyerahkan wilayah yang diklaim oleh Rusia dan mengabaikan aspirasi Ukraina untuk bergabung dengan NATO.

Kesepakatan ini juga memiliki dampak signifikan terhadap ekonomi global, terutama terkait dengan ekspor biji-bijian Ukraina, yang sempat terhambat akibat blokade laut yang dilakukan oleh Rusia. Sejak 2023, 

Ukraina telah berhasil membuka kembali pelabuhannya di Laut Hitam, meskipun perjanjian yang difasilitasi oleh PBB untuk pengiriman makanan melalui laut sebelumnya gagal.

Rusia dan Ukraina juga telah saling menyerang fasilitas energi satu sama lain selama perang ini, yang telah mempengaruhi pasokan energi global. 

Dengan adanya larangan serangan terhadap fasilitas energi, diharapkan dapat mengurangi dampak terhadap pasar energi internasional.

Meskipun kesepakatan ini dapat menjadi titik terang dalam perundingan, masih banyak tantangan yang harus dihadapi, baik dari sisi implementasi maupun dari segi kesepakatan lebih luas terkait gencatan senjata penuh.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Andre Rosiade Sambangi Bareskrim Polri Usai Nenek Penolak Tambang Ilegal Dipukuli

Senin, 12 Januari 2026 | 14:15

Cuaca Ekstrem Masih Akan Melanda Jakarta

Senin, 12 Januari 2026 | 14:10

Bitcoin Melambung, Tembus 92.000 Dolar AS

Senin, 12 Januari 2026 | 14:08

Sertifikat Tanah Gratis bagi Korban Bencana Bukti Kehadiran Negara

Senin, 12 Januari 2026 | 14:03

KPK Panggil 10 Saksi Kasus OTT Bupati Lampung Tengah Ardito Wijaya

Senin, 12 Januari 2026 | 14:03

Prabowo Terharu dan Bangga Resmikan 166 Sekolah Rakyat di Banjarbaru

Senin, 12 Januari 2026 | 13:52

Kasus Kuota Haji, Komisi VIII Minta KPK Transparan dan Profesional

Senin, 12 Januari 2026 | 13:40

KPK Periksa Pengurus PWNU DKI Jakarta Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji

Senin, 12 Januari 2026 | 13:12

Prabowo Tinjau Sekolah Rakyat Banjarbaru, Ada Fasilitas Smartboard hingga Laptop Persiswa

Senin, 12 Januari 2026 | 13:10

Air Naik hingga Sepinggang, Warga Aspol Pondok Karya Dievakuasi Polisi

Senin, 12 Januari 2026 | 13:04

Selengkapnya