Berita

Ilustrasi/TV One News

Bisnis

Pengamat Kritik Sri Mulyani: Ekonomi RI Anjlok karena Faktor Domestik, Bukan Gara-gara Trump

JUMAT, 21 MARET 2025 | 12:07 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Pengamat Ekonomi Yanuar Rizki mengkritik sikap Menteri Keuangan Sri Mulyani yang dinilainya terlalu sering menyalahkan faktor eksternal, terutama kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, atas perlambatan ekonomi Indonesia. 

Menurut Yanuar, Trump yang baru menjabat 20 Januari 2025, tidak bisa dijadikan kambing hitam atas situasi ekonomi nasional yang sudah memburuk. 

"Kalau pun iya gara-gara Trump, terus mau ngapain? Padahal Trump baru menjabat. Yang menarik kan gini, apa benar kita memahami Trump, gitu loh. Jangan-jangan kita ini biar gampang saja ngomong (menyalahkan) Trump," ujar Yanuar, dikutip RMOL dalam YouTube Forum Keadilan TV pada Jumat 21 Maret 2025.


Ia menjelaskan bahwa anjloknya ekonomi Indonesia lebih disebabkan oleh faktor domestik, termasuk konsumsi yang melambat, penurunan penerimaan pajak, dan meningkatnya defisit fiskal yang berujung pada turunnya peringkat surat utang negara dan  membuat investor enggan membeli surat utang.

“PPN turun itu cerminan konsumsi. Clear banget kalau PPN turun berarti masyarakat juga sudah tidak konsumsi. Kemudian PPH badannya juga turun artinya sinyal PHK kan memang sudah kejadian. Jadi menurutku on curve sekarang itu kita sudah berada dalam posisi itu jangan lagi terus kita ngomong ini gara-gara Trump,” tegasnya.

Yanuar juga menyoroti kebijakan Trump yang lebih didasarkan pada strategi negosiasi dan permainan isu di pasar keuangan, bukan keputusan yang langsung berdampak pada ekonomi Indonesia dalam waktu singkat. 

"DNA-nya Trump itu pemain equity, pemain saham. Dia main isu, mancing lawan bergerak, baru nanti pada akhirnya melihat gerakan lawan, memahami gerakan lawan. Nah, baru nge-deal di situ, kan gitu, kira-kira (seperti dengan Kanada)," jelasnya.

Dengan kondisi saat ini, Yanuar menekankan bahwa pemerintah seharusnya fokus pada mitigasi risiko ekonomi secara internal, bukan terus-menerus mencari alasan dari faktor luar. 

“Jadi sebenarnya kalau kita sekarang ngomong seperti ini yang harus kita lakukan itu kan mitigasi risiko di depan kurva,” pungkasnya.

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

UPDATE

Insiden di Lebanon Selatan Tak Terlepas dari Eskalasi Israel-Iran

Jumat, 03 April 2026 | 10:01

Emas Antam Ambruk Rp85 Ribu, Termurah Dibanderol Rp1,4 Juta

Jumat, 03 April 2026 | 09:54

UNIFIL Gelar Upacara Penghormatan Terakhir untuk Tiga Prajurit TNI

Jumat, 03 April 2026 | 09:48

KPK Tegaskan Tak Ada Intimidasi dalam Penggeledahan Rumah Ono Surono

Jumat, 03 April 2026 | 09:40

Komisi VIII DPR Optimis Jadwal Haji 2026 Tetap Aman dan Lancar

Jumat, 03 April 2026 | 09:26

Aksi Borong Bensin Picu Kelangkaan BBM di Prancis

Jumat, 03 April 2026 | 08:51

Reformasi Maret Tuntas: Jalan Terang Modal Asing Masuk Bursa

Jumat, 03 April 2026 | 08:26

Wall Street Melemah Tipis, Investor Berburu Aset Aman

Jumat, 03 April 2026 | 08:13

Serangan Israel Lumpuhkan Dua Pabrik Baja Iran, Produksi Terhenti hingga Setahun

Jumat, 03 April 2026 | 08:04

Dolar AS Perkasa, Indeks DXY Tembus Level Psikologis 100

Jumat, 03 April 2026 | 07:50

Selengkapnya