Berita

Presiden Serbia, Aleksandar Vucic/Net

Global

Serbia Diguncang Protes Anti-Korupsi: Akankah Vucic Kehilangan Kendali?

RABU, 19 MARET 2025 | 13:57 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Gerakan protes terbesar dalam sejarah Serbia modern terus mengguncang ibu kota Beograd, dengan sedikitnya 100.000 orang dari berbagai penjuru negeri berkumpul untuk menuntut agar pemerintah menangani masalah korupsi dengan lebih serius. 

Protes ini dimulai lebih dari empat bulan lalu setelah tragedi runtuhnya atap stasiun kereta api utama di Novi Sad yang menewaskan 15 orang.

Peristiwa tersebut telah menjadi simbol ketidakpuasan publik terhadap pemerintah Presiden Aleksandar Vucic, yang dianggap gagal dalam menangani masalah infrastruktur dan korupsi yang meluas.


Mengutip Politico pada Rabu, 19 Maret 2025, lebih dari 100.000 orang turun ke jalan di hari Sabtu, 15 Maret, memadati jalan-jalan Beograd. Sebuah sumber dari Kementerian Dalam Negeri bahkan menyebutkan angka ini mencapai 107.000 orang, sementara perkiraan independen menyebutkan bahwa jumlahnya bisa mencapai 300.000. 

Para demonstran yang sebagian besar terdiri dari mahasiswa, akademisi, dan warga sipil biasa, memegang plakat, menyanyikan lagu-lagu protes, dan mengungkapkan rasa frustrasi mereka terhadap pemerintahan Vu?i?.

Tragedi runtuhnya atap stasiun di Novi Sad pada November 2024 menjadi pemicu utama bagi protes ini. 

Stasiun yang dibangun pada tahun 1964 itu sudah lama membutuhkan renovasi, dan proyek perbaikan yang dibiayai oleh inisiatif Sabuk dan Jalan Tiongkok tidak hanya tertunda tetapi juga menambah biaya yang terus membengkak.

"Korupsi, kontrak yang buruk, dan kurangnya pengawasan berperan dalam keruntuhan ini," kata salah seorang pengunjuk rasa. 

Sejak tragedi itu, masyarakat semakin meragukan kemampuan pemerintah untuk menjalankan proyek besar dengan transparansi dan akuntabilitas.

Para demonstran mengenang para korban dengan mengadakan penghormatan hening selama 15 menit, dan setiap bulan pada tanggal 15, protes serupa digelar di Beograd. 

Mahasiswa yang memimpin protes ini juga menuntut perbaikan lembaga-lembaga negara yang mereka anggap telah dipengaruhi oleh kekuasaan yang terlalu lama berada di tangan satu pihak. 

Salah satu mahasiswa yang berpartisipasi dalam protes menjelaskan: "Kami ingin sistem yang lebih adil, bukan hanya mengganti pemimpin tetapi juga memperbaiki cara negara ini berjalan."

Namun, protes ini juga diwarnai dengan ketegangan yang meningkat. Sekitar pukul 19.00, saat penghormatan hening berlangsung, terdengar suara mendesing yang sangat keras di tengah kerumunan. 

Banyak pengunjuk rasa yang terjatuh dan terluka. Media lokal dan saksi mata menduga bahwa itu adalah penggunaan meriam sonik, alat pengendali massa yang kontroversial. 

Meriam sonik dikenal karena dapat menyebabkan rasa sakit, disorientasi, dan bahkan kerusakan pendengaran. Presiden Vucic membantah dugaan penggunaan meriam sonik, mengklaim bahwa suara tersebut berasal dari senjata anti-drone yang digunakan untuk melumpuhkan perangkat tak berawak di area tersebut. 

Namun, penyangkalan ini tidak meyakinkan banyak orang, dan penyelidikan mendesak telah dimulai.

Sebagian besar pendukung protes datang dari kalangan mahasiswa yang telah lama merasa frustasi dengan sistem yang ada. Mereka telah mengorganisir pemboikotan kelas dan menduduki universitas untuk mendukung gerakan tersebut. 

Salah seorang mahasiswa dari Fakultas Seni Drama di Beograd mengatakan bahwa mereka tidak hanya melawan korupsi, tetapi juga melawan ketidakadilan dalam pendidikan dan kehidupan sosial.

Dengan kemampuan mereka untuk berunjuk rasa hampir setiap hari, gerakan ini terus berkembang pesat, meskipun pemerintah berusaha menekan dengan berbagai cara, termasuk memaksa beberapa pejabat untuk mengundurkan diri.

Walaupun protes ini berhasil mengguncang kestabilan politik Serbia, sejauh ini presiden Vucic masih berhasil mempertahankan kekuasaannya. 

Dalam upaya meredakan ketegangan, Vucic meminta sejumlah pejabat, termasuk wali kota Novi Sad dan beberapa menteri, untuk mundur. 

Meskipun begitu, langkah ini tidak banyak mendapat dukungan dari masyarakat yang merasa bahwa pengunduran diri sekutu-sekutu Vucic tidak menyelesaikan akar masalah. 

"Vucic ingin menunjukkan bahwa dia tetap berkuasa, bahkan jika sekutunya harus dipertaruhkan," ungkap seorang pengamat politik.

Protes ini juga semakin memperburuk citra Vucic di mata publik internasional, termasuk di kalangan masyarakat Serbia yang memandang Uni Eropa dengan kecurigaan. 

"Orang-orang di Serbia melihat Vucic sebagai penghalang utama bagi perubahan yang diinginkan, dan semakin banyak yang merasa bahwa dia bukanlah pemimpin yang bisa membawa negara maju," kata seorang pengamat politik lokal.

Salah satu tanda melemahnya dukungan terhadap Vucic datang dari figur publik terkenal, Novak Djokovic. Legenda tenis ini telah menyuarakan dukungannya terhadap gerakan protes beberapa kali dalam beberapa bulan terakhir. 

Djokovic, yang dikenal sebagai salah satu tokoh paling terkenal di Serbia, membagikan foto udara dari pusat kota Beograd yang dipenuhi pengunjuk rasa dengan tulisan "Sejarah! Mulia." 

Langkah ini sangat berarti bagi banyak orang di Serbia yang menganggap Djokovic sebagai simbol keberhasilan negara mereka, yang kini menyatakan solidaritas terhadap perjuangan melawan korupsi.

Meskipun protes ini terus berkembang dan memperlihatkan adanya ketidakpuasan besar terhadap pemerintahan Vucic, kemungkinan perubahan besar dalam waktu dekat tetap kecil. 

Presiden Vucic masih memiliki kendali yang kuat atas negara ini, meskipun dukungan terhadapnya mulai terkikis. Uni Eropa juga telah menyatakan keprihatinan atas situasi ini, tetapi tidak menunjukkan dukungan langsung kepada para demonstran.

Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

Prabowo Tegaskan Indonesia Tidak Takut Ancaman MSCI

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:32

Buruh Usul UMP 2027 Naik 9,5 Persen, Ini Respons Menaker

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:20

Ombudsman Ungkap Titik Rawan Korupsi di Layanan Pertanahan dan Kebencanaan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:19

Kasus CSR BI Jalan di Tempat, MAKI dan ARUKKI Bersiap Ajukan Praperadilan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:12

Pembenahan MBG hingga Program 3 Juta Rumah jadi PR Besar Prabowo

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:59

Begini Jurus BI Stabilkan Rupiah Hadapi Ancaman MSCI hingga Konflik Geopolitik

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:58

Nusron Hadiri Sidang Kabinet Paripurna setelah Dua Kali Absen Pemeriksaan KPK

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:53

PJJ dan WFH Bisa Jadi Opsi Antisipasi Asap Karhutla

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:53

UU Pelindungan Ketenagakerjaan Masih Diproses Setneg, Yassierli Minta Publik Bersabar

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:50

Event Konser hingga Festival Belanja Jadi Mesin Uang Jakarta

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:48

Selengkapnya