Berita

Joko Widodo saat menjadi Walikota Solo/Ist

Politik

Rakyat Indonesia Tertipu Gelar Jokowi

RABU, 19 MARET 2025 | 06:56 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Polemik soal riwayat pendidikan Presiden ke-7 RI Joko Widodo alias Jokowi masih menjadi perbincangan warganet.

Salah satunya disinggung pemilik akun X Edy Bayo Regar yang dilihat redaksi, Rabu 19 Maret 2025.

"270 juta lebih rakyat Indonesia ketipu. Drs atau Ir," tulis Edy Bayo Regar.


Dalam postingannya, ia menyertakan dua foto berbeda Jokowi. Pertama menampilkan foto Jokowi saat masih menjabat Walikota Solo.

Dalam keterangan foto yang tertulis tanggal 20 September 2006, Drs Joko Widodo sedang melakukan kunjungan ke PT Sritex Sukoharjo.

Sementara foto lainnya menampilkan foto dengan keterangan Presiden Republik Indonesia Ir H Joko Widodo. 

Menanggapi unggahan tersebut, akun @cadoize3 mencurigai Jokowi mengambil dua jurusan sekaligus saat kuliah.

"Curiga Pak Jokowi ambil dua jurusan," tulisnya.

Sebelumnya, alumni Fakultas Teknologi Universitas Gajah Mada (UGM) Rismon Hasiholan Sianipar meyakini ijazah S1 Kehutanan Presiden Jokowi yang diterbitkan Universitas Gadjah Mada (UGM) pada tahun 1985 adalah palsu.

Hal ini didukung oleh pakar telematika Roy Suryo. Ia lalu merujuk pada unggahannya di akun X @KRMTRoySuryo2 pada 25 Februari 2020, yang memuat lampiran halaman buku wisuda tahun 1985. 

Dalam buku tersebut, foto almarhum Hari Mulyono tercantum dengan nama "Jokowi". Selain itu, Roy Suryo juga mempertanyakan keaslian ijazah Jokowi yang hingga kini tidak pernah bisa dibuktikan bentuk fisiknya.

"Fotokopi ijazah Jokowi tidak pernah bisa dibuktikan keasliannya, bahkan bentuk fisik aslinya pun tidak pernah ditunjukkan," kata mantan Menpora era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini.

Selain itu, Roy Suryo turut menyoroti font atau huruf yang digunakan dalam dokumen tersebut. Menurutnya, teknologi pencetakan pada tahun 1985 belum memungkinkan penggunaan font yang terlihat dalam dokumen ijazah dan skripsi Jokowi.

"Teknologi printing atau pencetakan pada era 1980-an masih sangat terbatas. Printer Dot Matrix yang populer saat itu hanya bisa menghasilkan font seperti Courier atau Sans-Serif, bukan font proporsional seperti yang terlihat dalam dokumen tersebut," kata Roy Suryo.

Apalagi, lanjut Roy Suryo, pada tahun 1985 penggunaan komputer pribadi (PC) di Indonesia masih sangat terbatas.



Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Kemitraan PLN Perkuat KDKMP jadi Penggerak Ekonomi Desa

Jumat, 16 Oktober 2026 | 06:16

Pemerintah Serap Masukan Akademisi hingga Peneliti untuk Perkuat Ekonomi Biru

Jumat, 16 Oktober 2026 | 05:53

Tak Hanya Tunjuk Kepala Baru, Pemerintah Diminta Serius Benahi BNPB

Jumat, 16 Oktober 2026 | 05:23

BUK dan Bukti Kegagalan SKK Migas

Jumat, 16 Oktober 2026 | 04:59

Korupsi Dana Bencana Bentuk Pengkhianatan terhadap Amanah Kemanusiaan

Jumat, 16 Oktober 2026 | 04:29

Wajah Muda Kemiskinan yang Berubah

Jumat, 16 Oktober 2026 | 03:58

Maruli Berjabat Tangan dengan Gibran

Jumat, 16 Oktober 2026 | 03:29

Lokasi Ledakan di Pasar Cimanggis-Ciputat Bukan SPPG

Jumat, 16 Oktober 2026 | 03:00

Selain Bupati Klaten, KPK Juga Tangkap Kepala Perwakilan BPK Jateng Ahmad Luthfi

Jumat, 16 Oktober 2026 | 02:45

Perpaduan Kekuatan Laut dan Udara Warnai Demo Pendaratan Amfibi di Pantai Banongan

Jumat, 16 Oktober 2026 | 02:08

Selengkapnya