Berita

Ratusan ribu pengunjung rasa di Beograd yang menentang pemerintahan Presiden Aleksandar Vucic pada Sabtu, 15 Maret 2025/Net

Dunia

100.000 Orang Demo di Serbia, Kecam Pemerintahan Presiden Vucic

MINGGU, 16 MARET 2025 | 09:43 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Lebih dari 100.000 orang berkumpul di pusat kota Beograd, Serbia untuk mengikuti unjuk rasa massal yang menjadi puncak dari serangkaian protes anti-pemerintah yang telah berlangsung selama berbulan-bulan. 

Demonstrasi yang dilakukan pada Sabtu waktu setempat, 15 Maret 2025 itu dipicu oleh kekecewaan rakyat terhadap Presiden Serbia, Aleksandar Vucic, dan pemerintahannya, yang dinilai gagal dalam menangani masalah korupsi dan keselamatan publik.

Meskipun hujan turun sesekali, ribuan pengunjuk rasa tetap memenuhi jalan-jalan kota, dengan banyak dari mereka terjebak di tengah kerumunan yang padat.


"Saya berharap ini akan mengguncang otoritasnya dan Vucic akan menyadari bahwa orang-orang tidak lagi mendukungnya," kata Milenko Kovacevic, salah seorang pengunjuk rasa, seperti dimuat PBS

"Ini adalah tanda bahwa kami lelah dengan kebijakan pemerintah yang tidak transparan," kata dia lagi.

Unjuk rasa ini adalah bagian dari gerakan antikorupsi yang dimulai setelah tragedi pada bulan November tahun lalu, ketika kanopi beton di stasiun kereta api di utara Serbia runtuh, menewaskan 15 orang. 

Banyak orang yang merasa kecelakaan tersebut adalah akibat dari kelalaian pemerintah dalam memperhatikan keselamatan dan mematuhi standar konstruksi yang diperlukan. 

"Kecelakaan itu adalah puncak dari ketidakadilan yang sudah lama kami rasakan. Pemerintah harus bertanggung jawab," ujar Dejan Simic, pengunjuk rasa lainnya.

Demonstrasi Sabtu, yang disebut "15 untuk 15," mengacu pada tanggal tragedi dan jumlah korban jiwa yang jatuh di kota Novi Sad. Selama protes, massa terdiam selama 15 menit untuk menghormati para korban.

Meskipun protes berlangsung damai, ketegangan sempat meningkat antara pengunjuk rasa dan polisi. 

Kepolisian mengungkapkan bahwa massa mencapai 107.000 orang pada puncaknya. Media independen Serbia bahkan memperkirakan jumlah pengunjuk rasa jauh lebih tinggi. 

"Kami ingin keadilan untuk mereka yang kehilangan nyawa karena kelalaian pemerintah," ujar beberapa mahasiswa yang terlibat dalam protes.

Namun, meski protes ini terlihat menguat, mahasiswa yang selama ini memimpin demonstrasi akhirnya memutuskan untuk menghentikan aksi tersebut pada Sabtu malam. 

Mereka mengungkapkan kekhawatiran atas keselamatan pengunjuk rasa dan ketidakmampuan untuk menjamin keamanan.

Kepolisian Serbia dilaporkan telah menangkap 13 orang pada malam sebelumnya, termasuk enam aktivis oposisi yang diduga merencanakan kerusuhan. 

Selain itu, sejumlah insiden kecil juga terjadi, seperti penabrakan sebuah mobil ke arah kerumunan di pinggiran kota Belgrade yang melukai tiga orang.

Presiden Vucic sendiri telah berulang kali menyuarakan kekhawatirannya terkait potensi kerusuhan, dengan menuding pihak-pihak asing, termasuk negara-negara Barat, mendukung gerakan protes tersebut. 

Ia juga menegaskan bahwa tidak ada rencana untuk mengadakan pemilihan lebih awal atau membentuk pemerintahan transisi, meskipun tuntutan itu semakin menguat di kalangan pengunjuk rasa.

"Saya telah mengatakan sebelumnya bahwa kami tidak akan tunduk pada tekanan dari luar," tegas Vucic. Ia juga menyebutkan bahwa beberapa dari pengunjuk rasa diduga memiliki agenda yang lebih besar, yang dapat memicu ketegangan lebih lanjut.

Sebagai respons, pendukung Vucic mulai berkumpul di pusat kota Beograd, termasuk beberapa individu yang diketahui terkait dengan kekerasan masa lalu, menciptakan kekhawatiran akan potensi bentrokan antar kelompok yang berseberangan.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

Suhud Dorong RUU Ketenagakerjaan Perkuat Perlindungan Buruh dan Kepastian Usaha

Jumat, 11 September 2026 | 16:25

KPK Panggil 3 Tersangka Baru Kasus Suap Pemerasan Sertifikasi K3 Kemnaker

Jumat, 11 September 2026 | 16:19

Trump Sumpah Bareng Pendukung Republik, Ancam yang Tak Nyoblos Masuk Neraka

Jumat, 11 September 2026 | 16:13

Keluarga Dokter Icha Tuntut Tiga Anggota DPRD TTU Tersangka Intimidasi Dipecat

Jumat, 11 September 2026 | 15:58

DPR: Sebelum Batas Waktu, Tim SAR Maksimalkan Upaya Cari Lima Jurnalis di Selat Sunda

Jumat, 11 September 2026 | 15:46

Aljazair Mendadak Putus Hubungan Diplomatik dengan UEA

Jumat, 11 September 2026 | 15:44

Bahlil Tegaskan BUK Migas Belum Diputuskan

Jumat, 11 September 2026 | 15:00

Jejak Korupsi Rejang Lebong Merambah ke Bengkulu, Kini Giliran Ketua DPRD Herimanto Diperiksa

Jumat, 11 September 2026 | 14:54

Kemenhaj Rilis Peserta CAT PPIH 2027 Gelombang 2

Jumat, 11 September 2026 | 14:46

Kemenhut Bakal Tindaklanjuti Temuan Lima Bayi Orangutan di India

Jumat, 11 September 2026 | 14:35

Selengkapnya