Berita

Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara/RMOL

Bisnis

Belanja Pemerintah Anjlok, Pertumbuhan Ekonomi Diramal Melambat

JUMAT, 14 MARET 2025 | 18:24 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Belanja pemerintah yang melambat di awal tahun 2025 berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi Indonesia serta memicu tingginya angka PHK.

Direktur Kebijakan Publik Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Media Askar, menilai belanja pemerintah memiliki peran vital sebagai pendorong utama pertumbuhan ekonomi. 

Penurunan belanja pemerintah pusat hingga 10,76 persen dan anjloknya belanja Kementerian/Lembaga (K/L) sebesar 45,5 persen secara tahunan (yoy) ini dapat mengurangi perputaran uang di masyarakat, menekan konsumsi, serta menghambat pertumbuhan ekonomi.


"Anjloknya belanja pemerintah juga berpotensi menyebabkan terhentinya proyek infrastruktur di daerah yang juga menyebabkan gelombang PHK dan pengangguran di sektor konstruksi dan industri pendukungnya," kata Askar dalam keterangan resmi pada Jumat, 14 Maret 2025.

Ia membandingkan situasi di Indonesia dengan Argentina dan Vietnam. Menurutnya, Presiden Argentina, Javier Milei, memangkas anggaran secara signifikan, tetapi berhasil meningkatkan penerimaan pajak hingga 11 persen pada Februari 2025, yang menghasilkan surplus fiskal. 

Sementara Vietnam melakukan efisiensi anggaran untuk memangkas birokrasi dan menarik investasi asing.

"Di Indonesia, justru terjadi dua masalah sekaligus; anggaran dipangkas yang membebani masyarakat kelas bawah, dan penerimaan negara anjlok drastis," tambah Media.

Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara merinci belanja pemerintah pada Februari 2024 sebesar Rp239,6 triliun, sementara pada periode yang sama di tahun 2025 ini tercatat hanya Rp211,5 triliun.

Menurutnya, kondisi ini terjadi lantaran adanya pelaksanaan Pemilu dan bantuan pangan imbas El Nino pada tahun lalu.

Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

KPK Setengah Hati Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:16

Optimisme dan Tantangan Golkar di Era Bahlil Lahadalia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:08

Dibuka Program Madrasah Layak Belajar 2026 untuk 700 Madrasah

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:38

Prabowo dan DPR Harus Dengarkan Desakan Gibran Mundur dari Wapres

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:23

Bantu Kuliner Indonesia Mendunia, Pemerintah Diminta Tiru Thailand

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:01

Lumat Arema, Persija Puncaki Klasemen

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:39

PDIP: Usulan Luhut Cederai Rasa Keadilan Masyarakat

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:19

Infrastruktur Perikanan KNMP di Papua Tengah Diharapkan Dorong Ekonomi Nelayan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:01

Usulan Luhut soal Ubah Definisi Korupsi Membahayakan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:35

Polisi Bunuh Polisi Melonjak Dua Kali Lipat pada 2026

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:15

Selengkapnya