Berita

Presiden AS, Donald Trump dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu/Net

Dunia

AS dan Israel Berencana Pindahkan Warga Palestina ke Afrika Timur

JUMAT, 14 MARET 2025 | 16:06 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Amerika Serikat dan Israel dikabarkan telah melakukan pembicaraan dengan tiga negara Afrika Timur mengenai kemungkinan pemindahan paksa warga Palestina dari Gaza ke Sudan, Somalia, dan wilayah yang memisahkan diri, Somaliland.

Informasi ini diungkap oleh pejabat AS dan Israel yang dikutip oleh kantor berita The Associated Press (AP) pada Jumat, 14 Maret 2025.

Menurut laporan tersebut, Seorang pejabat AS yang berbicara secara anonim menyatakan bahwa diskusi ini berlangsung dalam kerahasiaan tinggi. Masih belum jelas sejauh mana upaya ini telah berkembang dan pada tingkat apa pembicaraan dilakukan.  


Sebagai imbalan atas penerimaan warga Palestina yang dimukimkan kembali, AS dan Israel dikabarkan menawarkan berbagai insentif, termasuk bantuan finansial, diplomatik, dan keamanan.  

Seorang pejabat AS yang terlibat dalam negosiasi mengonfirmasi bahwa AS telah melakukan pembicaraan dengan Somaliland mengenai berbagai bidang kerja sama.  

"Kami melakukan pembicaraan diam-diam dengan Somaliland tentang berbagai bidang di mana mereka dapat membantu AS dengan imbalan pengakuan," ungkapnya.  

Somaliland, wilayah yang memisahkan diri dari Somalia dengan populasi lebih dari 3 juta jiwa, berupaya mendapatkan pengakuan internasional.

Presiden baru Somaliland, Abdirahman Mohamed Abdullahi, diyakini menjadikan pengakuan ini sebagai prioritas utama pemerintahannya.  

Namun, masih belum jelas mengapa Somalia akan mempertimbangkan untuk menampung warga Palestina, mengingat negara tersebut secara historis sangat mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina.  

"Penyelarasan geopolitik terus berubah, jadi mungkin ada agenda tersembunyi di balik alasan Somalia," ujar Sambu Chepkorir, seorang pengacara dan peneliti konflik di Nairobi.  

Di Sudan, dua pejabat yang berbicara secara anonim mengatakan bahwa pemerintahan Trump telah menghubungi militer Sudan untuk membahas kemungkinan menerima warga Palestina.  

Salah satu pejabat mengungkapkan bahwa diskusi ini sebenarnya telah dimulai sebelum pelantikan Trump. AS menawarkan bantuan militer terhadap kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF), serta bantuan rekonstruksi pascaperang dan insentif lainnya.  

Namun, kedua pejabat Sudan menegaskan bahwa pemerintah mereka menolak gagasan tersebut.  

"Saran ini langsung ditolak. Tidak seorang pun membuka masalah ini lagi," kata salah satu pejabat Sudan.

Pernyataan tersebut langsung mendapat kecaman dari warga Palestina dan negara-negara Timur Tengah, yang menyebutnya sebagai bentuk pembersihan etnis.  

"Pemindahan paksa warga Palestina adalah garis merah yang tidak boleh dilintasi," ujar profesor madya di Institut Studi Pascasarjana Doha, Tamer Qarmout seperti dimuat Jazeera.  

Qarmout menegaskan bahwa pemerintah di seluruh dunia harus menolak usulan tersebut dan tidak bekerja sama dengan Israel dalam skenario apa pun.  

"Banyak negara di Afrika masih berjuang melawan warisan kolonial. Sudan dan Somalia masih dilanda perang akibat kolonialisme. Mereka [Israel] harus diekspos dan masuk dalam daftar yang memalukan," tambahnya.  

Hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari pemerintah AS maupun Israel mengenai laporan ini. Sementara itu, berbagai pihak terus mengecam rencana pemindahan paksa warga Palestina, menyebutnya sebagai pelanggaran hak asasi manusia dan hukum internasional.

Dalam sebuah pernyataan minggu ini, Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich, yang selama ini dikenal sebagai pendukung emigrasi "sukarela" warga Palestina, mengatakan bahwa Israel sedang berupaya mencari negara-negara yang bersedia menerima mereka.

Bahkan, ia mengungkapkan bahwa Israel tengah menyiapkan departemen emigrasi yang sangat besar dalam Kementerian Pertahanan.

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

UPDATE

Menteri Ekraf: Kreativitas Tak Bisa Dihargai Nol atau Dipatok

Jumat, 03 April 2026 | 20:06

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

Harga Plastik Dalam Negeri Meroket, Ini Kronologinya

Jumat, 03 April 2026 | 19:42

Kapolda Riau Perketat Penanganan Karhutla Hadapi Ancaman Super El Nino

Jumat, 03 April 2026 | 19:18

Upacara Penghormatan UNIFIL untuk Tiga Prajurit TNI di Lebanon

Jumat, 03 April 2026 | 19:01

Labirin Informasi pada Perang Simbolik

Jumat, 03 April 2026 | 18:52

KPK Siapkan Pemeriksaan Ono Surono Usai Penggeledahan

Jumat, 03 April 2026 | 18:35

BNPB: Tidak Ada Tambahan Korban Gempa Magnitudo 7,6 Sulut dan Malut

Jumat, 03 April 2026 | 18:31

Resiliensi Bangsa: Dari Mosi Integral 1950 hingga Geopolitik Kontemporer 2026

Jumat, 03 April 2026 | 18:03

FWP Polda Metro Hibur Anak Yatim ke Wahana Bermain

Jumat, 03 April 2026 | 17:45

Selengkapnya