Berita

Porsche/Porsche

Bisnis

Rusia-Ukraina Gencatan Senjata, Pasar Saham Eropa Bersorak

KAMIS, 13 MARET 2025 | 09:43 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pasar saham Eropa menggeliat setelah empat sesi penurunan. Hal ini didorong optimisme seputar perkembangan positif dalam konflik Ukraina-Rusia, dan juga laporan inflasi Amerika Serikat (AS). 

Dikutip dari Reuters, indeks pan-Eropa STOXX 600 ditutup menguat 0,81 persen atau 4,37 poin menjadi 541,25 pada perdagangan Rabu 12 Maret 2025 atau Kamis WIB. 

Bursa regional utama juga berakhir menguat. Indeks DAX Jerman melesat 1,56 persen atau 347,65 poin menjadi 22.676,41. 


FTSE 100 Inggris  menguat 0,53 persen atau 44,98 poin ke posisi 8.540,97.

CAC Prancis untung 0,59 persen atau 47,05 poin menjadi 7.988,96.

Analis menilai, kesepakatan gencatan senjata 30 hari antara Ukraina dan Rusia menciptakan optimism pasar. 

"Ini menciptakan optimisme mengingat jika kita melihat gencatan senjata dan kesepakatan damai yang potensial terjadi, itu dapat mengurangi biaya energi di Eropa dan ada banyak manfaat darinya," kata Fiona Cincotta, analis City Index.

Sebagian besar sub-indeks STOXX 600 mencatat kenaikan, dipimpin penguatan perbankan. 

Saham unggulan Roche melesat 3,6 persen untuk diperdagangkan pada level tertinggi dalam lebih dari dua tahun. Indeks healthcare naik 0,4 pesen.

Namun, saham pengecer anjlok 3 persen. 

Saham Puma turun 19,9 persen ke level terendah lebih dari delapan tahun, setelah grup pakaian olahraga Jerman itu memberikan prospek yang mengecewakan untuk penjualan kuartal pertama. 

Indeks acuan Eropa turun 1,7 persen pada sesi sebelumnya setelah Presiden AS Donald Trump menggandakan tarif pada produk baja dan aluminium Kanada, sebuah langkah yang segera ditarik kembali.

Kanada merespons dengan tarif balasan, sementara Komisi Eropa mengatakan akan memberlakukan tindakan balasan serupa bulan depan.

Saham Porsche turun sedikit setelah pabrikan mobil mewah itu melaporkan penurunan lebih dari 30 persen dalam laba per sahamnya sepanjang 2024, berjuang melawan biaya tinggi dan permintaan China yang lemah.

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

UPDATE

Rakyat Ingin Hukum yang Keras terhadap Pelaku Korupsi

Jumat, 28 Agustus 2026 | 02:19

Sumber APBN Berpeluang dari Harta Rampasan Koruptor

Jumat, 28 Agustus 2026 | 01:57

Gaduh Desil DTSEN, Bonnie Triyana: Buka Mekanisme Sanggah

Jumat, 28 Agustus 2026 | 01:21

Aset Daerah Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi dan Pembangunan

Jumat, 28 Agustus 2026 | 01:03

Ribuan Pengunjung Padati Hari Pertama Danantara Housing Expo

Jumat, 28 Agustus 2026 | 00:52

Leonardi Divonis 2,5 Tahun Penjara Meski Tak Terbukti Terima Uang

Jumat, 28 Agustus 2026 | 00:22

Kecurigaan Netizen Benar, Habis Karhutla, Muncullah Sawit

Jumat, 28 Agustus 2026 | 00:01

Pelindo-BNN Edukasi Pelajar di Empat Kota soal Bahaya Narkoba

Kamis, 27 Agustus 2026 | 23:31

Pos Polisi di Kolong Flyover Slipi Dibakar Massa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 23:10

UU Perampasan Aset Beri Kepastian Hukum Berantas Korupsi

Kamis, 27 Agustus 2026 | 23:00

Selengkapnya