Berita

Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese/Net

Dunia

PM Australia Tegur Trump: Tarif Adalah Cara Buruk Perlakukan Teman!

RABU, 12 MARET 2025 | 14:06 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Perdana Menteri Anthony Albanese mengecam kebijakan tarif yang diberlakukan oleh Amerika Serikat terhadap baja dan aluminium Australia. 

Ia menyebut langkah tersebut sebagai tindakan yang merugikan secara ekonomi dan bukan cara yang pantas untuk memperlakukan sekutu dekat.

Tarif sebesar 25 persen terhadap baja dan aluminium Australia resmi berlaku mulai hari Selasa, 11 Maret 2025 waktu setempat. 


Gedung Putih telah mengonfirmasi bahwa tidak akan ada pengecualian bagi Australia atau negara lain terkait tarif ini, yang merupakan bagian dari kebijakan Presiden AS Donald Trump untuk meningkatkan industri manufaktur dalam negeri. 
  
Dalam pernyataannya, Albanese menegaskan bahwa keputusan ini bertentangan dengan hubungan erat antara kedua negara.  

"Australia memiliki hubungan dekat dengan Amerika Serikat. Para sahabat perlu bertindak dengan cara yang menegaskan, kepada penduduk kita masing-masing, fakta bahwa kita adalah sahabat," kata Albanese, seperti dimuat ABC News.

Ia juga menekankan bahwa kebijakan ini merugikan Amerika Serikat sendiri.  

"Ini bukan tindakan yang bersahabat. Namun, ini diberlakukan pada setiap negara, itu penting," ujarnya.  

Meskipun mengecam kebijakan ini, Albanese memastikan bahwa Australia tidak akan membalas dengan mengenakan tarif serupa terhadap produk-produk AS.  

Ia juga mencatat bahwa ekspor baja dan aluminium Australia ke AS hanya mencakup 0,2 persen dari total nilai ekspor Australia, sehingga dampaknya relatif kecil.

Namun, ia menekankan bahwa kebijakan ini tetap merugikan hubungan kedua negara yang telah terjalin selama lebih dari 70 tahun.  

"Ini bertentangan dengan semangat persahabatan abadi kedua negara kita dan pada dasarnya bertentangan dengan manfaat kemitraan ekonomi kita," tambahnya.   
  
Pihak oposisi di Australia, terutama dari Partai Liberal, menilai bahwa pemerintahan Albanese tidak cukup berupaya untuk mendapatkan pengecualian dari tarif tersebut.  

Wakil pemimpin Partai Liberal, Sussan Ley, menyebut bahwa Albanese seharusnya membangun hubungan pribadi yang lebih kuat dengan Trump, mengingat kebijakan presiden AS tersebut sering kali bergantung pada hubungan antar individu.  

"Satu hal yang kita ketahui tentang pemerintahan Trump adalah bahwa ini tentang hubungan pribadi. Ini tentang membangun jaringan pribadi dan komunikasi satu lawan satu dan itulah yang jelas tidak dilakukan Anthony Albanese," kata Ley.

Menteri Keuangan Bayangan, Jane Hume, juga mendesak Albanese untuk segera menghubungi Trump secara langsung.  

"Saya tidak mengatakan ini dengan topi Koalisi saya, saya tidak berbicara tentang hal-hal yang telah salah. Demi anak-anak Anda, anak-anak saya, kemakmuran bangsa di masa depan, inilah saatnya untuk mengangkat telepon dan melakukan sesuatu. Perdana menteri telah gagal melakukan itu," ujarnya 
  
Menanggapi kritik oposisi, Menteri Luar Negeri Penny Wong membela langkah pemerintah dengan menegaskan bahwa mereka telah melakukan upaya diplomasi di berbagai level, termasuk melalui dua panggilan telepon antara Albanese dan Trump.  

Ia juga membela peran Duta Besar Australia untuk AS, Kevin Rudd, yang disebutnya telah bekerja keras dalam upaya diplomatik ini.  

"Bapak Dutton dan para letnannya sangat cepat melancarkan serangan politik, mereka sangat lambat dalam memperjuangkan lapangan kerja dan pekerja Australia," kata Wong.  

Meski tarif ini telah berlaku, pemerintah Australia masih berharap dapat melakukan negosiasi lebih lanjut untuk mencari solusi yang lebih adil bagi kedua negara.

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

UPDATE

Di Simpang Dunia

Jumat, 24 April 2026 | 06:10

Kisah Karim dan Edoh: Tukang Bubur Naik Haji Asal Tasikmalaya

Jumat, 24 April 2026 | 06:01

Gurita Keluarga Mas’ud Menguasai Kaltim

Jumat, 24 April 2026 | 05:33

Pramono Bidik Kerja Sama TOD dengan Shenzhen Metro

Jumat, 24 April 2026 | 05:14

Calon Jemaah Haji Asal Lahat Batal Terbang Gegara Hamil

Jumat, 24 April 2026 | 05:11

BEM KSI Serukan Perdamaian Dunia di Paskah Nasional 2025

Jumat, 24 April 2026 | 04:22

JK Tak Mudah Hadapi Jokowi

Jumat, 24 April 2026 | 04:10

Robig Penembak Gama Ketahuan Edarkan Narkoba di Lapas Semarang

Jumat, 24 April 2026 | 04:06

Ray Rangkuti Tafsirkan Pasal 8 UUD 1945 terkait Seruan Makar Saiful Mujani

Jumat, 24 April 2026 | 03:33

Setelah Asep Kuswanto Tersangka

Jumat, 24 April 2026 | 03:24

Selengkapnya