Berita

Peta pipa gas Rusia/Net

Dunia

Manuver Tak Biasa, Rusia Manfaatkan Jalur Pipa Gas Tua dalam Perang Ukraina

MINGGU, 09 MARET 2025 | 14:43 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Sebuah video yang beredar di internet mengklaim bahwa pasukan Rusia menggunakan jaringan pipa gas tua sebagai jalur infiltrasi ke garis pertahanan Ukraina. 

Meskipun keasliannya belum terverifikasi, klaim ini menggarisbawahi taktik tidak konvensional yang digunakan dalam perang yang telah memasuki tahun ketiga ini.

"Sekitar 100 tentara Rusia menggunakan pipa gas untuk mencapai posisi pasukan pertahanan Ukraina di dekat wilayah Sudzha pada pagi hari tanggal 8 Maret," ungkap Pravda pada Minggu, 9 Maret 2025.


Jaringan pipa yang dimaksud diyakini merupakan pipa Urengoy-Pomary-Uzhgorod, infrastruktur era Soviet yang pernah menjadi jalur utama ekspor gas Rusia ke Eropa. 

Pipa ini membentang dari Siberia, melewati Kursk di Rusia, hingga ke Ukraina. Sejarahnya mencerminkan dominasi energi Moskow, tetapi sejak Ukraina menolak memperpanjang perjanjian transit gas yang berakhir pada 31 Desember 2024, pipa tersebut tidak lagi berfungsi. 

Kini, pipa yang dulunya menjadi simbol kerja sama ekonomi telah beralih fungsi dalam konteks militer.

Wilayah Kursk, tempat insiden ini dilaporkan terjadi, telah menjadi medan pertempuran sengit sejak Agustus 2024. 

Pasukan Ukraina melancarkan serangan besar-besaran ke wilayah Rusia sebagai balasan atas serangan Moskow di Kharkiv beberapa bulan sebelumnya. 

Hingga awal 2025, Ukraina masih menguasai sekitar 585 kilometer persegi wilayah Kursk, meskipun pasukan Rusia terus melakukan serangan balik untuk merebut kembali wilayah yang hilang.

Laporan juga menyebut bahwa Rusia telah mengerahkan bala bantuan, termasuk pasukan Korea Utara, dalam upaya untuk memperkuat posisinya di Kursk. 

Kedua belah pihak telah mengalami korban jiwa yang signifikan, Ukraina mengklaim telah menewaskan 15.000 tentara Rusia di Kursk, sementara Rusia mengklaim bahwa korban dari pihak Ukraina mencapai lebih dari 49.000 orang.

Perkembangan perang semakin rumit dengan kebijakan terbaru dari pemerintahan Presiden AS Donald Trump. 

Pada awal Maret 2025, Washington mengumumkan penangguhan sementara bantuan militer dan intelijen untuk Ukraina. 

Langkah ini menimbulkan kekhawatiran tentang kemampuan Ukraina untuk mempertahankan posisinya di Kursk dan wilayah lainnya.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menegaskan bahwa keberhasilan operasinya di Kursk dapat menjadi alat tawar dalam negosiasi dengan Rusia. 

"Operasi Kursk telah membentuk zona penyangga," ujarnya dalam wawancara dengan Lex Fridman pada Januari 2025. 

Strategi ini bertujuan untuk menekan Moskow agar bersedia berkompromi dalam perundingan damai. Namun, dengan penangguhan bantuan AS dan serangan intensif Rusia, strategi ini menghadapi tantangan besar.

Jika laporan tentang penggunaan pipa gas sebagai jalur infiltrasi ini terbukti benar, maka ini menjadi contoh lain dari taktik inovatif yang muncul dalam perang Ukraina. 

Pipa yang dulunya berfungsi sebagai jalur energi kini beralih menjadi sarana perang, mencerminkan betapa kompleksnya konflik ini.

Saat perang memasuki hari ke-1.105, baik Ukraina maupun Rusia terus mencari cara baru untuk mendapatkan keunggulan. 

Keputusan Kyiv untuk mempertahankan Kursk sebagai alat tawar-menawar, di tengah ketidakpastian dukungan dari AS, menunjukkan bahwa konflik ini masih jauh dari kata selesai.

Populer

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Fahira Idris Dukung Pelarangan Medsos Buat Anak di Bawah 16 Tahun

Minggu, 08 Maret 2026 | 01:58

UPDATE

Bahaya Tersembunyi Kerikil di Ban Mobil dan Cara Mengatasinya

Sabtu, 14 Maret 2026 | 10:15

PKS: Pemerintah harus Segera Tetapkan Aturan Pembatasan BBM Bersubsidi

Sabtu, 14 Maret 2026 | 10:14

Mengupas Bahaya Air Keras Menyusul Kasus Penyerangan Aktivis KontraS di Jakarta

Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:52

Kemenhaj Tegaskan Komitmen Haji Inklusif bagi Lansia dan Disabilitas

Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:47

Qatar Kutuk Serangan Brutal Israel di Lebanon

Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:23

Harga Minyak Brent Tembus 103 Dolar AS

Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:10

AS Kirim Ribuan Marinir ke Timur Tengah, Iran Terancam Invasi Darat

Sabtu, 14 Maret 2026 | 08:41

Wall Street Rontok Menatap Kemungkinan Inflasi Global

Sabtu, 14 Maret 2026 | 08:23

Transformasi Kinerja BUKA: Dari Rugi Menjadi Laba Rp3,14 Triliun di 2025

Sabtu, 14 Maret 2026 | 08:08

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Selengkapnya