Berita

Ilustrasi ibadah haji/Net

Nusantara

RUU Haji dan Umrah Harus Libatkan Partisipasi Publik Demi Keadilan

KAMIS, 06 MARET 2025 | 21:07 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Partisipasi publik wajib diberi ruang dalam pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah yang kini ada di meja Komisi VIII DPR.

Koordinator Forum Haji dan Umrah Berkeadilan, Daffa Batubara mengatakan, RUU Haji dan Umrah masih menyisakan sejumlah persoalan krusial. Mulai dari adanya celah hukum hingga tata kelola yang belum mencerminkan prinsip keadilan.

"Kami sebagai wadah yang menghimpun peneliti dan praktisi menyampaikan sejumlah catatan kritis terkait tata kelola haji dan umrah sebagaimana hasil pemantauan beberapa tahun terakhir," kata Daffa dalam keterangan tertulisnya, Kamis, 6 Maret 2025.


Pertama soal tata kelola lembaga pengelola haji yang dipegang tiga lembaga, yakni Kementerian Agama (Kemenag), Badan Penyelenggara (BP) Haji, dan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH).

"Keberadaan tiga lembaga ini berpotensi memunculkan perebutan kewenangan (power struggle) dalam pengelolaan haji, yang pada akhirnya merugikan calon jemaah dan jemaah haji," jelas Daffa.  
 
Pengawasan terhadap pengelolaan haji menjadi semakin kompleks dan sulit dilakukan, baik oleh pemerintah maupun masyarakat. Berulangnya permasalahan setiap tahun menunjukkan belum ada kejelasan lembaga mana yang bertanggung jawab secara penuh dalam penyelenggaraan ibadah haji.

Catatan kedua, yakni masalah kuota keberangkatan yang tidak adil. Masalah ini tercermin dalam penyelenggaraan haji tahun 2024. Saat itu, pemerintah memperoleh tambahan 20 ribu kuota. Kuota ini dibagi merata antara jemaah haji reguler dan khusus.

"Padahal, calon jemaah haji reguler harus menunggu antrean puluhan tahun untuk dapat berangkat, sehingga kebijakan ini tidak adil," urai Daffa.

Kuota haji juga bergantung pada kebijakan pemerintah Arab Saudi sebagai negara tujuan. Untuk tahun 2025, beredar informasi bahwa Arab Saudi akan membatasi usia jemaah haji. Data Kemenag tahun 2022 mencatat bahwa calon jemaah haji berusia 80 tahun ke atas yang masih mengantri mencapai 44.489 orang. 
 
Catatan ketiga adalah masalah manajemen keuangan. Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) reguler tahun 2025 memang turun, namun sayangnya tidak dibarengi dengan pengelolaan keuangan haji yang baik.

Saat ini, dana yang digunakan untuk pemberangkatan haji bersumber dari setoran jemaah baru, bukan dari hasil investasi yang optimal. Dengan skema seperti ini, jemaah baru berisiko tidak dapat berangkat di kemudian hari jika terjadi ketidakseimbangan antara setoran dan pengeluaran. 
 
Keempat, pengadaan akomodasi, transportasi, konsumsi, serta SDM. Setiap tahun masalah ini berulang tanpa perbaikan signifikan.

"Masalah yang berulang di antaranya kelebihan kapasitas tenda dan sanitasi yang tidak layak dan keterlambatan layanan transportasi dan distribusi konsumsi," kritiknya.

Dengan permasalahan yang terus berulang ini, Forum Haji dan Umrah Berkeadilan menegaskan RUU Haji dan Umrah harus disusun dengan prinsip transparansi, akuntabilitas, dan keadilan bagi seluruh calon jemaah haji.

"Kami mendesak DPR, khususnya Komisi VIII membuka ruang partisipasi publik agar masyarakat dapat berkontribusi dalam penyusunan regulasi yang adil dan berpihak pada jemaah," tegasnya.

DPR dan pemerintah juga wajib menyusun RUU Haji dan Umrah dengan orientasi utama pada penyelesaian antrean panjang keberangkatan. Jemaah haji lanjut usia harus diprioritaskan.

RUU Haji dan Umrah harus menghapus praktik rente bisnis yang menyebabkan biaya haji mahal, memastikan transparansi dalam pengadaan kontraktor layanan ibadah haji, serta menetapkan mekanisme sanksi tegas bagi pihak yang melakukan penyimpangan.

"RUU Haji dan Umrah harus mengedepankan konsep satu pintu dalam penyelenggaraan ibadah haji, di mana BP Haji menjadi penyelenggara tunggal dengan pengawasan dari dewan independen," pungkasnya.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

UPDATE

Kapolres Sukoharjo Dicopot Usai Penggerebekan Pesantren

Senin, 02 November 2026 | 18:26

DPR Gandeng Kementerian PPPA Dorong Gerakan Nasional Antibullying

Senin, 02 November 2026 | 18:20

Gibran Ingatkan Ancaman Hoaks terhadap Kerukunan Masyarakat

Senin, 02 November 2026 | 18:06

Antisipasi Gangguan Selat Hormuz, Chandra Asri Bangun Fasilitas Pengganti Nafta

Senin, 02 November 2026 | 18:02

Program Kemenag Harus Sejalan dengan Visi-Misi Prabowo

Senin, 02 November 2026 | 17:41

Kemenhaj Rekrut Tenaga Pendukung untuk Urus Visa Haji 2027

Senin, 02 November 2026 | 17:34

Ahmad Doli Harap Pimpinan Parpol Segera Bertemu Bahas Gibran

Senin, 02 November 2026 | 17:31

Gibran Tetap Blusukan ke Daerah di Tengah Polemik Putusan MA dan MK

Senin, 02 November 2026 | 17:25

Kesejahteraan Rakyat di Daerah Tambang Nikel Harus jadi Perhatian Pemerintah

Senin, 02 November 2026 | 17:09

Cegah Kekerasan di Pesantren, Kemenag Buka Pelatihan Daring melalui MOOC Pintar

Senin, 02 November 2026 | 17:02

Selengkapnya