Berita

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump/Net

Dunia

AS Berhenti Bagi Informasi Intelijen dengan Ukraina

KAMIS, 06 MARET 2025 | 09:49 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Akses Ukraina untuk mendapat informasi intelijen dari Amerika Serikat telah dihentikan sementara.

Menurut Direktur CIA John Ratcliffe pada Rabu, 5  Maret 2025, langkah ini menambah tekanan bagi Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky untuk bekerja sama dengan Presiden Donald Trump dalam mengadakan pembicaraan damai dengan Rusia.  

“Saya pikir dalam aspek militer dan intelijen, penghentian ini akan bersifat sementara,” ujar Ratcliffe, seperti dimuat Reuters. 


“Kami akan terus bekerja bahu membahu dengan Ukraina untuk menekan agresi yang terjadi, tetapi juga membuka jalan bagi perundingan damai,” tambahnya.  

Para ahli memperingatkan bahwa penghentian berbagi intelijen ini akan melemahkan kemampuan Ukraina dalam menghadapi Rusia, yang saat ini masih menduduki sekitar 20 persen wilayahnya.  

“Sayangnya, ketergantungan kita terhadap intelijen AS cukup besar,” kata Mykola Bielieskov, peneliti di Institut Kajian Strategis Nasional Ukraina.  

Menurutnya, Ukraina sangat mengandalkan informasi dari AS terkait pergerakan militer Rusia, baik di wilayah pendudukan maupun di dalam Rusia. 

Tanpa informasi tersebut, Ukraina akan mengalami kesulitan dalam mengantisipasi serangan, yang berpotensi meningkatkan korban jiwa dan kehancuran.  

“Kita akan punya lebih sedikit waktu untuk bereaksi, lebih banyak kehancuran, lebih banyak korban jiwa. Semua ini akan sangat melemahkan kita,” kata dia.

AS lebih dulu menghentikan bantuan militer ke Kyiv awal pekan ini, sebuah langkah yang dapat berdampak signifikan terhadap kemampuan Ukraina dalam bertahan dari serangan rudal Rusia.  

Penghentian berbagi intelijen ini menandakan perubahan kebijakan Trump yang sebelumnya mendukung Ukraina secara kuat, menjadi pendekatan yang lebih lunak terhadap Rusia. 

Namun, strategi ini tampaknya membuahkan hasil. Trump mengungkapkan pada Selasa, 4 Maret 2025, bahwa ia menerima surat dari Zelensky yang menyatakan kesediaannya untuk bernegosiasi.  

Penasihat keamanan nasional Trump, Mike Waltz, juga menyatakan bahwa AS dapat memulihkan bantuan ke Kyiv jika pembicaraan damai berhasil diatur dan langkah-langkah membangun kepercayaan dilakukan.  

Keputusan untuk menghentikan bantuan militer muncul setelah pertemuan Oval Office yang berlangsung panas pada Jumat lalu, di mana Trump dan Zelensky terlibat dalam adu argumen di hadapan media. Akibatnya, penandatanganan kesepakatan eksploitasi mineral antara AS dan Ukraina tertunda.  

Namun, menurut seorang pejabat senior pemerintahan AS, perjanjian tersebut kini kembali berjalan setelah Zelensky menerima saran dari pejabat Washington.  

Beberapa anggota parlemen AS, terutama dari Partai Demokrat, mengecam keputusan Trump menghentikan berbagi intelijen dengan Ukraina.  

Senator Mark Warner, Wakil Ketua Komite Intelijen Senat, menyebut keputusan ini sebagai langkah yang “tidak bijaksana” dan menilai bahwa Trump telah menyerahkan pengaruh AS kepada Rusia.  

“Jelas, menghentikan dukungan intelijen kepada mitra Ukraina kita akan merenggut nyawa,” tegas Warner dalam pernyataannya.  

Sementara itu, negara-negara Eropa, termasuk Prancis dan Inggris, tengah berupaya meningkatkan belanja pertahanan dan merancang rencana perdamaian yang diharapkan dapat diajukan ke AS dalam beberapa hari mendatang.  

Dalam pidatonya di hadapan Kongres AS pada Selasa malam, Trump menegaskan kembali bahwa Washington siap membantu mengakhiri perang di Ukraina.  

“Sudah waktunya untuk mengakhiri perang yang tidak masuk akal ini. Jika Anda ingin mengakhiri perang, Anda harus berbicara dengan kedua belah pihak,” ujarnya.  

Trump juga mengklaim bahwa Rusia telah memberikan sinyal kuat untuk perdamaian, menyusul pembicaraannya dengan Presiden Vladimir Putin dan serangkaian pertemuan antara pejabat AS dan Rusia di Arab Saudi serta Turki?"pertemuan yang tidak melibatkan Ukraina maupun sekutu Eropa mereka.  

Keputusan Trump untuk menangguhkan dukungan intelijen dan militer ke Ukraina dalam waktu singkat telah mengejutkan banyak pihak, terutama di Eropa, yang khawatir akan dampak kebijakan ini terhadap stabilitas NATO dan hubungan transatlantik ke depan.  

Populer

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Nasabah Laporkan Perusahaan Asuransi ke OJK

Kamis, 05 Februari 2026 | 16:40

Negara Jangan Kalah dari Mafia, Copot Dirjen Bea Cukai

Selasa, 10 Februari 2026 | 20:36

Lima Orang dari Blueray Cargo Ditangkap saat OTT Pejabat Bea Cukai

Kamis, 05 Februari 2026 | 15:41

Koordinator KKN UGM Tak Kenal Jokowi

Rabu, 04 Februari 2026 | 08:36

UPDATE

Gubernur Fakhiri Raih Golden Leader Award JMSI

Kamis, 12 Februari 2026 | 00:02

1.000 Siswa Yatim Piatu Pemegang KJP Ikuti Try Out Gratis

Rabu, 11 Februari 2026 | 23:30

Pemerintah Timor Leste Didorong Kembali Aktifkan Pas Lintas Batas

Rabu, 11 Februari 2026 | 23:13

DKI Kunci Stok Beras dan Telur, Harga Dijaga Tetap Stabil

Rabu, 11 Februari 2026 | 23:00

Ilusi Swasembada Pangan Kementan

Rabu, 11 Februari 2026 | 22:45

RI Siap Borong Minyak AS Senilai Rp252 Triliun Pekan Depan

Rabu, 11 Februari 2026 | 22:28

Kembali Diperiksa BPK, Gus Yaqut Sampaikan Klarifikasi Hingga Konfrontasi

Rabu, 11 Februari 2026 | 22:13

Ulama Penjaga Optimisme dan Keteguhan Batin Rakyat Aceh

Rabu, 11 Februari 2026 | 22:04

Diperiksa di Mapolresta Solo, Jokowi Beberkan Kisah Perkuliahan Hingga Skripsi

Rabu, 11 Februari 2026 | 21:50

NU Harus Bisa Menjawab Tantangan Zaman di Abad Kedua Perjalanan

Rabu, 11 Februari 2026 | 21:38

Selengkapnya