Berita

Presiden Prancis Emmanuel Macron/Net

Global

Macron Serukan Ketenangan Usai Trump-Zelensky Ribut

MINGGU, 02 MARET 2025 | 16:14 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Presiden Prancis Emmanuel Macron menyerukan ketenangan setelah adu mulut antara Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Gedung Putih. 

"Kita semua harus kembali tenang, saling menghormati. Sehingga kita dapat melangkah maju. Karena apa yang dipertaruhkan terlalu penting," ujar Macron dalam wawancaranya dengan Journal du Dimanche pada Minggu, 2 Maret 2025.

Macron memperingatkan bahwa jika AS menarik diri dari Ukraina, hal itu tidak hanya merugikan Kyiv tetapi juga melemahkan posisi geopolitik Washington sendiri.  


"Memaksa Ukraina menandatangani gencatan senjata tanpa jaminan keamanan akan membuat kapasitasnya untuk menghalangi Rusia, Tiongkok, dan negara lain menguap pada hari yang sama," tegasnya.  

Presiden Prancis juga menekankan bahwa jika Presiden Rusia Vladimir Putin tidak dihentikan di Ukraina, maka ia akan mengalihkan perhatiannya ke Moldova, bahkan mungkin ke Rumania.  

Macron lebih lanjut memperingatkan bahwa jika AS mencapai kesepakatan dengan Rusia tanpa melibatkan negara-negara Eropa, maka hal itu dapat memicu perpecahan dalam aliansi Barat.  

"Jika Amerika Serikat mencapai kesepakatan dengan Rusia tanpa melibatkan orang Eropa di meja perundingan itu akan menjadi keretakan dalam aliansi," kata dia.

Meski begitu, Macron menegaskan bahwa Prancis tetap mendukung perdamaian, tetapi bukan dengan cara yang merugikan Ukraina.  

"Kami mendukung perdamaian, tetapi bukan kapitulasi yang terjadi dengan latar belakang kekalahan atau pengabaian Ukraina," ujar Macron. 

Pada kesempatan itu, Macron turut menyatakan bahwa Eropa harus mulai mempertimbangkan otonomi pertahanannya sendiri, khususnya dalam hal pencegahan nuklir.  

"Kami memiliki perisai, mereka tidak. Dan mereka tidak dapat lagi bergantung pada pencegah nuklir Amerika. Kami membutuhkan dialog strategis dengan mereka yang tidak memilikinya, dan itu akan membuat Prancis lebih kuat," katanya.  

Saat ini, hanya Prancis dan Inggris yang memiliki persenjataan nuklir di Eropa. Macron mengusulkan agar negara-negara Eropa yang tidak memiliki senjata nuklir mulai membangun strategi pertahanan bersama.  

Bentrokan antara Trump dan Zelensky pada Jumat lalu, 28 Februari 2025 yang berujung pada pengusiran Zelensky dari Gedung Putih, telah memicu kekhawatiran di Eropa.

Peristiwa ini menambah ketidakpastian atas komitmen AS terhadap Ukraina dalam menghadapi invasi Rusia.  

Pernyataan keras Macron ini datang menjelang pertemuan di London yang akan mempertemukan Zelensky dengan sekutu-sekutu Eropa. 

Dalam pertemuan tersebut, para pemimpin Eropa akan membahas langkah-langkah strategis dalam merespons perubahan kebijakan AS terhadap Rusia dan Ukraina.

Populer

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Tak Hanya Mobil Listrik, Hybrid Juga Diusulkan Bebas Ganjil-Genap

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:31

Kabinet Watch Penting untuk Ruang Dialog Menteri dan Kelompok Kritis

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:25

Dumai Transshipment Hub: Ujian Geopolitik Maritim Indonesia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:17

Laba Emiten Naik 15 Persen, Danantara Minta Investor Tak Terpaku Sentimen Pasar

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:16

Apple Siap Gelar Acara Pro and Tell Akhir Oktober 2026

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:09

12.000 Lowongan Kerja Dibuka di Jakarta untuk Semua Kalangan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:08

BAZNAS dan Ruang Amal Indonesia Antarkan 47 Mustahik ke Dunia Kerja

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:06

KPK Bakal Secepatnya Kembali Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:48

Wacana Dumai Transshipment Hub Perlu Dukungan, Pelindo Harus Lebih Bertaring di Selat Malaka

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:47

Terancam Turun Kelas, Danantara Akui Sentimen MSCI Tak Bisa Dianggap Enteng

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:33

Selengkapnya