Gambar menunjukkan serangan udara AS mengenai target yang diyakini merupakan seorang pemimpin senior Al Qaeda/Net
Pasukan militer Amerika Serikat berhasil membunuh seorang pemimpin senior dari afiliasi Al Qaeda di Suriah dalam sebuah serangan udara presisi.
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa target operasi adalah Muhammed Yusuf Ziya Talay, seorang pemimpin militer terkemuka dari kelompok Hurras Al Din (HaD), yang berafiliasi dengan Al Qaeda.
"Seperti yang telah kami katakan di masa lalu, kami akan terus mengejar para teroris ini tanpa henti untuk mempertahankan tanah air kami, dan personel AS, sekutu, serta mitra di kawasan tersebut," kata komandan CENTCOM, Jenderal Michael Erik Kurilla seperti dimuat Gulf Today pada Minggu, 2 Maret 2025.
Serangan ini menegaskan kembali komitmen AS dalam upaya kontraterorisme di Timur Tengah, meskipun kehadiran pasukan Amerika di wilayah tersebut semakin menjadi perhatian global.
Sementara itu, di Suriah, muncul perdebatan mengenai status kontrak pengelolaan Pelabuhan Tartous, yang sebelumnya dikelola oleh perusahaan Rusia, STG Engineering.
Laporan media Timur Tengah dan tiga pengusaha Suriah pada Januari lalu menyatakan bahwa kontrak tersebut telah dibatalkan oleh pemerintahan baru Suriah.
Surat kabar semi-resmi Suriah, Al Watan, bahkan mengutip kepala bea cukai Tartous, Riad Joudy, yang mengatakan bahwa pembatalan terjadi karena STG Engineering gagal memenuhi ketentuan kesepakatan tahun 2019, termasuk investasi dalam infrastruktur.
Namun, CEO STG Engineering, Dmitry Trifonov, membantah klaim tersebut, menegaskan bahwa jika pembatalan terjadi, prosesnya akan panjang dan birokratis.
"Tidak mungkin untuk mengakhiri perjanjian secara sepihak, karena sudah diratifikasi oleh presiden dan parlemen, dan tidak ada yang memberi tahu kami," ujarnya.
Perusahaan konstruksi Rusia, Stroytransgaz, yang sebelumnya dikaitkan dengan kontrak Tartous, juga angkat bicara. Dalam sebuah pernyataan, perusahaan tersebut menegaskan bahwa mereka tidak memiliki hubungan organisasi maupun hukum dengan STG Engineering.
Meskipun ada klaim pembatalan kontrak, STG Engineering menyatakan bahwa mereka tetap mengoperasikan pelabuhan seperti biasa.
Serangan AS terhadap pemimpin Al Qaeda dan ketidakpastian mengenai kontrak Pelabuhan Tartous mencerminkan ketegangan geopolitik yang terus berlanjut di kawasan.
Dengan berbagai kepentingan yang bertabrakan dari upaya kontraterorisme AS hingga peran Rusia di Suriah, perkembangan ini akan terus menjadi sorotan dunia internasional.
Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal
Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25
Enam Pengusaha Muda Berebut Kursi Ketum HIPMI, Siapa Saja?
Kamis, 22 Januari 2026 | 13:37
Rakyat Lampung Syukuran HGU Sugar Group Companies Diduga Korupsi Rp14,5 Triliun Dicabut
Kamis, 22 Januari 2026 | 18:16
Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana
Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07
Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!
Senin, 26 Januari 2026 | 00:29
Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit
Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50
Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif
Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41
Nama Elon Musk hingga Eks Pangeran Inggris Muncul dalam Dokumen Epstein
Minggu, 01 Februari 2026 | 14:00
Said Didu Ungkap Isu Sensitif yang Dibahas Prabowo di K4
Minggu, 01 Februari 2026 | 13:46
Pengoperasian RDF Plant Rorotan Prioritaskan Keselamatan Warga
Minggu, 01 Februari 2026 | 13:18
Presiden Harus Pastikan Kader Masuk Pemerintahan untuk Perbaikan
Minggu, 01 Februari 2026 | 13:03
Danantara Bantah Isu Rombak Direksi Himbara
Minggu, 01 Februari 2026 | 12:45
Ada Kecemasan di Balik Pidato Jokowi
Minggu, 01 Februari 2026 | 12:25
PLN Catat Penjualan Listrik 317,69 TWh, Naik 3,75 Persen Sepanjang 2025
Minggu, 01 Februari 2026 | 12:07
Proses Hukum Berlanjut Meski Uang Pemerasan Perangkat Desa di Pati Dikembalikan
Minggu, 01 Februari 2026 | 12:03
Presiden Sementara Venezuela Janjikan Amnesti untuk Ratusan Tahanan Politik
Minggu, 01 Februari 2026 | 11:27
Kelola 1,7 Juta Hektare, Agrinas Palma Fokus Bangun Fondasi Sawit Berkelanjutan
Minggu, 01 Februari 2026 | 11:13
Selengkapnya