Berita

Wakil Presiden JD Vance berbicara dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, kiri, sementara Presiden Donald Trump mendengarkan di Ruang Oval di Gedung Putih, pada Jumat, 28 Februari 2025/Net

Dunia

Susan Rice: Trump Jebak Zelensky di Gedung Putih untuk Bikin Putin Tenang

MINGGU, 02 MARET 2025 | 12:22 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Mantan Duta Besar Amerika Serikat untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Susan Rice, melontarkan tuduhan mengejutkan dalam wawancara dengan MSNBC pada Sabtu waktu setempat, 1 Maret 2025. 

Dia mengklaim bahwa pertemuan antara mantan Presiden AS, Donald Trump dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky merupakan sebuah "jebakan" yang dirancang untuk menenangkan Presiden Rusia Vladimir Putin.

"Ini hari yang sangat menyedihkan dan memalukan bagi Amerika Serikat di panggung dunia. Namun, mari kita mundur sejenak dan menganalisis apa yang terjadi di sini. Saya pikir tidak diragukan lagi bahwa ini adalah jebakan," ujar Rice dalam wawancara tersebut.


Rice menegaskan bahwa pertemuan tersebut bukan sekadar agenda diplomatik biasa, melainkan bagian dari strategi yang lebih besar untuk meredakan ketegangan dengan Rusia dengan mengorbankan Ukraina. 

Menurutnya, Trump secara sengaja menciptakan situasi di mana Zelensky dipaksa untuk menerima kesepakatan yang tidak menguntungkan bagi negaranya.

Dalam wawancara itu, Rice mengklaim bahwa Trump berusaha mempermalukan Zelensky secara terbuka. Dia menyebutkan bahwa setelah pertemuan di Ruang Oval, Wakil Presiden AS saat itu, J.D. Vance, segera melakukan konfrontasi dengan Zelensky.

"Zelensky datang ke Washington, dia datang ke Ruang Oval dan duduk untuk rapat, dengan topi di tangan. Dan segera setelah dia sampai di sana, wakil presiden Amerika Serikat menyerangnya dan memulai konfrontasi," jelas Rice.

Dia menambahkan bahwa langkah-langkah seperti ini tidak mungkin dilakukan tanpa persetujuan langsung dari Trump. 

"Saya dapat memberi tahu Anda bahwa wakil presiden atau menteri luar negeri atau siapa pun, mereka tidak akan ikut campur, membajak pembicaraan tanpa restu tegas dari presiden Amerika Serikat. Jadi J.D. Vance melakukannya dengan sengaja. Donald Trump tahu apa yang akan dilakukannya," tambahnya.

Rice lebih lanjut mengklaim bahwa seluruh insiden ini adalah bagian dari permainan politik Trump untuk menunjukkan loyalitas kepada Putin. 

Dia berpendapat bahwa Trump ingin memperlihatkan kepada pemimpin Rusia tersebut bahwa dia tidak mendukung Ukraina secara penuh.

"Seperti yang dia katakan di akhir, karena dia tidak dapat menahan diri, ini adalah jebakan untuk kamera. Itu adalah permainan untuk basisnya. Namun, yang terpenting, itu adalah permainan untuk Vladimir Putin, untuk menunjukkan kesetiaan kepada Vladimir Putin dan mencoba mempermalukan Zelensky," kata Rice.

Di sisi lain, Rice memuji Zelensky atas martabat dan keberaniannya" saat menghadapi tekanan ini. Dia menegaskan bahwa meskipun Presiden Ukraina itu berada dalam situasi sulit, dia tetap teguh dalam menyuarakan kepentingan rakyatnya.

"Zelensky memiliki orang-orang yang diwakilinya secara demokratis. Dan sebagai hasilnya, dia tidak bisa duduk diam saat kebohongan disebarkan tentang bagaimana perang dimulai, siapa yang bertanggung jawab, Anda tahu, dan sebagainya, dan sebagainya," tutur Rice.

Menurutnya, upaya ini bertujuan untuk merusak hubungan AS dan Ukraina sehingga Trump dapat menghindari kewajiban untuk terus memberikan dukungan kepada negara tersebut.

"Pengaturan ini adalah upaya untuk mempermalukan Zelensky dan untuk menghancurkan hubungan AS-Ukraina sehingga Trump tidak lagi merasa berkewajiban untuk memberikan dukungan dan menyerahkan kepentingan AS dan Ukraina, serta kemungkinan Eropa, kepada Putin di atas piring perak," pungkas Rice.

Pernyataan Rice ini tentunya menambah panas diskusi mengenai kebijakan luar negeri AS dan dampaknya terhadap konflik Rusia-Ukraina. Hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari Trump atau pihak terkait mengenai tuduhan tersebut.

Pertemuan antara Zelensky dan Trump di Gedung Putih pada Jumat, 28 Februari 2025, berakhir tegang.  

Dialog yang awalnya bertujuan membahas kesepakatan pengembangan sumber daya alam dan upaya perdamaian terkait konflik Ukraina-Rusia berubah menjadi perselisihan hebat dan terjadi di hadapan media.

Selama pertemuan tersebut Zelensky berbicara dalam bahasa Inggris. Ia melihat pertemuan di Ruang Oval sebagai kesempatan untuk meyakinkan AS agar tidak berpihak pada Presiden Rusia Vladimir Putin, yang memerintahkan invasi ke Ukraina tiga tahun lalu.

Suaranya mulai meninggi ketika Trump membantah pernyataannya. JD Vance, wakil Trump, juga ikut menyerang Zelensky.

"Kamu tidak dalam posisi yang baik. Saat ini, kamu tidak punya kekuatan negosiasi. Dengan kami, kamu bisa mulai memilikinya," kata Trump. 

"Saya tidak sedang bermain kartu, saya sangat serius, Tuan Presiden," balas Zelensky.

"Kamu sedang bermain kartu. Kamu mempertaruhkan nyawa jutaan orang, kamu mempertaruhkan Perang Dunia III," lanjut Trump.

Trump kemudian menuduh Zelensky tidak menghormati AS  dan mengancam akan menarik dukungan jika Ukraina tidak mencapai kesepakatan damai dengan Rusia.

"Kalian setujui kesepakatan, atau kami keluar. Dan jika kami keluar, kalian akan bertarung habis-habisan. Saya rasa itu tidak akan berjalan baik," kata Trump kepada Zelensky.

"Begitu kita menandatangani kesepakatan itu, kalian berada dalam posisi yang jauh lebih baik. Namun, kalian sama sekali tidak menunjukkan rasa terima kasih, dan itu bukan hal yang baik. Jujur saja. Itu bukan hal yang baik," lanjut Trump. 

Zelensky secara terang-terang membalas serangan Trump dengan mengatakan bahwa  Amerika jangan 'melunak' terhadap Putin. Mendesak Trump untuk "tidak membuat kompromi dengan seorang pembunuh."

Trump membalasnya dengan mengatakan bahwa justru Putin ingin membuat kesepakatan.

Vance kemudian menyela, mengatakan bahwa tidak sopan bagi Zelensky datang ke Ruang Oval untuk menggugat Trump. 

"Anda nggak tau terima kasih," kata Vance.

Zelensky, sambil meninggikan suaranya, menjawab: "Saya sudah berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada rakyat Amerika."

Zelensky kemudian meninggalkan Gedung Putih lebih cepat dengan membawa amarahnya dan tidak menandatangani kesepakatan yang direncanakan sebelumnya.

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

UPDATE

Austria Tolak Wilayah Udaranya Dipakai AS untuk Serang Iran

Jumat, 03 April 2026 | 00:15

Memutus Mata Rantai Rabun Jauh Birokrasi

Kamis, 02 April 2026 | 23:50

PHE Tampilkan Inovasi Hulu Migas di Ajang Offshore Internasional

Kamis, 02 April 2026 | 23:21

Spirit ‘Kurban’ Prajurit UNIFIL

Kamis, 02 April 2026 | 22:57

Pencarian Berakhir Duka, Achmad Ragil Ditemukan Meninggal di Sungai Way Abung

Kamis, 02 April 2026 | 22:39

Robert Priantono Dicecar KPK soal Pungutan Tambang Kukar

Kamis, 02 April 2026 | 22:01

China Ajak Dunia Bersatu Dukung Inisiatif Perdamaian di Wilayah Teluk

Kamis, 02 April 2026 | 21:42

DPR: BPS Bukan Sekadar Pengumpul Data, tapi Penentu Arah Pembangunan

Kamis, 02 April 2026 | 21:31

78 Pejabat Pemkot Surabaya Dirotasi, Ada Apa?

Kamis, 02 April 2026 | 21:18

OJK Siap Luncurkan ETF Emas Akhir April 2026

Kamis, 02 April 2026 | 21:08

Selengkapnya