Berita

Ilustrasi (AI/AT)

Publika

Perintah Purba Puasa

MINGGU, 02 MARET 2025 | 07:00 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

ALHAMDULILLAH, segala puji bagi Allah SWT. Kita kembali memasuki bulan suci Ramadan, bulan yang penuh berkah. Namun, pernahkah kita berhenti sejenak —di sela lapar dan dahaga— untuk menyelami makna tersembunyi di balik perintah puasa dalam Al-Qur’an? Perintah ini disebut dengan kata kerja pasif dalam bahasa Arab: kutiba, yang secara harfiah berarti “telah ditulis.”

Ditulis oleh siapa? Ayat 183 dari surah Al-Baqarah itu sendiri tidak menyebutkan jawabannya. Di tengah deretan rukun Islam yang ibarat daftar belanjaan surgawi, puasa hadir bukan hanya sebagai kewajiban, melainkan juga sebagai undangan misterius ke sebuah pesta spiritual. “Tulisan” perintahnya bukan baru dicetak kemarin, tetapi sudah lama tertulis dalam tinta ilahi, menjadi bagian dari sejarah panjang umat manusia.

Mari kita telusuri lebih jauh rahasia di balik kata pasif kutiba, sebagaimana disebutkan dalam ayat 183 surah Al-Baqarah.


Siapa sangka, sebuah kata pasif sederhana — kutiba — menjadi bintang utama dalam perintah puasa Ramadan. Ia muncul di awal ayat, menegaskan keharusan yang tak terbantahkan. Bukankah menarik ketika perintah ini tersaji seolah-olah tanpa subjek yang jelas? Seakan-akan Allah SWT. bersembunyi di balik layar, seolah berkata: “Aku? Ada di sini, tetapi tak perlu kalian tanyakan. Fokus saja pada perintahnya.”

Dengan gaya yang mirip pengiriman pesan zaman now —singkat, padat, dan penuh makna— Allah SWT menyampaikan bahwa puasa adalah kewajiban, tanpa perlu embel-embel identitas langsung. Satu kata saja sudah cukup untuk menegaskan otoritas-Nya. Menariknya, dalam satu ayat itu, kata kutiba muncul dua kali, layaknya “double tap” di media sosial agar pesannya semakin mengena.

Bayangkan, puasa itu ibarat diet spiritual yang tak hanya membuat perut kosong, tetapi juga mengasah jiwa. Ia adalah semacam “detoks rohani” yang diresepkan langsung dari dapur langit. Dengan menahan diri dari makan dan minum, para pejuang puasa tidak hanya merasakan lapar, tetapi juga memperoleh “menu khusus”: renungan mendalam, peningkatan kesadaran diri, kepedulian, dan dosis pahala yang terjamin.

Kata kutiba pun mengingatkan kita bahwa puasa bukan eksperimen baru atau tren kekinian. Ini adalah resep turun-temurun yang sudah teruji oleh waktu, bahkan sebelum ada influencer digital yang membuat konten tentang tantangan puasa di Instagram. Ucapan-ucapan “Selamat berpuasa Ramadan” yang bertebaran di jagat media sosial hanya menegaskan kembali keabadian perintah ini.

Namun, di balik keanggunan kata kutiba, terselip pula pertanyaan kritis: Jika puasa sudah tertulis sejak zaman dahulu, apakah kita masih memahami esensi dan relevansinya dalam konteks zaman ini? Seperti sistem operasi yang perlu diperbarui, mungkin kita pun perlu merefleksikan pemahaman kita tentang puasa agar tetap segar dan bermakna di era modern.

Perintah ini tidak sekadar meminta kita menahan lapar, tetapi juga menahan diri dari kemalasan berpikir dan keengganan merefleksi makna keimanan dalam kehidupan sehari-hari. Kritik dan humor, jika disalurkan dengan konstruktif, justru dapat membuka ruang diskusi yang lebih luas tentang bagaimana puasa bisa tetap menjadi pengalaman spiritual yang relevan di tengah kemajuan teknologi dan perubahan budaya.

Jadi, puasa Ramadan bukan sekadar soal perut kosong, melainkan juga tentang jiwa yang lapar akan kebenaran dan kepedulian. Kata kutiba —dengan kemisteriusan bahasa pasifnya— mengajarkan bahwa perintah ilahi tidak datang melalui promosi atau iklan megah, melainkan melalui kebijaksanaan yang telah tertulis sejak dahulu kala.

Di balik keseriusan ibadah puasa, sesekali kita bisa menyelipkan canda tawa, mengingatkan bahwa refleksi diri dan humor bisa berjalan beriringan dalam kehidupan beragama. Jadi, sambil menahan lapar dan dahaga, mari kita juga menyantap secuil tawa, bertanya, dan terus belajar. Karena di situlah letak keindahan sejati dari ibadah puasa yang perintahnya telah lama tertulis —yang telah kutiba sejak zaman purba.



*Penulis adalah Pemerhati Kebangsaan, Pengasuh Pondok Pesantren Tadabbur Al-Qur'an

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Dudung Resmi Jabat Menko Polkam, Geser Djamari Chaniago

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:23

Pelantikan Suyudi Momentum Perkuat Profesionalisme Polri

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:20

Kuseryansyah Perlu Jelaskan Absen di Kejagung Terkait Kasus PT Crowde

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:19

Profil Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru Pengganti Listyo Sigit

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:18

Harta Menko PMK Sugiono Tembus Rp13,15 Miliar

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:10

Prabowo Lantik Dua Wamenkeu Baru untuk Bantu Suahasil

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:08

7 Kali Reshuffle Kabinet Prabowo-Gibran, Ini Daftarnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Inflasi Tahunan September 2026 Capai 3,28 Persen, Ini Biang Keroknya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Utang BLBI Lunas, Hak Tagih Negara Rp 110 Triliun Belum Tuntas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:50

Pulung Agustanto: Pendidikan dan Dunia Usaha Harus Berjalan Seiring

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:46

Selengkapnya