Berita

Ilustrasi/Net

Bisnis

Jepang Kekurangan Pangan, Impor Tembus Rp1.267 Triliun

JUMAT, 28 FEBRUARI 2025 | 13:34 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Jepang menghadapi peningkatan signifikan dalam biaya impor pangan, dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti panen yang buruk, depresiasi nilai Yen, dan persaingan global yang ketat.

Data terbaru dari Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Jepang menunjukkan bahwa pada tahun 2024, impor produk pertanian, termasuk daging, meningkat sebesar 5 persen dibandingkan tahun sebelumnya, mencapai total 9,54 triliun Yen. Impor hasil laut juga naik 2 persen, mencapai 2,06 triliun Yen.

"Nilai total mencapai 11,6 triliun Yen (sekitar Rp 1.267 triliun), naik 5 persen pada tahun ini dan kira-kira dua kali lipat dari level tahun 2010," menurut data, seperti dikutip dari Nikkei Asia, Jumat 28 Februari 2025.


Daging sapi impor adalah contoh utama kenaikan harga. Di sebuah supermarket di pinggiran kota Tokyo baru-baru ini, daging sapi dijual dengan harga sekitar 300 Yen (sekitar Rp32.800) per 100 gram, naik dari sekitar 250 Yen dua tahun lalu.

Faktor-faktor seperti biaya pakan yang tinggi dan upaya pengurangan emisi metana melalui pengendalian jumlah ternak berkontribusi pada kenaikan harga ini.

Selain itu, permintaan global yang kuat dari negara-negara seperti Korea Selatan, Tiongkok, dan Meksiko meningkatkan persaingan untuk mendapatkan daging sapi AS.

Di Jepang, harga impor daging sapi AS rata-rata 985 Yen (sekitar Rp108.000) per kilogram pada tahun 2024, naik 17 persen dari tahun sebelumnya. Hal ini mendorong kenaikan nilai impor daging sapi AS menjadi 474,7 miliar Yen, meningkat 16 persen.

Harga buah-buahan seperti pisang dan nanas juga meningkat akibat kekeringan parah di Filipina yang menurunkan produksi. Jepang berusaha mengimpor dari negara lain seperti Laos, Ekuador, dan Taiwan, namun pelemahan yen turut menaikkan biaya impor, dengan total impor buah meningkat 10 persen menjadi 431,6 miliar Yen.

Selain itu, biji kopi yang hampir seluruhnya diimpor, mengalami kenaikan harga akibat panen buruk di Vietnam karena curah hujan yang rendah. Nilai impor biji kopi melonjak 20 persen menjadi 244,1 miliar Yen pada tahun 2024.

Harga beras domestik juga mengalami lonjakan tajam. Pada tahun 2024, harga rata-rata beras mencapai 23.715 Yen per 60 kg, naik 55 persen dari tahun sebelumnya. Kenaikan ini disebabkan oleh gelombang panas yang mempengaruhi panen, peningkatan permintaan akibat lonjakan pariwisata, dan masalah distribusi.

Untuk mengatasi hal ini, pemerintah Jepang berencana melepaskan hingga 210.000 ton beras dari cadangan daruratnya guna menstabilkan harga dan memastikan ketersediaan pasokan di pasar.

Dengan tingkat swasembada pangan terendah di antara negara-negara industri dan berkurangnya tenaga kerja pertanian, Jepang menghadapi tantangan serius dalam ketahanan pangan.

Para ahli menekankan perlunya kerangka kerja komunitas yang melibatkan partisipasi masyarakat dalam produksi pertanian sambil mempertahankan pekerjaan utama mereka untuk meningkatkan swasembada pangan.

“Kita perlu menciptakan kerangka kerja komunitas tempat orang berpartisipasi dalam produksi pertanian sambil mempertahankan pekerjaan tetap mereka untuk mempertahankan swasembada,” kata Nobuhiro Suzuki, pakar ekonomi pertanian di Universitas Tokyo.

"Jepang perlu memutuskan apakah akan membuat kelaparan atau menanam makanan," ujarnya.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Deklarasi New Delhi, Terjemahkan Komitmen Jadi Hasil Nyata

Sabtu, 12 September 2026 | 21:55

Usulan Masa Jabatan Kades Tak Terbatas Harus Ditolak

Sabtu, 12 September 2026 | 21:10

Polisi Beberkan Peran Tiga Tersangka Pengeroyokan Maut Pejompongan

Sabtu, 12 September 2026 | 20:32

Prabowo Perkuat Peran Indonesia dalam Kerja Sama Multilateral di KTT BRICS 2026

Sabtu, 12 September 2026 | 19:48

Morits L Tamaela Terpilih Sebagai Sekjen ADEKSI, Konsolidasi DPRD Kota Seluruh Indonesia Diperkuat

Sabtu, 12 September 2026 | 19:32

Menyusuri Perkebunan Sawit dan Karet, Mantri BRI Jaga Akses Keuangan Sumatera Selatan

Sabtu, 12 September 2026 | 19:27

Purbaya Tak Mau Ikuti Jepang Pangkas PPN, Ini Alasannya

Sabtu, 12 September 2026 | 18:18

Cek Bansos BPNT September 2026, Ada Pencairan hingga Rp600.000

Sabtu, 12 September 2026 | 18:11

Patahan Surabaya Jadi Sorotan di Medsos, Ini Penjelasan Pakar ITS

Sabtu, 12 September 2026 | 17:54

Cek Daftar HP yang Tak Bisa Lagi WhatsApp Mulai September 2026

Sabtu, 12 September 2026 | 17:40

Selengkapnya