Berita

Bung Ferry Indrasjafrief/RMOLJabar

Publika

Love, Sweeping, dan Tawuran

OLEH: FERRY INDRASJARIEF
JUMAT, 21 FEBRUARI 2025 | 01:58 WIB

KETIKA Media bertanya pada saya sebelum pertandingan, berapa skor yang akan terjadi? Saya jawab dengan cepat, 2-2. Kalau Persija mau menang, harus bisa cetak 2 gol duluan. 

Karena Persib sejauh yang saya lihat, selalu punya keberuntungan di menit 60 ke atas. Persija memang cetak 2 gol duluan.

Tapi ternyata awal babak kedua Persib bisa langsung balas. Gol berikutnya menjadi lebih mudah bagi Persib untuk menyamakan kedudukan. 


Bagi saya, pertandingan kemarin, seperti juga pertandingan lawan Biak, adalah pertandingan berkualitas. Kedua tim menunjukkan pantas berada di papan atas. Adu Teknik, adu strategi, adu ngotot.

Memang pemain tidak bisa selalu memberikan penampilan terbaik, tapi seperti kata Luciano Leandro dibutuhkan mental yang kuat untuk menjadi juara. 

Mental yang dimaksud termasuk bisa tenang dalam menyerang dan bertahan, tidak asal cepat dan tendang. Perjalanan masih panjang.

Persib memang menunjukkan kesiapannya untuk Back To Back. Tapi bukan berarti mereka tidak punya kelemahan. Dewa United sudah membuktikannya.

Saya bukan golongan Glory Hunter. Siapa sih yang enggak ingin menang. Tapi seperti kata Rolling Stone, "You Can't Always Get What You Want". Bagi saya, nonton Persija seperti kalau saya naik gunung. Saya nikmati perjalanannya. 

Dan untuk menikmati saya harus siap fisik, peralatan, dan tentunya logistik. Kalau sampai puncak berarti bonus. Demikian juga nonton Persija. Mulai dari perjalanan menuju stadion, ketemu Jakmania, kuliner sekitar, cari tribun yang pandangannya terbaik tidak terhalang bench, tidak juga terhalang yang nangkring di pagar, tidak banyak asap seperti mandi sauna. 

Meski harus berpindah-pindah tempat karena kewajiban, tapi itu semua menjadi kisah panjang bersama Persija. Bahagia dan kecewa bisa berjalan beriringan atau bergantian. Dan saya yakin itu juga yang dirasakan Persija. 

Masih banyak pertandingan yang akan dihadapi. Dan saya ingin sekali luangkan waktu untuk nengok mereka latihan. Kasih semangat mereka karena memang hanya itu yang bisa saya kasih untuk tim kebanggaan.

Ketika ada seorang menyampaikan pesan di Instagram tentang kekhawatirannya soal tiket online tanpa ada sortir untuk pembeli, saya langsung mempertanyakan ke bagian tiketing sistem. Ternyata mereka mengalami sedikit kendala.

Padahal tahun-tahun sebelumnya bisa. Suatu kemunduran. Saya mengingatkan kalau ini akan jadi PR berat buat keamanan.

Biasanya Bobotoh yang dapat tiket akan melakukan provokasi di media sosial. Kemudian suporter Persija pembeli tiket online di Kategori 1 dan VIP akan terpancing untuk melakukan sweeping

Korban berjatuhan di kedua belah pihak. Bobotoh yang kena sweeping dan Persija Fans yang mencoba melindungi. Dan akhirnya semua itu terbukti.

Is This Football We Want? Provokasi dan Sweeping? 

Keroyokan apakah bagian dari Cinta dan Setia? Tidak terpikirkah tindakan kalian bisa berefek buruk pada tim kebanggaan? Petasan, Red Flare, dan Rasis apakah bisa membangkitkan permainan Persija? Atau kalian merasa itu semua menjadikan kalian tampak keren, fanatik, dan berani? 

Bodohnya, semua itu banyak terekam video dan beredar kemana-mana. Saat ini, dan beberapa hari ke depan, bahkan mungkin akan lebih lama lagi, kita akan menjadi sasaran cacian dan hinaan. 

Meskipun tidak semua tuduhan berdasarkan fakta, tapi terima sajalah. Biarkan yang berkompeten yang melakukan penelusuran dan klarifikasi, mencari kebenaran bukan pembenaran.

Sepak bola adalah panggung yang baik untuk mengangkat popularitas bagi orang politik, YouTuber yang butuh followers, atau mereka yang demen debat di dumay seakan ia ada di lokasi dan tahu banget masalah.

Daripada memanaskan dunia maya dengan saling berdebat, lebih baik diam dan mengukur diri masing-masing. Kita bukan bangsa sombong yang merasa tidak punya kekurangan.

Kita juga bukan bangsa pengecut yang tidak mau mengakui kesalahan. Allah benci itu. Ketika kita bisa mengakui kesalahan, ketika itulah kita tahu bagaimana melakukan perbaikan. 

Jadikan nafsu amarah itu seperti kuda. Sedangkan logika berpikir kita seperti Joki. Dan seorang Joki yang baik pasti bisa mengendalikan kudanya.

Apakah pandangan saya terhadap Bobotoh berubah? Tidak semudah itu Fernando. InsyaAllah saya sudah bukan lagi termasuk golongan labil. Seperti juga di Jakmania, Bobotoh juga banyak yang ingin menghentikan rivalitas kebablasan ini. Layaknya dunia politik, yang diam tidak bersuara itu jauh lebih besar daripada yang nyaring di media sosial. 

Banyak yang sadar kalau kejadian kemarin bisa saja terjadi di manapun. Jadi saya berharap ini menjadi pelajaran buat kita semua. Pupuk terus kecintaanmu pada tim kebanggaan. Kubur dalam-dalam kebencian kita pada lawan.

Karena Allah tidak akan mengubah nasib suatu golongan bila golongan itu tidak mau mengubah nasibnya sendiri. Maaf kalau saya punya pandangan yang berbeda. Persija Selamanya!

*Ferry Indrasjarief adalah mantan Ketua Umum Jakmania

Populer

Enak Jadi Mulyono Bisa Nyambi Komisaris di 12 Perusahaan

Kamis, 12 Februari 2026 | 02:33

Kasihan Jokowi Tergopoh-gopoh Datangi Polresta Solo

Kamis, 12 Februari 2026 | 00:45

Rakyat Menjerit, Pajak Kendaraan di Jateng Naik hingga 60 Persen

Kamis, 12 Februari 2026 | 05:21

Jokowi Layak Digelari Lambe Turah

Senin, 16 Februari 2026 | 12:00

Dua Menteri Prabowo Saling Serang di Ruang Publik

Kamis, 12 Februari 2026 | 04:20

Cara Daftar Mudik Gratis BUMN 2026 Lengkap Beserta Syaratnya

Kamis, 12 Februari 2026 | 20:04

Jokowi Makin Terpojok secara Politik

Minggu, 15 Februari 2026 | 06:59

UPDATE

Tips Aman Belanja Online Ramadan 2026 Bebas Penipuan

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:40

Pasukan Elit Kuba Mulai Tinggalkan Venezuela di Tengah Desakan AS

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:29

Safari Ramadan Nasdem Perkuat Silaturahmi dan Bangun Optimisme Bangsa

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:23

Tips Mudik Mobil Jarak Jauh: Strategi Perjalanan Aman dan Nyaman

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:16

Legislator Dorong Pembatasan Mudik Pakai Motor demi Tekan Kecelakaan

Minggu, 22 Februari 2026 | 08:33

Pernyataan Jokowi soal Revisi UU KPK Dinilai Problematis

Minggu, 22 Februari 2026 | 08:26

Tata Kelola Konpres Harus Profesional agar Tak Timbulkan Tafsir Liar

Minggu, 22 Februari 2026 | 08:11

Bukan Gibran, Parpol Berlomba Bidik Kursi Cawapres Prabowo di 2029

Minggu, 22 Februari 2026 | 07:32

Koperasi Induk Tembakau Madura Didorong Perkuat Posisi Tawar Petani

Minggu, 22 Februari 2026 | 07:21

Pemerintah Diminta Kaji Ulang Kesepakatan RI-AS soal Pelonggaran Sertifikasi Halal

Minggu, 22 Februari 2026 | 07:04

Selengkapnya