Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Jaringan Geng Kriminal Pakistan Ancam Stabilitas Keamanan Negara-negara Teluk

RABU, 19 FEBRUARI 2025 | 20:39 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Laporan Saudi Gazette menyoroti tindakan keras yang signifikan di Mekkah, di mana polisi setempat menangkap sepuluh warga negara Pakistan yang terkait dengan sekitar 31 kasus penipuan keuangan.

Komplotan penipu itu diduga mengumpulkan lebih dari 2,8 juta riyal saudi melalui skema penjualan emas batangan palsu. 

"Penangkapan ini adalah bagian dari upaya berkelanjutan kami untuk melindungi integritas ekonomi dan keamanan masyarakat," ujar juru bicara kepolisian Mekkah, seperti dikutip oleh Saudi Gazette pada Rabu, 19 Februari 2025.


Laporan tersebut menyoroti bahwa insiden yang melibatkan warga Pakistan di negara-negara Teluk bukanlah hal baru. Otoritas di Arab Saudi dan negara Teluk lainnya menyadari meningkatnya ancaman yang ditimbulkan oleh kelompok kriminal terorganisir ini.

Dalam beberapa bulan terakhir, Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), dan Oman telah memperketat pengawasan mereka terhadap aktivitas kriminal yang melibatkan warga Pakistan. 

Menurut laporan dari Saudi Press Agency (SPA) pada Mei 2024, pihak berwenang di Kota Suci Mekkah menangkap beberapa warga Pakistan yang diduga terlibat dalam distribusi narkotika seperti sabu dan heroin. 

"Operasi ini menunjukkan komitmen kami untuk memerangi perdagangan narkoba dan menjaga kesucian kota-kota suci," tegas seorang pejabat tinggi Saudi.

Kasus lain terjadi pada 15 April 2024, ketika Departemen Investigasi Kriminal di Riyadh menangkap dua warga Pakistan yang menggunakan unit perumahan sebagai basis distribusi 13.000 tablet narkotika. 

Insiden-insiden ini mencerminkan kekhawatiran yang lebih luas tentang jaringan perdagangan gelap yang dijalankan oleh warga Pakistan di kawasan tersebut.

Tindakan keras terhadap warga Pakistan di negara-negara Teluk tidak hanya menghasilkan penangkapan tetapi juga deportasi dalam jumlah besar. 

First Post melaporkan pada 10 Januari 2025 bahwa 258 warga Pakistan dideportasi dari tujuh negara, termasuk Arab Saudi dan UEA. Sebanyak 232 di antaranya berasal dari Arab Saudi, dengan sembilan orang diidentifikasi sebagai pengemis profesional dan empat orang menghadapi deportasi karena pelanggaran narkoba. 

"Deportasi ini mencerminkan komitmen kami untuk menegakkan hukum dan melindungi keamanan nasional," kata seorang pejabat imigrasi Arab Saudi.

Implikasi ekonomi dari deportasi ini sangat besar bagi Pakistan, yang sangat bergantung pada kiriman uang dari ekspatriatnya di Teluk. 

Bank Negara Pakistan menunjukkan bahwa sebagian besar arus masuk kiriman uang berasal dari Arab Saudi dan UEA. Tetapi peningkatan deportasi dan pembatasan visa yang lebih ketat dapat berdampak negatif pada stabilitas ekonomi Pakistan.

Mengatasi tantangan yang dihadapi tenaga kerja ekspatriat Pakistan di negara-negara Teluk memerlukan strategi komprehensif yang melibatkan pemerintah, kemitraan internasional, dan keterlibatan komunitas. 

Dalam sebuah pertemuan Komite Tetap Senat tentang Warga Pakistan di Luar Negeri pada 31 Juli 2024, Dr. Arshad Mahmood, sekretaris Kementerian Warga Pakistan di Luar Negeri, menyatakan bahwa 50 persen kejahatan yang dilakukan oleh pekerja asing di UEA dikaitkan dengan warga Pakistan. 

"Kami membutuhkan pendekatan yang terkoordinasi untuk mengatasi akar masalah ini dan memperbaiki citra warga Pakistan di luar negeri," ujarnya.

Namun, prospek perbaikan tampaknya suram mengingat iklim politik yang tidak stabil dan adanya korupsi dalam pemerintahan yang didukung militer di Pakistan. 

Tanpa langkah-langkah tegas dan reformasi yang berkelanjutan, peluang kerja bagi warga Pakistan di negara-negara Teluk kemungkinan akan terus menurun, memperburuk situasi ekonomi negara tersebut.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Dudung Resmi Jabat Menko Polkam, Geser Djamari Chaniago

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:23

Pelantikan Suyudi Momentum Perkuat Profesionalisme Polri

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:20

Kuseryansyah Perlu Jelaskan Absen di Kejagung Terkait Kasus PT Crowde

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:19

Profil Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru Pengganti Listyo Sigit

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:18

Harta Menko PMK Sugiono Tembus Rp13,15 Miliar

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:10

Prabowo Lantik Dua Wamenkeu Baru untuk Bantu Suahasil

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:08

7 Kali Reshuffle Kabinet Prabowo-Gibran, Ini Daftarnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Inflasi Tahunan September 2026 Capai 3,28 Persen, Ini Biang Keroknya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Utang BLBI Lunas, Hak Tagih Negara Rp 110 Triliun Belum Tuntas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:50

Pulung Agustanto: Pendidikan dan Dunia Usaha Harus Berjalan Seiring

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:46

Selengkapnya