Berita

Gapasdap gelar rapat koordinasi dalam rangka persiapan Angkutan Lebaran 2025 di Jakarta, Rabu 9 Februari 2025/Net

Bisnis

Rakor Persiapan Angkutan Lebaran 2025, Gapasdap Minta Kapal Ekspres Ditiadakan

RABU, 19 FEBRUARI 2025 | 19:24 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan atau Gapasdap melakukan rapat koordinasi dalam rangka persiapan Angkutan Lebaran 2025 di Jakarta, Rabu 19 Februari 2025. 

Hadir dalam pertemuan tersebut perwakilan Dirjen Perhubungan Laut dan Dirjen Perhubungan Darat pada Kementerian Perhubungan serta pengamat transportasi.

Ketua Umum Gapasdap Khoiri Soetomo mengatakan perlu adanya masa koordinasi yang lebih panjang untuk menghindari permasalahan di lapangan. Masa koordinasi 2 minggu sebelum pelaksanaan dinilai tidak cukup untuk menginisiasi apa saja yang menjadi hambatan selama berlangsungnya angkutan Lebaran. 


Ia juga menyinggung mengenai masa operasional surat kesepakatan bersama (skb) yang terlalu sempit. Semestinya masa berlaku skb lebih panjang lagi agar tidak terjadi antrian. Ia  merujuk pada angkutan Lebaran 2024. 

"Pada H-7 selama 2 hari terjadi antrian yang panjang di Pelabuhan Ciwandan, sementara di Pelabuhan Merak terjadi kekosongan. Karena pemberlakuan skb terlalu cepat dan fleksibel, akhirnya terjadi keterlambatan dalam pengambilan keputusan untuk mengalihkan kendaraan dari ciwandan ke merak" jelas khoiri.

Gapasdap memiliki beberapa solusi atas permasalahan kemacetan. Solusi ini antara lain pembagian kewenangan, perpanjangan masa berlaku skb dan penghapusan kapal ekspres. Jika usulan solusi ini disetujui, Khoirin memperkirakan akan terjadi peningkatan kapasitas 26,7 persen dari kendaraan dan penumpang dibanding tahun lalu.

"Demi kelancaran kita minta kapal ekspres dihapus saja selama angkutan Lebaran, karena di situ sumber kemacetan terjadi. Biar kita melayani pemudik selama satu minggu tersebut dengan aman dan lancar," katanya.

Pelabuhan Penyeberangan Merak mestinya lebih diutamakan dari pada pelabuhan tambahan lainya karena masih bisa menampung kendaraan dengan kapasitas yang lebih banyak dan lancar, merujuk pada angkutan Lebaran 2024 yang mana Pelabuhan Merak nampak kosong, sedangkan Pelabuhan BBJ Bojonegara mengalami antri panjang.

"Kita liat tahun lalu, pelabuhan Merak kosong dermaganya, sedangkan Pelabuhan BBJ antre Panjang, akhirnya dengan kebijakan kembali di putar balik arah Merak," ungkapnya.

Ia juga meminta kepada pihak ASDP agar tidak memblokir penjualan tiket reguler yang mana menyebutkan tiket reguler penuh, padahal fakta di lapangan sepi dan tidak ada penumpang. Dan ini sering kali terjadi saat momen besar seperti angkutan lebaran dan Nataru.

"Ini sudah saya bahas kepada ASDP agar tidak terulang lagi, bahkan kita mengusulkan agar penjualan tiket di lakukan oleh pihak Independen agar hal hal demikian tidak terjadi," pintanya.

Terkait imbauan pemerintah yang meminta operator angkutan memberikan diskon untuk tarif angkut penyeberangan pada masa arus mudik dan arus balik Lebaran mendatang, dinilai tidak tepat. 

Pengamat transportasi dari Institut Studi Transportasi, Ki Darmaningtyas, menyatakan diskon tarif angkutan seharusnya merupakan tanggung jawab dari pemerintah. 

Di masa reguler, pengusaha transportasi sudah menanggung banyak kerugian. Dan ketika masuk masa angkutan arus mudik dan arus balik menjadi harapan bagi operator untuk mendapat keuntungan sebagai kompensasi kerugian yang sebelumnya ditanggung.

"Jadi pemerintah itu memberikan subsidi angkutan penyeberangan pada saat Lebaran. Bentuknya macam macam misalnya pengurangan PPN selama masa Lebaran. Pada intinya jangan dibebankan pada operator," jelasnya. 

Darmaningtyas memperkirakan jumlah pemudik tahun ini akan mengalami penurunan. Ia melihat faktor ekonomi di masyarakat yang cenderung bertambah sulit menjadi halangan utama bagi masyarakat untuk melakukan perjalanan mudik. 

Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

KPK Setengah Hati Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:16

Optimisme dan Tantangan Golkar di Era Bahlil Lahadalia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:08

Dibuka Program Madrasah Layak Belajar 2026 untuk 700 Madrasah

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:38

Prabowo dan DPR Harus Dengarkan Desakan Gibran Mundur dari Wapres

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:23

Bantu Kuliner Indonesia Mendunia, Pemerintah Diminta Tiru Thailand

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:01

Lumat Arema, Persija Puncaki Klasemen

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:39

PDIP: Usulan Luhut Cederai Rasa Keadilan Masyarakat

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:19

Infrastruktur Perikanan KNMP di Papua Tengah Diharapkan Dorong Ekonomi Nelayan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:01

Usulan Luhut soal Ubah Definisi Korupsi Membahayakan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:35

Polisi Bunuh Polisi Melonjak Dua Kali Lipat pada 2026

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:15

Selengkapnya