Berita

Ilustrasi/Net

Politik

Pemangkasan Anggaran Ancam Stabilitas Sosial

SELASA, 18 FEBRUARI 2025 | 13:23 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Presiden Prabowo Subianto diharapkan dapat mengambil langkah tegas dalam mengevaluasi kebijakan efisiensi anggaran yang saat ini diterapkan oleh jajaran birokrasi. 

Menurut Direktur Merah Putih Stratejik Institut (MPSI), Noor Azhari, meskipun kebijakan ini bertujuan baik untuk memutus mata rantai mafia anggaran di birokrasi, namun implementasinya justru berdampak serius pada program-program yang menyentuh langsung kepentingan rakyat.

"Dampak besar yang ditimbulkan oleh pemangkasan anggaran, khususnya terhadap program Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K), yang selama ini menjadi tumpuan bagi mahasiswa dari keluarga kurang mampu. Jika tidak segera dievaluasi, kebijakan ini berpotensi menghambat akses pendidikan tinggi bagi ratusan ribu mahasiswa, memperlebar kesenjangan sosial, hingga menimbulkan ketidakstabilan sosial di masyarakat," kata Noor Azhari dalam keterangan tertulis, Selasa, 18 Februari 2025. 


Noor Azhari mengungkapkan bahwa sebanyak 663.821 mahasiswa dari total 844.174 mahasiswa on going diperkirakan tidak dapat menerima pembayaran KIP-K pada tahun 2025. 

Hal ini berarti ratusan ribu mahasiswa yang telah mengandalkan beasiswa tersebut akan kesulitan melanjutkan studi mereka. 

"Tanpa bantuan KIP-K, mahasiswa dari keluarga miskin tidak punya pilihan selain berhenti kuliah. Ini akan menjadi pukulan telak bagi masa depan pendidikan kita," ujarnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa kebijakan ini akan berpotensi menghentikan penerimaan mahasiswa baru penerima KIP-K tahun 2025. Padahal, berdasarkan website resmi Kemdikti Saintek pendaftaran telah dibuka sejak 4 Februari 2025, banyak anak muda Indonesia yang berharap mendapatkan bantuan pendidikan ini. 

"Artinya, ribuan calon mahasiswa dari keluarga tidak mampu yang ingin kuliah akan kehilangan kesempatan mereka. Ini bertentangan dengan visi pemerintah dalam menciptakan pendidikan yang inklusif," tegasnya.

Noor Azhari menilai bahwa pemangkasan anggaran KIP-K tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga berisiko menghambat upaya pemerintah dalam memutus rantai kemiskinan. 

"KIP-K adalah instrumen penting untuk memberikan kesempatan bagi anak-anak dari keluarga miskin agar bisa memperoleh pendidikan tinggi dan meningkatkan taraf hidup keluarganya. Tanpa ini, mereka akan terjebak dalam siklus kemiskinan yang sulit diputus," bebernya.

Ia juga menyoroti bahwa kebijakan ini akan semakin memperlebar kesenjangan sosial, karena hanya mereka yang mampu secara finansial yang bisa melanjutkan pendidikan tinggi. 

"Efek jangka panjangnya, kita akan melihat gap yang semakin besar antara masyarakat kelas menengah atas dan kelompok ekonomi rendah dalam hal akses pendidikan dan mobilitas sosial," jelasnya.

Noor Azhari mengingatkan bahwa ketidakpuasan akibat pemangkasan dana KIP-K bisa berdampak luas pada stabilitas sosial. 

"Mahasiswa adalah kelompok yang kritis. Jika mereka merasa hak pendidikannya direnggut, bukan tidak mungkin akan terjadi aksi protes besar-besaran. Pemerintah harus mempertimbangkan dampak sosial yang lebih luas dari kebijakan ini, dan kemarin sudah terbukti secara serentak mahasiswa turun aksi menuntut efek kebijakan ini," jelasnya.

Dengan dampak yang begitu luas dan serius, Noor Azhari menegaskan keyakinannya bahwa Presiden Prabowo, yang dikenal memiliki kepedulian tinggi terhadap rakyat, akan segera mengevaluasi kebijakan ini dan menindak tegas pihak-pihak yang salah dalam menerjemahkan kebijakan efisiensi anggaran.

"Kami percaya Presiden Prabowo akan melihat persoalan ini secara jernih dan mengambil langkah cepat untuk mengoreksi kebijakan yang berpotensi merugikan masa depan pendidikan dan kesejahteraan rakyat," pungkasnya.

Populer

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Terkejut Mantan Ajudan Jadi Tersangka KPK, Alexander Marwata Kenang Kinerja Dias

Kamis, 30 Juli 2026 | 11:52

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

Kasus OTT Pemalang: Anggota Polri yang Bertugas di KPK Jadi Tersangka

Kamis, 30 Juli 2026 | 10:29

Wewenang Ditjen Bea Cukai Sudah Melampaui Namanya

Minggu, 02 Agustus 2026 | 02:12

UPDATE

Perbedaan Perlakuan Tersangka Jadi Ujian Kesetaraan Hukum

Minggu, 09 Agustus 2026 | 08:23

KDKMP Kembalikan Kendali Ekonomi ke Warga Desa

Minggu, 09 Agustus 2026 | 08:19

Jangan Terjebak Angka, Pertumbuhan Ekonomi Harus Berdampak ke Masyarakat

Minggu, 09 Agustus 2026 | 07:24

Gus Salam: Caketum PBNU Harus Bersaing Secara Sehat

Minggu, 09 Agustus 2026 | 07:21

Kuasa Hukum Yaqut Tegaskan Kebijakan Kuota Haji Harus Dinilai Utuh

Minggu, 09 Agustus 2026 | 07:14

Konsolidasi Rakyat untuk Pemerintahan Bersih

Minggu, 09 Agustus 2026 | 06:48

Petani Diminta Jangan Tertipu Konten Pupuk Viral di Medsos

Minggu, 09 Agustus 2026 | 06:23

Menteri Luar Negeri Layak Diganti karena Dicap Tidak Profesional

Minggu, 09 Agustus 2026 | 05:54

InfraNexia jadi Pilar Utama Bisnis Telkom untuk Wholesale Connectivity

Minggu, 09 Agustus 2026 | 05:27

BGN Libatkan Peran Guru Perkuat Pengawasan MBG

Minggu, 09 Agustus 2026 | 04:48

Selengkapnya