Berita

Dok Foto/Ist

Publika

Korupsi dan Pengkhianatan dalam Konteks Geopolitik Indonesia

Oleh: Drs. Muhammad Bardansyah.Ch.Cht*
RABU, 12 FEBRUARI 2025 | 00:08 WIB

INDONESIA dengan lokasi strategis di "poros maritim dunia" dan kekayaan SDA yang melimpah (minyak, gas, mineral, hutan, dll.), menjadi magnet kepentingan global. Korupsi yang sistemik di sektor SDA sering menjadi pintu masuk “pengkhianatan terhadap kedaulatan nasional”, di mana aktor lokal (pejabat, pengusaha) berkolaborasi dengan entitas asing untuk mengeksploitasi sumber daya secara ilegal atau tidak adil.

Berbagai contoh nyata di antaranya, Illegal fishing dan kerusakan laut: Pejabat korup menerima suap untuk membiarkan kapal asing yang mencuri ikan di perairan Indonesia, merugikan negara hingga Rp101 triliun/tahun (KKP, 2021). Ini melemahkan ketahanan pangan dan kedaulatan maritim.

Pertambangan illegal: Kasus nikel di Sulawesi, di mana pejabat daerah mengeluarkan izin tambang tanpa AMDAL kepada perusahaan asing, mengorbankan lingkungan dan hak masyarakat adat.


Korupsi semacam ini merupakan bentuk ‘pengkhianatan struktural’, karena mengalihkan manfaat SDA dari rakyat ke kepentingan asing/elit, mengikis legitimasi pemerintah, dan menjadikan Indonesia rentan dalam percaturan geopolitik.

Geostrategi SDA dan Intervensi Asing

Kekayaan SDA Indonesia menarik negara seperti China, AS, dan Uni Eropa yang bersaing mengamankan pasokan mineral strategis (nikel, timah, bauksit) untuk transisi energi. Korupsi memfasilitasi intervensi asing melalui:

Skema utang berbasis SDA: Proyek infrastruktur dalam skema Belt and Road Initiative (BRI) China di Indonesia sering dikaitkan dengan praktik mark-up anggaran dan jaminan konsesi SDA sebagai collateral, berisiko menjerat Indonesia dalam "debt-trap diplomacy".

Pencucian uang melalui sektor ekstraktif: Laporan Financial Action Task Force (FATF) 2023 mencatat Indonesia sebagai salah satu negara dengan risiko tinggi aliran dana ilegal dari sektor pertambangan.

Kebijakan Pemerintah yang Kontroversial

Kebijakan seperti UU Cipta Kerja (Omnibus Law) dan pembukaan ibu kota baru (IKN) menuai kritik karena dinilai mengorbankan tata kelola lingkungan dan hak masyarakat demi investasi asing. Contoh:

Pelonggaran AMDAL dianggap memudahkan korporasi asing mengeksploitasi SDA tanpa pertanggungjawaban ekologis.

Alih fungsi hutan untuk IKN: Proyek IKN berpotensi menguntungkan konglomerat dengan koneksi politik, sementara mengabaikan keberlanjutan ekosistem Kalimantan.

Kebijakan ini, jika disertai praktik korupsi, dapat menjadi alat "state capture" oleh oligarki dan kekuatan asing, merusak tata kelola demokrasi dan kedaulatan nasional.

Dampak terhadap Stabilitas Regional

Kerawanan Konflik Horizontal: Korupsi di sektor agraria (misal: alih fungsi lahan kelapa sawit) memicu konflik sosial yang dimanfaatkan oleh aktor separatis atau kelompok radikal.

Mengganggu Solidaritas ASEAN: Indonesia, sebagai kekuatan utama ASEAN, kehilangan kredibilitas dalam memperjuangkan isu seperti kedaulatan Laut China Selatan jika kebijakan dalam negerinya dianggap tidak transparan.

Perubahan Iklim Global: Deforestasi akibat korupsi izin tambang/HTI (Hutan Tanaman Industri) menjadikan Indonesia sulit memenuhi komitmen emisi net-zero, mengurangi pengaruhnya dalam forum internasional seperti G20.

Rekomendasi Strategis

Memperkuat Lembaga Anti-Korupsi: Restorasi mandat KPK dan pengadilan Tipikor untuk menangani kasus korupsi bernuansa geopolitik.

Transparansi Kontrak SDA: Menerapkan sistem publikasi kontrak migas/mineral berbasis EITI (Extractive Industries Transparency Initiative).

Diplomasi Ekonomi Berdaulat: Menegaskan prinsip "no exploitation" dalam kerja sama internasional, seperti kebijakan hilirisasi nikel yang diperjuangkan di WTO.

Pemberdayaan Masyarakat Adat: Mengakui hak ulayat sebagai benteng pertahanan dari perampasan SDA oleh korporasi asing.

Kesimpulan

Korupsi di sektor SDA bukan hanya kejahatan domestik, tapi bentuk pengkhianatan terhadap mandat konstitusi (Pasal 33 UUD 1945) yang menjadikan SDA sebagai "amanah untuk rakyat".

Dalam konteks geopolitik, praktik ini melemahkan posisi tawar Indonesia di tengah persaingan AS-China dan mengancam stabilitas regional.

Solusinya memerlukan integritas kebijakan, penguatan institusi, dan kesadaran kolektif bahwa SDA adalah modal strategis untuk mencapai visi Indonesia sebagai Global Maritime Fulcrum.

Kita percaya pemimpin pemerintahan Indonesia yang baru mempunyai nasionalisme yang kuat untuk melindungi negerinya dan mensejahterakan rakyatnya, namun agaknya perlu waktu untuk membereskan hal ini, karena bagaimanapun para pelaku penyimpangan ini tentunya memiliki pengaruh dan jaringan yang kuat untuk melanggengkan operasinya. Di lain pihak masyarakat harus cerdas dan memperkuat kesetiakawanan Nasional dalam menjaga bumi pertiwi ini.

Kita semua berharap agar anak cucu kita kelak secara keseluruhan minimal harus berada di atas garis kemiskinan mengingat begitu besarnya anugerah Tuhan berupa tanah yang subur di atasnya terdapat hutan tropis lebat yang memiliki manfaat besar serta dalam kandungannya terdapat energi berapa mineral dan panas bumi maupun gas yang sangat melimpah.

*Penulis adalah pemerhati masalah kebangsaan

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

UPDATE

KPU akan Berulang Tahun ke-73 di November Tahun Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 12:22

Nasib Atlet Setelah Lampu Stadion Padam

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Trump: Perjanjian Damai dengan Iran akan Diteken Hari Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Pemuda 24 Tahun Jadi Tersangka Usai Bawa Botol Diduga Bom Molotov ke Aksi DPR

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:25

Ekonom Ungkap Akar Munculnya Narasi "Sell Indonesia"

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:41

KPK Bongkar Korupsi "Sempurna" di Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:39

Panggung Atraksi Wushu di Sekolah Rakyat Manado Pukau Mensos

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:01

Daya Beli Masyarakat Terancam Jika BBM Subsidi Ikut Naik

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:51

KPK Amankan Dokumen saat Geledah Kantor Hingga Rumah Dinas Bupati Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:44

Menhan Jepang Persembahkan Model Kapal Perang "Makasa" ke Prabowo di Kertanegara

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:31

Selengkapnya