Berita

Sam Nujoma/Net

Dunia

Presiden Pertama Namibia Sam Nujoma Meninggal Dunia

MINGGU, 09 FEBRUARI 2025 | 13:58 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Pejuang kemerdekaan Namibia yang dikenal sebagai bapak bangsa, Sam Nujoma telah meninggal dunia pada usia 95 tahun. 

Kabar duka ini diumumkan oleh Presiden Namibia saat ini, Nangolo Mbumba, pada hari Minggu, 9 Februari 2025. Dikatakan bahwa Nujoma menghembuskan napas terakhirnya pada Sabtu malam, 8 Februari 2025 setelah menjalani perawatan di rumah sakit di Windhoek.

"Selama tiga minggu terakhir, Presiden Pendiri Republik Namibia dan Bapak Pendiri Bangsa Namibia dirawat di rumah sakit untuk perawatan medis dan observasi. Sayangnya, kali ini, putra paling gagah berani di negeri kita tidak dapat pulih dari penyakitnya," kata Mbumba, seperti dimuat ABC News. 


Nujoma dihormati sebagai tokoh sentral yang memimpin Namibia menuju kemerdekaan dari apartheid Afrika Selatan pada tahun 1990. 

Ia menjabat sebagai presiden pertama Namibia selama 15 tahun, mengawal negara itu menuju demokrasi dan stabilitas setelah mengalami penjajahan Jerman yang panjang dan perang kemerdekaan sengit melawan Afrika Selatan.

Sebagai pemimpin gerakan kemerdekaan SWAPO, Nujoma menghabiskan hampir 30 tahun dalam pengasingan sebelum kembali ke Namibia dan menjadi pemimpin demokratis pertama negara itu. 

Ia bergabung dalam barisan pemimpin Afrika yang membawa negaranya keluar dari pemerintahan kolonial dan rezim minoritas kulit putih, seperti Nelson Mandela dari Afrika Selatan, Robert Mugabe dari Zimbabwe, Kenneth Kaunda dari Zambia, dan Samora Machel dari Mozambik.

Nujoma dikenal sebagai pemimpin karismatik yang memainkan peran penting dalam menyatukan Namibia pascakemerdekaan. Ia berhasil membangun rekonsiliasi nasional setelah perpecahan akibat perang dan kebijakan apartheid Afrika Selatan yang membagi negara berdasarkan etnis.

Bahkan lawan politiknya pun mengakui jasanya dalam membentuk konstitusi demokratis dan merangkul pengusaha serta politisi kulit putih ke dalam pemerintahan pascakemerdekaan. 

Meskipun demikian, Nujoma tidak lepas dari kontroversi. Saat berada di pengasingan, ia dituduh menekan perbedaan pendapat dan dicap sebagai seorang Marxis.

Di panggung internasional, Nujoma sering membuat pernyataan keras terhadap negara-negara Barat. Ia pernah mengklaim bahwa AIDS adalah senjata biologis buatan manusia dan melontarkan kritik terhadap homoseksualitas, yang ia sebut sebagai "ideologi asing dan korup."

Ia juga membangun hubungan erat dengan Korea Utara, Kuba, Rusia, dan Tiongkok, yang mendukung gerakan kemerdekaan Namibia dengan memberikan bantuan senjata dan pelatihan. Nujoma tetap berusaha menjalin hubungan dengan negara-negara Barat. 

Pada tahun 1993, ia menjadi pemimpin Afrika pertama yang diterima di Gedung Putih oleh Presiden AS Bill Clinton, yang menyebutnya sebagai "George Washington di negaranya" dan "pahlawan sejati gerakan dunia menuju demokrasi."

Sam Nujoma lahir dari keluarga miskin sebagai anak tertua dari 11 bersaudara. Masa kecilnya dihabiskan untuk membantu orang tuanya bertani dan beternak. Ia bersekolah di sekolah misi sebelum pindah ke Windhoek untuk bekerja di South African Railways. 

Aktivismenya dimulai sejak usia muda, dan setelah ditangkap dalam sebuah protes politik pada tahun 1959, ia melarikan diri dari Namibia dan mulai memimpin gerakan kemerdekaan dari pengasingan.

Sebagai presiden, ia meletakkan dasar bagi Namibia yang stabil dan demokratis, meskipun kebijakan-kebijakannya sering kali memicu perdebatan. Hingga akhir hayatnya, ia tetap menjadi simbol perjuangan dan kemerdekaan bagi rakyat Namibia.

Dengan wafatnya Nujoma, Namibia kehilangan salah satu putra terbaiknya. Duka menyelimuti bangsa yang ia bangun dengan perjuangan panjang, sementara dunia mengenang jejak langkahnya dalam sejarah kemerdekaan Afrika.

Populer

Menyorot Nuansa Politis Penetapan Direksi Pelindo

Senin, 02 Maret 2026 | 06:59

Harga Tiket Pesawat Kembali Tidak Masuk Akal

Selasa, 03 Maret 2026 | 03:51

Harianto Badjoeri Dikenal Dermawan

Senin, 23 Februari 2026 | 01:19

Rusia dan China akan Dukung Iran dari Belakang Layar

Minggu, 01 Maret 2026 | 04:20

Kecelakaan Moge di Kulon Progo, Istri Bos Rokok HS Meninggal

Senin, 02 Maret 2026 | 18:54

Jokowi Lebih Jago dari Shah Ruh Khan soal Main Drama

Senin, 23 Februari 2026 | 03:31

KAI Wisata Hadirkan Kereta Panoramic Rute Jakarta–Yogyakarta dan Solo

Sabtu, 28 Februari 2026 | 15:37

UPDATE

Nina Agustina Tinggalkan PDIP, lalu Gabung PSI

Kamis, 05 Maret 2026 | 16:10

KPK Panggil Pimpinan DPRD Madiun Ali Masngudi

Kamis, 05 Maret 2026 | 16:08

Bareskrim Serahkan Rp58 Miliar ke Negara Hasil Eksekusi Aset Judol

Kamis, 05 Maret 2026 | 15:53

KPK Panggil Lima Orang terkait Korupsi Pemkab Lamteng, Siapa Saja?

Kamis, 05 Maret 2026 | 15:26

Dua Pengacara S&P Law Office Dipanggil KPK

Kamis, 05 Maret 2026 | 15:20

Legislator PKS: Bangsa yang Kuat Mampu Produksi Kebutuhan Pokok Sendiri

Kamis, 05 Maret 2026 | 15:16

Perketat Pengawasan Transportasi Mudik

Kamis, 05 Maret 2026 | 15:09

Evakuasi WNI dari Iran Harus Lewati Jalur Aman dari Serangan

Kamis, 05 Maret 2026 | 15:02

BPKH Gelar Anugerah Jurnalistik 2026, Total Hadiah Rp120 Juta

Kamis, 05 Maret 2026 | 15:01

TNI Tangani Terorisme Jadi Ancaman Kebebasan Sipil

Kamis, 05 Maret 2026 | 15:00

Selengkapnya