Berita

Ilustrasi kecelakaan di Gerbang Tol/Istimewa

Politik

Kecelakaan di Gerbang Tol Ciawi Harus Jadi Koreksi Semua Pihak

RABU, 05 FEBRUARI 2025 | 21:07 WIB | LAPORAN: AGUS DWI

Kecelakaan yang terjadi di Gerbang Tol Ciawi 2, Bogor, pada Selasa malam 4 Februari 2025 harus menjadi koreksi dan evaluasi semua pihak, agar tidak terjadi lagi peristiwa yang sama di kemudian hari. Salah satu yang harus dievaluasi adalah penggunaan kartu e-Toll.

Di mana, banyaknya korban dalam kecelakaan di GT Ciawi 2 itu karena terjadinya penumpukan atau antrean kendaraan di pintu tol. Hal itu disebabkan oleh salah satu pengendara mobil yang tidak bisa atau kesulitan menggunakan kartu e-Tollnya untuk membuka pintu tol.

Pengamat kebijakan publik, Agus Pambagio berpandangan, kecelakaan yang terjadi di GT Ciawi 2 ini tidak bisa hanya menyalahkan satu pihak saja seperti sopir truk yang mengalami rem blong yang kemudian menabrak semua mobil yang antre di pintu tol. Semua pihak, baik itu Kementerian Perhubungan, Kementerian PUPR, Korlantas, dan pihak Jasa Raharja serta dan para pengemudi kendaraan harus bertanggung jawab atas insiden tersebut.


“Terjadinya korban yang sangat banyak seperti yang terjadi pada kecelakaan di pintu tol Ciawi ini bisa saja dihindari jika semua pihak mematuhi regulasi yang ada,” ujar Agus Pambagio melalui keterangannya, Rabu, 5 Februari 2025.

Karena, di balik terjadinya rem blong truk, menurut Agus, korban kecelakaan menjadi lebih banyak karena terjadi antrean kendaraan di pintu tol yang disebabkan kartu salah satu pengendara tidak bisa digunakan. Karena itu, dia mengingatkan para pengendara agar memeriksa terlebih dulu kartu e-Toll sebelum berkendara, mengingat saat ini tidak ada lagi petugas yang menjaga pintu tol.

“Harus dari kesadaran kita juga, bahwa kita sudah harus siapkan dana yang cukup buat lewat tol,” katanya.

Selain itu, kecelakaan yang terjadi itu juga disebabkan masalah regulator yang tidak bekerja dengan baik. Alhasil banyak pihak yang tidak menaati peraturan dan menyebabkan banyak terjadinya kecelakaan.

Dia mencontohkan penggunaan kamera ETLE (Electronic Traffic Law Enforcement), yaitu kamera yang digunakan untuk menangkap pelanggaran lalu lintas di jalan tol yang hingga kini tidak ada kabarnya lagi.

Begitu juga dengan penggunaan OBU (On Board Unit) untuk membaca perjalanan kendaraan saat melewati gerbang tol, yang tiba-tiba dihentikan Kementerian PUPR dan menggantinya dengan sistem Multi Lane Free Flow (MLFF) yang menggunakan teknologi Global Navigation Satelit System (GNSS) dari Hungaria.

“Tapi, sampai sekarang urusannya ini juga tidak jelas. Jadi mau bagaimana mengurangi kecelakaan di jalan tol?” kritiknya.

Agus juga menyoroti soal pembangunan gerbang tol yang kurang tepat. Di mana gerbang tol yang ada saat ini banyak yang terlalu berbelok, Padahal seharusnya dibuat agak sejajar dengan jalan tolnya. Kondisi seperti itu membuat kendaraan terutama besar seperti truk sulit untuk melewatinya.

“Sudah saya sampaikan juga ke operator agar diperbaiki. Tapi memang itu tergantung lahan, karena bangunnya kadang-kadang juga tidak dihitung dengan baik,” jelasnya.

Banyaknya kecelakaan di jalan tol itu, lanjut Agus, juga disebabkan sopir-sopir truk yang tidak dilatih untuk bisa berkendara dengan baik.

“Kan Kementerian Perhubungan dan Dinas Perhubungan itu tugasnya melatih para sopir-sopir itu supaya dapat bersertifikat,” demikian Agus Pambagio.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Bos Danantara Ungkap Proses Pangkas BUMN Tak Mudah

Rabu, 07 Oktober 2026 | 12:11

Hingga Siang Nusron Belum Hadir, KPK Masih Menunggu

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:53

PJBS Direvisi, Porsi Saham Bayan Resources yang Dibeli Haji Isam Bertambah Jadi 10,08 Miliar

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:44

Nasib Gibran Kini Tergantung Prabowo

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:37

Empat WNI Pulang ke Tanah Air usai Enam Bulan Disandera Bajak Laut Somalia

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:31

PDIP: Kebohongan Gibran Lulus SMA Sederajat Tercatat dalam Putusan Negara!

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:31

Putusan MK soal Gibran Buka Perdebatan Demokrasi

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:21

DPR Minta Pemerintah Percepat Huntara bagi Korban Gempa Flores

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:19

Rita Widyasari Kembali Diperiksa KPK

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:17

Badai Dekati Amerika, Harga Minyak Naik Lagi

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:01

Selengkapnya