Berita

Ubedilah Badrun (kedua dari kiri) dalam acara Diskusi Publik “Membuktikan Korupsi Jokowi Pasca Nominasi OCCRP” yang diselenggarakan Masyarakat Penegak Demokrasi (MPK) di Jakarta Selatan, Sabtu, 1 Februari 2025/Ist

Politik

Terkait Rilis OCCRP

Ubedilah Tagih Janji Presiden Kejar Koruptor Hingga Antartika

MINGGU, 02 FEBRUARI 2025 | 07:17 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Warisan buruk pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) terus menjadi sorotan di kalangan pengamat politik dan aktivis.

Pengamat politik Ray Rangkuti mengatakan rakyat tidak punya kewenangan membuktikan korupsi Jokowi, hanya penyidik yang bisa menentukan. 

Hal tersebut dikatakan Ray Rangkuti pada acara Diskusi Publik “Membuktikan Korupsi Jokowi Pasca Nominasi OCCRP” yang diselenggarakan Masyarakat Penegak Demokrasi (MPK) di Jakarta Selatan, Sabtu, 1 Februari 2025.


Dalam keterangannya Sekjen MPK Dwi Kundoyo mengatakan, publik harus terus diingatkan tentang kerusakan yang ditinggalkan Jokowi setelah tidak lagi menjadi Presiden. 

“Bukan hanya tatanan demokrasi yang dirusak, nominasi OCCRP menunjukkan pemerintahan Jokowi koruptif,” ucap Dwi. 

Sementara itu, Dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Ubedilah Badrun, menyebutkan rilis yang dikeluarkan OCCRP terkait Jokowi yang dinominasikan sebagai koruptor memperkuat laporan dirinya kepada KPK tahun 2022 dan 2024.

"Kita berharap pemerintah saat ini membuktikan kesungguhannya yang katanya akan mengejar koruptor sampai Antartika. Sudah terang benderang KPK harus tindak lanjut rilis OCCRP," kata Ubed.

Sambungnya, diperlukan adanya gerakan rakyat untuk mendesak KPK menindaklanjuti laporan masyarakat terkait indikasi korupsi yang dilakukan oleh pemerintahan Jokowi. 

“Tanpa adanya gerakan rakyat, kecil kemungkinan KPK berani mengusut dugaan korupsi yang terjadi dan dilakukan oleh Jokowi,” tandasnya.

Sementara itu, mantan Komisioner Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) Edwin Partogi, di tempat yang sama menyoroti soal lain dari pemerintahan Jokowi.

Lanjut dia, utang luar negeri yang diwariskan Jokowi kepada Prabowo yang nilainya lebih dari Rp8 ribu triliun menjadi masalah lain yang ditinggalkan Jokowi selain korupsi.

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

ANTAM Pertahankan Posisi di Tiga Indeks ESG KEHATI Periode Juni–November 2026

Jumat, 19 Juni 2026 | 12:22

Dari Korupsi BGN ke RUU HAM: Meninjau Korban yang Terlupakan

Jumat, 19 Juni 2026 | 12:02

KSAU Resmikan Skadron Udara 18 di Lanud Halim, Perkuat Dukungan Penerbangan Kenegaraan

Jumat, 19 Juni 2026 | 12:01

Pimpinan DPR Siap Temui Mahasiswa yang Demo di Parlemen Hari Ini

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:57

PGN Gelar Program Bedah Dapur GasKita 2026 demi Manjakan Pelanggan

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:45

KPK Dalami Peran Mertua Menpora Dito Ariotedjo dalam Skema Kuota Haji 50:50

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:42

BPJPH dan ESQ Siapkan SDM Tangguh Hadapi Wajib Halal 2026

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:37

Sugiono Sampaikan Salam Prabowo untuk Putin, Minta Maaf Absen di KTT ASEAN-Rusia

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:35

Harga Minyak Dunia Stabil saat Selat Hormuz Kembali Dibuka

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:27

93 Sekolah Rakyat Permanen Hampir Rampung, Mensos Imbau Pemda Perkuat Kolaborasi

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:09

Selengkapnya