Berita

Industri Perminyakan Serbia (NIS)/See-Industry

Bisnis

Sanksi Baru AS Paksa Rusia Angkat Kaki dari Industri Minyak Serbia

SENIN, 13 JANUARI 2025 | 07:15 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Presiden Serbia Aleksandar Vucic akan pembicaraan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, setelah Amerika Serikat (AS) memberlakukan sanksi terhadap Industri Perminyakan Serbia (NIS), perusahaan minyak dan gas utama Serbia yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh Rusia. 

Dalam konferensi pers akhir pekan, Vucic mengungkapkan bahwa AS menuntut agar Gazprom, perusahaan milik negara Rusia, sepenuhnya menarik kepemilikannya dari NIS. 

"Dari apa yang telah kita lihat, ini lebih tentang 'penghapusan' daripada 'pengurangan.' Mereka bahkan tidak akan mengizinkan opsi 49 persen; mereka menginginkan keluar sepenuhnya dari NIS," kata Vucic, seperti dikutip dari Euro News, Senin 13 Januari 2025.


NIS adalah satu-satunya pemasok gas di Serbia dan memegang mayoritas kepemilikan jaringan pipa gas utama yang menyalurkan gas dari Rusia ke rumah tangga dan sektor industri di negara tersebut. Gazprom Neft memiliki 50 persen saham NIS, Gazprom 6,15 persen, dan 29,9 persen dimiliki oleh Republik Serbia. 

Sanksi ini merupakan bagian dari upaya AS untuk menekan sumber pendapatan utama Rusia yang digunakan dalam konflik di Ukraina. Menteri Keuangan AS, Janet Yellen, menyatakan bahwa langkah ini bertujuan untuk mengurangi pendapatan Rusia yang digunakan untuk membiayai perang di Ukraina. 

Vucic menekankan bahwa situasi ini tidak mudah bagi Serbia dan bahwa pemerintah sedang berupaya mencari solusi yang memungkinkan NIS tetap beroperasi. 

"Kita perlu segera memulai rencana untuk mengubah struktur kepemilikan," ujarnya.

Serbia telah mempertahankan hubungan erat dengan Moskow sejak invasi ke Ukraina dan menolak menerapkan sanksi terhadap Rusia, meskipun berstatus sebagai kandidat anggota Uni Eropa. 

Namun, sanksi baru ini diperkirakan akan memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian negara tersebut, mengingat ketergantungan Serbia pada energi Rusia. 

Ada spekulasi bahwa pembicaraan dengan Putin mungkin difokuskan pada pembelian saham perusahaan milik Moskow oleh Serbia.

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Dede Indra: Polri Serius Perangi Narkoba!

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 14:26

Grup Salim Guyur Rp2,25 Triliun untuk Buyback Saham, Ini Efeknya bagi LSIP, INDF, dan ICBP

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 14:13

Fokus Penuhi Kebutuhan Domestik, RI Mulai Rem Ekspor Gas ke Singapura

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 13:35

98 Resolution Network Soroti Tata Kelola SDA dan Ekonomi Kerakyatan di Dua Tahun Prabowo-Gibran

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 13:07

TRUK dan PNSE Rajai Daftar Saham Top Gainers Sepekan

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:46

Harga iPhone Duo di Indonesia, Mulai Rp 45 Juta hingga Rp 75 Juta

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:30

Tanpa Suara, BYD Atto 1 Seruduk Mobil dan Lindas Pengemudi Ojol

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:26

5 Gunung di Pulau Jawa Dilanda Karhutla Pekan Ini

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:23

Cara Cek Sebaran Asap Karhutla lewat Website BMKG dan NASA

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:02

Mengenal Virus Shamonda yang Ditemukan pada Pasien Meninggal di Prancis

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 11:59

Selengkapnya