Berita

Ilustrasi virus HMPV/Net

Global

Negara Tetangga Bereaksi Terhadap Wabah Virus HMPV di Tiongkok

MINGGU, 05 JANUARI 2025 | 11:03 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Beberapa negara tetangga Tiongkok telah mengeluarkan pembaruan kesehatan masyarakat tentang human metapneumovirus (HMPV) di tengah laporan peningkatan infeksi pernapasan di negeri tirai bambu itu.

Peningkatan kasus HMPV yang dilaporkan telah memicu kekhawatiran global, karena baru-baru ini ada beberapa kasus yang dilaporkan di luar Tiongkok daratan yakni di Hong Kong dan Malaysia.

Baik pemerintah Tiongkok maupun Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) belum mengumumkan keadaan darurat kesehatan masyarakat terkait virus tersebut.


Laporan resmi dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tiongkok menunjukkan bahwa tingkat berbagai penyakit mirip flu meningkat di negara itu. 

Data sepekan jelang akhir tahun 2024 menyebut kasus infeksi HMPV meningkat di antara orang-orang yang berusia di bawah 14 tahun dan tinggal di provinsi-provinsi utara Tiongkok. 

Beberapa pejabat kesehatan dari negara-negara tetangga mengeluarkan pernyataan untuk meredakan kekhawatiran. 

Mereka mencatat bahwa HMPV telah ada dalam beberapa tahun terakhir dan mengingatkan penduduk bahwa selalu ada peningkatan penyakit pernapasan selama musim dingin.

Direktorat Jenderal Layanan Kesehatan India, Atul Goel mengatakan pihaknya telah menganalisis data wabah pernapasan di negara tersebut dan tidak ada peningkatan substansial dalam data Desember 2024. 

"Ada berita yang beredar tentang wabah Human Metapneumovirus (HMPV) di Tiongkok. (Di India) Tidak ada yang perlu dikhawatirkan tentang situasi saat ini," ujarnya, seperti dimuat India Express pada Minggu, 5 Januari 2025. 

Kementerian Kesehatan Malaysia dalam sebuah pernyataan menyebut virus itu tergolong bukan jenis yang baru dan tidak terlalu berbahaya. 

"Ini bukan penyakit baru dan di negara ini, infeksi HMPV tidak perlu dilaporkan atau diberitahukan menurut Undang-Undang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular 1988," bunyi laporan tersebut. 

Sementara itu, Kementerian Layanan Kesehatan Nasional Pakistan telah mengarahkan Institut Kesehatan Nasional (NIH) untuk memantau virus tersebut secara ketat. 

"Pertemuan melalui tautan video yang melibatkan pejabat kesehatan dan pakar medis telah dijadwalkan untuk menilai situasi dan merumuskan strategi respons," ungkap Pakistan. 

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Mao Ning mengatakan pada hari Jumat, 3 Januari 2025 menyebut infeksi pernapasan cenderung memuncak selama musim dingin.

"Penyakit tersebut tampaknya tidak terlalu parah dan menyebar dengan skala yang lebih kecil dibandingkan tahun sebelumnya," ujarnya. 

HMPV, ditemukan pada tahun 2001, sering kali menyebabkan gejala yang mirip dengan flu biasa, termasuk batuk, demam, hidung tersumbat atau berair, sakit tenggorokan, mengi, sesak napas, dan ruam.

Namun, risiko penyakit parah lebih tinggi bagi orang yang berusia di bawah lima tahun atau lebih dari 65 tahun, dengan kasus-kasus tersebut membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih.

Virus ini juga dapat menyebabkan komplikasi seperti bronkiolitis, bronkitis, pneumonia, asma, atau infeksi telinga. 

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS, kasus-kasus biasanya paling umum terjadi pada akhir musim dingin dan musim semi. Hingga kini belum ada vaksin untuk HMPV.

Seperti virus serupa lainnya, HMPV biasanya menyebar dari orang ke orang melalui percikan batuk dan bersin, melalui kontak manusia seperti berpelukan atau berciuman, dan melalui sentuhan permukaan dan benda-benda yang terkontaminasi virus lalu ke mulut, hidung, atau mata.

Populer

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Tak Hanya Mobil Listrik, Hybrid Juga Diusulkan Bebas Ganjil-Genap

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:31

Kabinet Watch Penting untuk Ruang Dialog Menteri dan Kelompok Kritis

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:25

Dumai Transshipment Hub: Ujian Geopolitik Maritim Indonesia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:17

Laba Emiten Naik 15 Persen, Danantara Minta Investor Tak Terpaku Sentimen Pasar

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:16

Apple Siap Gelar Acara Pro and Tell Akhir Oktober 2026

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:09

12.000 Lowongan Kerja Dibuka di Jakarta untuk Semua Kalangan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:08

BAZNAS dan Ruang Amal Indonesia Antarkan 47 Mustahik ke Dunia Kerja

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:06

KPK Bakal Secepatnya Kembali Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:48

Wacana Dumai Transshipment Hub Perlu Dukungan, Pelindo Harus Lebih Bertaring di Selat Malaka

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:47

Terancam Turun Kelas, Danantara Akui Sentimen MSCI Tak Bisa Dianggap Enteng

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:33

Selengkapnya