Berita

Ilustrasi/Net

Bisnis

Ekonom Wanti-Wanti Potensi Kenaikan Pajak Baru

KAMIS, 02 JANUARI 2025 | 15:26 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Pemerintah resmi memberlakukan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 12 persen mulai 1 Januari 2025. 

Namun, kenaikan itu hanya berlaku untuk jasa dan barang mewah, sementara untuk barang kebutuhan umum tidak terjadi kenaikan atau batal diterapkan. 

Hal ini menjadi perhatian serius dari ekonom. 


Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, mengingatkan bahwa meskipun kebijakan tersebut hanya diberlakukan untuk barang mewah, menurutnya ada potensi penerapan kebijakan pajak baru yang lebih agresif yang mengintai masyarakat dan pelaku usaha.

Bhima menjelaskan, dengan menerapkan kenaikan PPN 12 persen hanya untuk barang dan jasa super mewah, pemerintah juga harus mencari sumber lain untuk menutupi defisit anggaran negara dan membayar utang jatuh tempo. 

“Begitu PPN barang dan jasa umum tidak jadi 12 persen, ini dari mana pemerintah bisa mendorong penerimaan pajak lainnya atau pungutan lainnya untuk menutup defisit APBN dan membayar utang jatuh tempo?” ujarnya kepada RMOL, dikutip Kamis 2 Januari 2025. 

Menurut Bhima, langkah pemerintah untuk mencari penerimaan baru kemungkinan besar akan berujung pada pengenaan tarif pajak baru dan pungutan tambahan yang dapat menambah beban masyarakat dan dunia usaha di hari mendatang. 

“Maka akan banyak sekali tarif pajak baru maupun pungutan yang harus diwaspadai oleh masyarakat, juga oleh pelaku usaha,” tegas Bhima.

Ia juga mengingatkan bahwa meskipun PPN 12 persen batal diterapkan untuk kebutuhan umum, pemerintah tetap berencana untuk melanjutkan program-program prioritas di tahun 2025.

Lebih jauh, Bhima menilai PPN 12 persen hanya salah satu dari sembilan kebijakan yang dapat menurunkan daya beli masyarakat pada tahun ini. Selain PPN, kebijakan-kebijakan lain seperti asuransi wajib kendaraan bermotor, Tapera, dan kenaikan iuran BPJS Kesehatan,kata Bhima juga dapat mempengaruhi daya beli masyarakat. 

"Kita belum bahas soal asuransi wajib kendaraan bermotor, tapera, iuran BPJS kesehatan akan naik, dan banyak lagi kebijakan lainnya," ujar Bhima.

Di sisi lain, Bhima juga menyoroti celah hukum yang memungkinkan pemerintah untuk kembali menaikkan tarif PPN di masa depan. 

“Pasal 7 dalam Undang-Undang Harmonisasi Peraturan Pajak 2021 masih memungkinkan pemerintah menaikkan PPN sampai 15 persen,” ungkap Bhima.

“Oleh karena itu kita tidak happy ya, dengan hanya PPN 12 persen dibatalkan. Kita kan menuntutnya, Celios menuntutnya turun. Kalau bisa PPN itu jadi 8 persen,” pungkas Bhima sambil menegaskan pentingnya kebijakan fiskal yang ramah terhadap daya beli masyarakat.

Bhima mengingatkan, meskipun PPN 12 persen hanya untuk barang mewah, masyarakat dan pelaku usaha harus tetap waspada terhadap kemungkinan kebijakan pajak baru yang bisa menambah beban ekonomi mereka.

Populer

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

UPDATE

DPR Minta Pemerintah Perkuat Insfrastruktur Kesehatan

Senin, 26 Oktober 2026 | 16:28

Obligasi Global Perdana Danantara Laris

Senin, 26 Oktober 2026 | 16:13

Legislator PDIP Ini Janji Perjuangkan Alsintan

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:57

Pengurangan Angka Pelanggaran Jadi Indikator Keberhasilan Operasi Patuh Jaya 2026

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:44

KNMP Potensi Menjawab Kebutuhan Nelayan Kecil

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:30

Sinopsis dan Kisah Kelam Clayface, Musuh Ikonik Batman

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:19

Pemakzulan Gibran Harus Lewat Jalur Konstitusi, Bukan cuma Tekanan Politik

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:15

Jelang Pemilu, Oposisi Israel Klaim Netanyahu Tak Layak Pimpin Negara

Senin, 26 Oktober 2026 | 14:58

Pemerintah Siapkan Skema Baru Pengadaan Energi, Negara Bakal Deal Langsung dengan Pemasok

Senin, 26 Oktober 2026 | 14:57

KPU Perlu Fokus Benahi Pemilu 2029

Senin, 26 Oktober 2026 | 14:53

Selengkapnya