Berita

Ilustrasi batubara/Net

Bisnis

Tahun Depan Pasar Batu Bara Diprediksi Tertekan

RABU, 25 DESEMBER 2024 | 22:52 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Pasar batu bara global diprediksi menghadapi tekanan berat pada 2025, baik dari sisi harga maupun permintaan. 

Analis menyoroti pengaruh transisi energi, dinamika geopolitik, dan perubahan kebijakan di berbagai negara yang membentuk prospek sektor ini.

Sepanjang tahun 2024, harga kontrak berjangka batu bara Newcastle tercatat turun 8,73 persen secara year to date (YtD), mencapai 125 Dolar AS (Rp2 juta) per ton pada akhir tahun. 


Penurunan ini didorong oleh lemahnya permintaan dari China akibat perlambatan ekonomi dan sektor manufaktur, serta peralihan Eropa ke energi terbarukan. Selain itu, komitmen India terhadap pengembangan energi terbarukan diyakini ikut menekan konsumsi batu bara.

Peningkatan produksi domestik di China telah memperburuk kondisi kelebihan pasokan. Sementara pelemahan aktivitas industri di Amerika Serikat (AS) dan Eropa semakin mengurangi permintaan global.

Menurut riset RHB Sekuritas pada 20 Desember 2024, harga batu bara acuan diperkirakan turun menjadi 120 Dolar AS (Rp1,9 juta) per ton pada 2025, lebih rendah dibandingkan proyeksi 2024 sebesar 135 Dolar AS (Rp2,1 juta) per ton. 

Meski demikian, margin perusahaan tambang diprediksi tetap bertahan. Permintaan batu bara global diperkirakan stabil, didukung kebutuhan dari India dan negara-negara ASEAN. 

Namun, peningkatan pasokan dari energi alternatif seperti gas alam diproyeksikan memberikan tekanan tambahan pada harga.

Laporan Market Outlook 2025 dari OCBC Sekuritas memperkirakan penurunan permintaan batu bara global sebesar 0,3 persen pada 2025, berdasarkan data International Energy Agency (IEA). 

India dan negara-negara ASEAN diproyeksikan menjadi penopang utama konsumsi batu bara, di tengah melemahnya permintaan dari Tiongkok dan negara maju.

Sementara itu, Australia berencana memangkas ekspor batu bara termal dan metalurgi pada 2025-2026, sehingga memperketat pasokan. 

Dengan kombinasi pasokan yang stagnan dan permintaan yang menurun, harga batu bara Newcastle diprediksi berkisar antara 100 Dolar AS hingga 110 Dolar AS per ton, lebih rendah dari rata-rata 135,9 Dolar AS per ton pada 2024.

Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

Prabowo Tegaskan Indonesia Tidak Takut Ancaman MSCI

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:32

Buruh Usul UMP 2027 Naik 9,5 Persen, Ini Respons Menaker

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:20

Ombudsman Ungkap Titik Rawan Korupsi di Layanan Pertanahan dan Kebencanaan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:19

Kasus CSR BI Jalan di Tempat, MAKI dan ARUKKI Bersiap Ajukan Praperadilan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:12

Pembenahan MBG hingga Program 3 Juta Rumah jadi PR Besar Prabowo

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:59

Begini Jurus BI Stabilkan Rupiah Hadapi Ancaman MSCI hingga Konflik Geopolitik

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:58

Nusron Hadiri Sidang Kabinet Paripurna setelah Dua Kali Absen Pemeriksaan KPK

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:53

PJJ dan WFH Bisa Jadi Opsi Antisipasi Asap Karhutla

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:53

UU Pelindungan Ketenagakerjaan Masih Diproses Setneg, Yassierli Minta Publik Bersabar

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:50

Event Konser hingga Festival Belanja Jadi Mesin Uang Jakarta

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:48

Selengkapnya