Berita

Pengamat Politik, Yusfitriadi/RMOLJabar

Politik

Biaya Pilkada Dikembalikan ke DPRD Lebih Mahal

SELASA, 17 DESEMBER 2024 | 03:12 WIB | LAPORAN: AGUS DWI

Wacana Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang dipilih oleh DPRD terus menjadi perbincangan para elite politik termasuk juga aktivis maupun pengamat politik. 

Bagi pengamat politik asal Bogor, Jawa Barat, Yusfitriadi, wacana tersebut bukan hal baru. Sebab, pemilihan dipilih DPRD atau pemilihan tertutup itu pernah bergulir saat Pemilu 2014 lalu, namun wacana tersebut tidak masuk dalam skenario pemilihan pada 2019 hingga 2024 sehingga pemilihan terus berlangsung dengan sistem dipilih langsung oleh rakyat. 

"Nah, hari ini Prabowo dengan beberapa stakeholder elite politik kembali membangun narasi, mengembalikan pilkada baik tingkat gubernur, bupati, maupun walikota ke DPRD. Bahkan, sangat mungkin ketika itu sudah digulirkan maka pemilihan presiden dan wakil presiden juga kembali dipilih oleh DPR RI," kata Yusfitriadi, kepada RMOLJabar, Senin 16 Desember 2024. 


Dengan adanya wacana pemilihan dipilih DPRD yang diutarakan presiden sebagai lembaga tertinggi negara maka tidak menutup kemungkinan, wacana itu akan mengkristal dalam beberapa waktu ke depan. 

Yusfitriadi menambahkan, munculnya wacana tersebut karena berdasarkan pernyataan presiden maupun para elite politik lainnya yang menganggap bahwa biaya politik saat ini sangat mahal. Namun, kata Yus, yang dimaksud biaya politik yang mahal itu dari sudut mana. 

"Kalau saya melihat biaya politik yang mahal itu mungkin karena adanya money politic (politik uang), kemudian ada juga praktik-praktik mahar, praktik politik pragmatis dan praktik transaksional. Nah, jika hal itu digabungkan tentu mahal, tapi kan hal tersebut jelas dilarang tetapi mereka yang melakukannya demi merebut kekuasaan," terang Yus. 

"Jadi saya pikir kalau alasannya hanya biaya politik yang mahal itu hanya alasan klasik, bukan pada kesalahan dalam sistem politik di pemilihan. Justru kalau dikembalikan ke DPRD maupun DPR RI biayanya akan lebih mahal, sebab praktik-praktik tersebut (transaksional) tidak akan hilang, dan yang merasakannya bukan rakyat melainkan para elite politik yang tentunya biaya politik akan lebih mahal," sambungnya. 

Wacana ini mulanya dilempar oleh Presiden Prabowo Subianto. Dia berbicara mengenai perbaikan sistem pemilihan kepala daerah (Pilkada). Ia mencontohkan negara Malaysia hingga India yang memilih gubernur lewat DPRD.

Populer

Menyorot Nuansa Politis Penetapan Direksi Pelindo

Senin, 02 Maret 2026 | 06:59

Keputusan KIP Kuatkan Keyakinan Ijazah Jokowi Palsu

Minggu, 22 Februari 2026 | 06:18

Harianto Badjoeri Dikenal Dermawan

Senin, 23 Februari 2026 | 01:19

Rusia dan China akan Dukung Iran dari Belakang Layar

Minggu, 01 Maret 2026 | 04:20

Jokowi Lebih Jago dari Shah Ruh Khan soal Main Drama

Senin, 23 Februari 2026 | 03:31

Kecelakaan Moge di Kulon Progo, Istri Bos Rokok HS Meninggal

Senin, 02 Maret 2026 | 18:54

PKB Kutuk Pembunuhan Ali Khamenei dan Desak PBB Jatuhkan Sanksi ke Israel-AS

Minggu, 01 Maret 2026 | 18:07

UPDATE

Pelajar Islam Indonesia Kutuk Trump dan Netanyahu

Rabu, 04 Maret 2026 | 10:08

Prabowo Tunjukkan Soliditas Elite Lewat Pertemuan dengan Mantan Presiden

Rabu, 04 Maret 2026 | 10:08

Bupati Pekalongan Dikabarkan Telah Jadi Tersangka Dugaan Benturan Kepentingan PBJ

Rabu, 04 Maret 2026 | 09:45

Masihkah Indonesia Konsisten dengan Politik Luar Negeri Bebas Aktif?

Rabu, 04 Maret 2026 | 09:43

KPK Buka Peluang Periksa BPN Depok soal Suap Lahan PT KD

Rabu, 04 Maret 2026 | 09:38

Irak Ikut Pangkas Produksi, Harga Minyak Makin Naik

Rabu, 04 Maret 2026 | 09:21

Pertemuan Elite jadi Cara Prabowo Redam Polarisasi Politik

Rabu, 04 Maret 2026 | 09:15

Bursa Asia Anjlok, Kospi Jatuh Paling Dalam

Rabu, 04 Maret 2026 | 08:51

Harga Emas Dunia Terkoreksi Gara-gara Dolar AS

Rabu, 04 Maret 2026 | 08:41

Menaker Tetapkan Tenggat BHR Ojol 2026: Paling Lambat H-7 Lebaran

Rabu, 04 Maret 2026 | 08:26

Selengkapnya