Berita

Penasihat Khusus Presiden Bidang Haji, Muhadjir Effendy dalam Milad ke-7 Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) di Hotel Pullman, Jakarta, Kamis 12 Desember 2024/RMOL

Politik

Muhadjir Effendy: Durasi Haji Indonesia Lama dan Mahal

KAMIS, 12 DESEMBER 2024 | 18:56 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Penasihat Khusus Presiden Bidang Haji, Muhadjir Effendy, menyampaikan kritik terhadap ekosistem pelaksanaan ibadah haji Indonesia yang dinilai masih jauh dari efisiensi dan optimalisasi potensi dalam negeri. 

Dalam pidatonya pada peringatan Milad ke-7 Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), Muhadjir menyoroti beberapa aspek utama pelaksanaan haji. Seperti durasi pelaksanaan haji yang terlalu lama, tingginya biaya transportasi, serta peluang pemberdayaan sumber daya lokal untuk kebutuhan konsumsi jemaah.

“Sampai sekarang kenapa haji Indonesia lama sekali, padahal hanya tawaf, wukuf, sa'i. Menurut saya, seminggu cukup. Kenapa harus sampai berlama-lama?” kata Muhadjir di Hotel Pullman, Jakarta, Kamis 12 Desember 2024. 


Muhadjir juga mengungkapkan bahwa sekitar 70 persen biaya haji digunakan untuk transportasi, terutama penerbangan. Karena itu, ia menekankan pentingnya mencari solusi efisiensi di sektor ini agar biaya haji dapat ditekan.

"Jadi kalau pesawat bisa kita efisiensikan, lama hajinya juga bisa bisa dikurangi, biaya hajinya juga. Itu baru (efisiensi) transport, belum yang lain," tegasnya.

Selain transportasi, mantan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) itu juga mengkritik aspek konsumsi jemaah haji yang seharusnya lebih banyak menggunakan bahan makanan dari Indonesia. Ia mengaku telah melakukan kunjungan langsung ke Tulungagung untuk melihat potensi peternakan ikan patin sebagai salah satu alternatif sumber bahan makanan jemaah haji.

“Saya cek langsung di lapangan. Dari segi volume, ikan patin kita tidak akan kurang untuk memenuhi kebutuhan jemaah. Kalau harga selisihnya hanya sekitar Rp2.000 per kilogram, kenapa kita tidak ambil dari sini? Peternak dan petani juga terbantu,” jelasnya.

“Kalau dari Vietnam, kita tidak tahu bagaimana prosesnya. Tetapi kalau dari dalam negeri, kita bisa pastikan semuanya sesuai standar," sambung Muhadjir.

Tak hanya bahan makanan utama, Muhadjir juga menyinggung tentang bumbu masakan yang menurutnya masih kurang memaksimalkan produk dalam negeri. Saat ini, kebutuhan bumbu untuk konsumsi jemaah haji mencapai 250 kontainer, tetapi Indonesia baru mampu memenuhi sekitar 75 kontainer.

“Kita menghadapi masalah besar karena mengabaikan yang kecil. Padahal, kalau bumbu diambil dari Indonesia, petani kita di berbagai daerah seperti Trenggolo siap menyuplai asal dibimbing,” tegasnya.

Menurut Muhadjir, pemberdayaan bahan lokal tidak hanya akan mengurangi ketergantungan pada impor, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi petani dan peternak di Indonesia.

Dalam acara tersebut, Muhadjir juga mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo Subianto memberikan perhatian khusus terhadap pengelolaan haji di Indonesia.

"Sebagaimana kita ketahui bahwa saat ini ada proses transformasi pengelolaan haji sesuai arahan presiden dan gagasan beliau itu sejak belum dilantik dan ketika terpilih memberi perhatian khusus tentang haji, beberapa pihak diminta saran, termasuk saya, Menteri Agama hingga BPKH," tuturnya.

Ia menambahkan, perubahan ekosistem haji saat ini akan diarahkan untuk memberikan manfaat maksimal kepada jemaah dengan mengutamakan efisiensi dan kualitas pelayanan.

"Haji ke depan harus efisien, bermakna, dan memberikan pelayanan yang mencerahkan kepada para jemaah," tutupnya.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

OASE III PTKIN 2026: UIN Sunan Kalijaga Raih Juara Umum

Sabtu, 07 November 2026 | 08:19

Wall Street Rebound, Nasdaq Masih Babak Belur

Sabtu, 07 November 2026 | 08:05

Luruskan Tudingan Rekayasa, Muhammad Munawar: Proses Etik Dasaad Dilakukan secara Kelembagaan

Sabtu, 07 November 2026 | 07:38

Siapa Stephen Miller, Orang Kepercayaan Trump yang Jadi Kepala Staf Gedung Putih?

Sabtu, 07 November 2026 | 07:28

Gejolak Politik AS dan Krisis Prancis Tekan Pasar Saham Eropa

Sabtu, 07 November 2026 | 07:10

Ahmad Doli Kurnia dan Masa Depan Golkar

Sabtu, 07 November 2026 | 06:50

Penyadapan Presiden Bukan Pengalihan Isu, Tapi Operasi Terorganisir

Sabtu, 07 November 2026 | 06:25

Palestina dan Percaturan Imperium Global

Sabtu, 07 November 2026 | 05:59

Penyadapan Prabowo Ancaman Serius terhadap Negara

Sabtu, 07 November 2026 | 05:41

Kasus Listyo Sigit Momentum Evaluasi Sistem Keamanan Nasional

Sabtu, 07 November 2026 | 05:18

Selengkapnya