Berita

Rembuk Perempuan Pesisir di Anjungan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta pada 11 Desember 2024/Ist

Nusantara

Rembuk Perempuan Pesisir Dorong Pemenuhan Air Bersih dan Sanitasi

RABU, 11 DESEMBER 2024 | 23:31 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Koalisi Masyarakat untuk Air dan Sanitasi Berkeadilan (Justice and Inclusive WASH Coalition-Indonesia) yang terdiri dari Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI), Kesatuan Perempuan Pesisir Indonesia (KPPI), Perkumpulan Inisiatif, Seknas FITRA, dan IBP, menggelar Rembuk Perempuan Pesisir di Anjungan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta pada Rabu, 11 Desember 2024.

Kegiatan ini dilatarbelakangi karena kondisi wilayah pesisir yang memprihatinkan terutama terkait dengan akses atas air minum dan air bersih, fasilitas sanitasi, dan pengelolaan sampah.

Survei pendataan keluarga nelayan tradisional di 26 kabupaten/kota serta pemetaan partisipatif yang dilaksanakan di 5 wilayah pesisir di 5 kab/kota (Lombok Timur, Bangkalan, Semarang, Tangerang dan Medan) yang dilakukan oleh Koalisi Masyarakat untuk Air dan Sanitasi Berkeadilan menemukan bahwa wilayah desa pesisir tidak memiliki infrastruktur saluran air limbah domestik yang memadai, termasuk septictank. 


Hasil pemetaan partisipatif mencatat lebih dari 90 persen rumah tangga nelayan di Kota Medan, Kabupaten Tangerang, dan Kabupaten Bangkalan tidak memiliki saluran pembuangan limbah rumah tangga dan saluran pembuangan air kotor, serta membuang air limbah domestik langsung ke daratan terbuka, saluran drainase, sungai, maupun pantai atau laut.

Ketua KPPI, Rosinah menyampaikan bahwa Rembuk Perempuan Pesisir ini diharapkan dapat mendorong komitmen pemerintah dalam membuat kebijakan prioritas alokasi Dana Desa untuk WASH (Water, Sanitation and Hygiene), lingkungan yang aman dan responsif GEDSI.

“Selain itu, kami mendorong komitmen Pemerintah untuk menyediakan ruang (spaces) partisipasi penuh perempuan pesisir dan kelompok rentan lainnya dalam proses perencanaan dan penganggaran terkait WASH, lingkungan yang aman dan responsif GEDSI mulai dari tingkat desa sampai nasional,” jelas Rosinah 

Sementara itu, Pius Widiyatmoko dari Perkumpulan Inisiatif menyampaikan bahwa Perkumpulan Inisiatif memberikan pendampingan kepada KPPI untuk melakukan pemetaan partisipatif dengan tools KoboCollect untuk mendalami permasalahan air minum dan air bersih, fasilitas sanitasi, dan pengelolaan sampah di daerah pesisir.  

Tahapan pendampingan dimulai dengan melibatkan ibu-ibu KPPI dalam menyusun instrumen, melakukan pendataan, mengolah data dan menyusun laporan hasil survei. Selanjutnya, Perkumpulan Inisiatif memberikan penguatan kepada ibu-ibu KPPI sehingga mampu melakukan advokasi kebijakan kepada pemerintah.  

Ibu-Ibu KPPI mampu melakukan audiensi dengan pemerintah desa, pemerintah kabupaten, dan anggota DPRD untuk menyampaikan hasil survei dan usulan solusi atas persoalan air minum dan air bersih, fasilitas sanitasi, dan pengelolaan sampah di daerah pesisir. Kemudian, ibu-ibu KPPI melaksanakan Rembuk Perempuan Pesisir dengan mengundang Pemerintah Desa, Pemerintah Daerah  (Bappeda, DLH, Dinas Kebersihan, Dinas Permukiman, Dinas Kesehatan, DPMPD), Anggota DPRD,  dan Ombudsman. 

Kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai media aspirasi perempuan kepada pemerintah daerah sehingga terbangun komunikasi serta komitmen untuk  menyelesaikan permasalahan perempuan di isu WASH (Water, Sanitation and Hygiene). 

Sementara itu, Ketua Umum KNTI, Dani Setiawan dalam sambutannya menyampaikan bahwa Peran perempuan dalam ekosistem perikanan dan kelautan sangat penting dan strategis, baik di Indonesia maupun di seluruh dunia. 

“Peranannya (perempuan) terbentang dari mulai memproduksi ikan hingga mengolah dan memasarkan. Perempuan Pesisir juga berperan penting dalam menjaga kebutuhan gizi keluarga. Karena itu, kebijakan kelautan dan perikanan harus menyasar secara khusus dampaknya bagi perempuan,” terang Dani.

Lanjut dia, Masalah sanitasi, akses air, dan kesehatan pemukiman Pesisir merupakan hal paling mendasar. Sayangnya, infrastruktur sanitasi, air bersih, dan pengelolaan sampah di pemukiman Pesisir sangat buruk dan memprihatinkan. 

“Saya setuju yang dikatakan Presiden Prabowo, buat apa Indonesia masuk jadi anggota G20 tapi rakyatnya miskin dan gak punya WC. Buat apa masuk OECD tapi masyarakat pesisir nggak bisa akses air bersih. Tidak ada gunanya,” pungkasnya.

Populer

Enak Jadi Mulyono Bisa Nyambi Komisaris di 12 Perusahaan

Kamis, 12 Februari 2026 | 02:33

Kasihan Jokowi Tergopoh-gopoh Datangi Polresta Solo

Kamis, 12 Februari 2026 | 00:45

Rakyat Menjerit, Pajak Kendaraan di Jateng Naik hingga 60 Persen

Kamis, 12 Februari 2026 | 05:21

Jokowi Layak Digelari Lambe Turah

Senin, 16 Februari 2026 | 12:00

Dua Menteri Prabowo Saling Serang di Ruang Publik

Kamis, 12 Februari 2026 | 04:20

Cara Daftar Mudik Gratis BUMN 2026 Lengkap Beserta Syaratnya

Kamis, 12 Februari 2026 | 20:04

Roy Suryo Cs di Atas Angin terkait Kasus Ijazah Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 12:12

UPDATE

ASEAN di Antara Badai Geopolitik

Minggu, 22 Februari 2026 | 19:44

Oknum Brimob Bunuh Pelajar Melewati Batas Kemanusiaan

Minggu, 22 Februari 2026 | 19:32

Bocoran Gedung Putih, Trump Bakal Serang Iran Senin atau Selasa Depan

Minggu, 22 Februari 2026 | 19:24

Eufemisme Politik Hak Dasar Pendidikan

Minggu, 22 Februari 2026 | 19:22

Pledoi Riva Siahaan Pertanyakan Dasar Perhitungan Kerugian Negara

Minggu, 22 Februari 2026 | 18:58

Muncul Framing Politik di Balik Dinamika PPP Maluku

Minggu, 22 Februari 2026 | 18:22

Bank Mandiri Perkuat UMKM Lewat JuraganXtra

Minggu, 22 Februari 2026 | 17:51

Srikandi Angudi Jemparing

Minggu, 22 Februari 2026 | 17:28

KPK Telusuri Safe House Lain Milik Pejabat Bea Cukai Simpan Barang Haram

Minggu, 22 Februari 2026 | 16:43

Demi Pengakuan, Somaliland Bolehkan AS Akses Pangkalan Militer dan Mineral Kritis

Minggu, 22 Februari 2026 | 16:37

Selengkapnya