Berita

Ilustrasi/Ist

Bisnis

Pembatasan Dicabut, Australia Bisa Ekspor Daging Lagi ke China

RABU, 04 DESEMBER 2024 | 09:32 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Hubungan Australia-China semakin menghangat. China baru-baru ini telah mencabut pembatasan perdagangan untuk daging Australia.

Pemerintah Australia mengumumkan, China telah mencabut pembatasan perdagangan pada dua fasilitas pemprosesan daging Australia, yang memungkinkan dimulainya kembali ekspor daging merah. 

Beijing kini telah mencabut pembatasan dari semua 10 rumah potong hewan Australia yang dilarang antara tahun 2020 dan 2022.


Larangan tersebut diberlakukan sekitar waktu ketika China memblokir impor komoditas termasuk batu bara, jelai, dan anggur dari Australia setelah Canberra menyerukan penyelidikan independen terhadap asal-usul Covid-19.

Hampir semua pembatasan tersebut telah dicabut sejak pemerintahan baru berkuasa di Canberra pada tahun 2022, dengan perdagangan lobster, produk terlarang terakhir, yang akan dimulai kembali pada akhir tahun.

Dikutip dari Reuters, Rabu 4 Desember 2024, Perdana Menteri Anthony Albanese menyambut baik kabar tersebut. Menurutnya, ini adalah berita bagus bagi eksportir, produsen, dan petani Australia. 

"Sejak kami terpilih, kami telah bekerja tanpa lelah untuk memulai kembali perdagangan dan itulah yang kami lihat. Ini adalah kemenangan bagi perdagangan dan kemenangan bagi lapangan kerja Australia," kata Albanese.

China merupakan pasar daging sapi dan daging sapi muda Australia terbesar kedua setelah Amerika Serikat. 

China menerima sekitar 200.000 ton daging sapi per tahun dengan nilai sekitar 1,5 miliar Dolar AS dalam beberapa tahun terakhir, menurut data perdagangan Australia.

Australia masih dapat mengirim daging sapi ke China ketika rumah potong hewan dilarang karena pengolah lain tidak dikenai pembatasan.

Ekspor daging sapi Australia melonjak tahun ini karena negara tersebut mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh rendahnya produksi AS, meskipun sebagian besar peningkatan terjadi pada pengiriman ke Amerika Serikat dan Jepang.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

PLN Perluas SPKLU Signature Dukung Ekosistem Kendaraan Listrik

Minggu, 13 September 2026 | 08:21

Pemerintah Didesak Tetapkan Status Darurat Kesehatan Imbas Karhutla

Minggu, 13 September 2026 | 08:01

AntreEV Permudah Antrean SPKLU Lewat PLN Mobile

Minggu, 13 September 2026 | 07:40

Tak Ada Kerusakan Akibat Gempa di Perairan Kepulauan Seribu

Minggu, 13 September 2026 | 07:03

Bisa Pengaruhi Investor, Penegak Hukum Ditantang Adil di Kasus Transfer Pricing

Minggu, 13 September 2026 | 06:51

Inovasi Jebolan Program Pertamuda Pertamina Bantu Nelayan Peroleh Cuan

Minggu, 13 September 2026 | 06:21

Ketika Hukum Terlihat Sedang Mencari Pasal, Bukan Kebenaran

Minggu, 13 September 2026 | 05:47

Nilai Adat Harus Dipegang Teguh dan Diwariskan ke Setiap Generasi

Minggu, 13 September 2026 | 05:16

Budi Daya Lobster Modeling Batam Tembus Pasar Ekspor, Daerah Lain Siap Menyusul

Minggu, 13 September 2026 | 04:43

Strategi Pengusaha Indonesia Hadapi CBAM EU dan IEU-CEPA

Minggu, 13 September 2026 | 04:14

Selengkapnya