Berita

Ilustrasi demokrasi dan teknologi informasi dan komunikasi (Foto: Antara)

Publika

TIK dan Demokrasi: Bagaimana Teknologi Mengubah Wajah Partisipasi Politik?

Oleh : Sabita Maheswari Gunawan
SELASA, 03 DESEMBER 2024 | 12:33 WIB

BANYAK kemajuan dalam teknologi informasi dan komunikasi (TIK) di Indonesia. Pemanfaatan internet menjadi aspek krusial dalam perkembangan teknologi, dan tingkat penggunaan internet di berbagai wilayah Indonesia mengalami peningkatan yang signifikan. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mengumumkan jumlah pengguna internet Indonesia pada tahun 2024 mencapai 221.563.479 jiwa atau sebesar 79,5% dari total populasi 278.696.200 jiwa. 

Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, terutama internet dan media sosial, telah menghasilkan akses informasi yang sangat terbuka bagi semua orang. Perkembangan yang begitu cepat dapat berdampak secara positif maupun negatif terhadap pemerintahan dan politik di negara ini. Era digital telah mengubah lanskap politik dengan cara yang sangat jauh berbeda dengan beberapa dekade lalu. Di era digital yang terus berkembang pesat, teknologi informasi dan komunikasi telah membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam konteks demokrasi dan partisipasi politik.

Munculnya teknologi digital telah mengubah cara masyarakat berinteraksi dengan pemerintah dan mempengaruhi dinamika politik yang ada. Perkembangan teknologi digital membuka ruang baru yang mengizinkan partisipasi politik secara lebih inklusif dan memungkinkan warga untuk berpartisipasi dalam proses pembuatan keputusan politik dengan cara yang lebih mudah dan cepat. Media sosial digadang-gadang sebagai pilar keempat dalam demokrasi. 


Trias politika yang dikenal sebagai pilar demokrasi adalah lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif. Dalam perkembangannya, peran media sosial sebagai pengawas jalannya pemerintahan dan demokrasi semakin diakui dan dianggap sebagai pilar keempat dalam sistem demokrasi. Media sosial memungkinkan warga untuk berbagi pendapat, memobilisasi dukungan, dan menyampaikan aspirasi politik mereka kepada pemimpin politik dan institusi yang berwenang. Melalui alat-alat digital ini, partisipasi politik menjadi lebih inklusif, memungkinkan warga dari berbagai latar belakang untuk memiliki suara dan mempengaruhi keputusan publik.

Pada 2024, Indonesia menggelar pesta demokrasi serentak terbesar sepanjang masa yaitu Pemilu dan Pilkada. Pemilu yang diselenggarakan pada 14 Februari 2024 bertujuan untuk memilih presiden dan wakil presiden, 580 anggota DPR RI, 152 anggota DPD RI, 2.372 anggota DPRD Provinsi, dan 17.510 anggota DPRD Kabupaten/Kota. Sementara itu, Pilkada yang diselenggarakan pada 27 November 2024 di 545 daerah bertujuan untuk memilih memilih 37 gubernur/wakil gubernur, 415 bupati/wakil bupati, dan 93 walikota/wakil walikota.

Kualitas demokrasi dalam sebuah negara ditentukan oleh kualitas partisipasi warganya. Keterlibatan warga negara dalam melakukan partisipasi dimungkinkan karena tersedianya ruang yang cukup untuk melakukan partisipasi yang dijamin oleh negara, juga kemampuan dan keterampilan dari warga negara untuk berpartisipasi dalam berbagai bentuk dan berbagai macam aspek. 

Di era digital saat ini membuka kebebasan masyarakat dalam menyampaikan aspirasinya. Berbagai platform hadir memberikan kebebasan bagi penggunanya dalam berinteraksi, terutama dalam menyampaikan pendapat. Dengan hadirnya kemajuan teknologi memudahkan untuk mengakses internet, sehingga saat ini semua masyarakat terutama generasi milenial dan Gen Z sudah memiliki media sosial yang bisa diakses kapanpun dan dimanapun. 

Dalam pesta demokrasi Pemilu Serentak 2024, teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah turut mewarnai jalannya kontestasi merebut suara rakyat. Penggunaan TIK dalam pesta demokrasi memiliki dampak positif (plus) dan negatif (minus). 

Pada perspektif yang positif (plus), TIK telah digunakan sebagai sarana kampanye yang konstruktif. Para kontestan bisa menyampaikan visi, misi, dan programnya kepada rakyat. Selain itu, para kontestan juga bisa berdialog secara langsung dan mendengarkan aspirasi rakyat. Kampanye melalui media sosial terbukti efektif meraih dukungan rakyat.

Pada perspektif yang negatif (minus), media sosial telah digunakan sebagai sarana untuk menyebarkan berita bohong (hoaks), memfitnah lawan politik, dan menjatuhkan harkat martabat pihak kompetitor. Penyalahgunaan media sosial bisa berdampak menurunnya kualitas demokrasi.

Dapat disimpulkan, TIK telah memperindah wajah demokrasi di Indonesia dimana rakyat bisa lebih bebas menyampaikan aspiranya kepada para pemimpin politik. Sudah terbukti viralisasi suara rakyat melalui media sosial telah berhasil mendorong pemimpin untuk merubah kebijakannya yang merugikan rakyat. Viralisasi juga telah berhasil mendorong penegakan hukum bagi rakyat kecil. Namun di sisi lain perkembangan TIK juga mendorong perkembangan hoaks dan fitnah secara signifikan. 

Solusi untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah bisa meningkatkan literasi digital dengan tujuan agar kemajuan TIK bisa digunakan secara lebih arif dan bijaksana. Selain itu, aparat penegak hukum perlu mengambil langkah tegas dan tidak pandang bulu terhadap para penyebar hoaks dan fitnah.

*Penulis adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Administrasi Niaga, Universitas Indonesia.

Sumber:
1. https://tekno.kompas.com/read/2024/02/01/09300027/pengguna-internet-indonesia-tembus-221-juta-didominasi-gen-z
2. https://tirto.id/pemilu-2024-memilih-apa-saja-ini-jadwal-dan-tahapan-pemilu-2024-gDB8
3. https://kompaspedia.kompas.id/baca/paparan-topik/pilkada-serentak-2024-alur-data-dan-tren-sosial-politik
4. https://kumparan.com/ponzsipermata17/peran-medsos-dalam-kampanye-pemilu-tren-terkini-dan-dampaknya-pada-politik-21KrHlDpoL7
5. https://www.kpu.go.id/berita/baca/11315/berikut-24-partai-politik-peserta-pemilu-2024.
6. https://news.detik.com/pemilu/d-7004599/kominfo-catat-hoaks-pemilu-naik-10-kali-lipat-dibanding-tahun-lalu
7. https://setneg.go.id/baca/index/politik_digital_keterlibatan_media_sosial_dalam_meningkatkan_partisipasi_politik_generasi_muda_pada_pesta_demokrasi_2024

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

UPDATE

OKI Kecam Serangan Houthi ke Makkah dan Madinah

Minggu, 25 Oktober 2026 | 10:17

Jakarta Running Festival Jadi Role Model Ajang Lari Nasional

Minggu, 25 Oktober 2026 | 10:01

Carbon Capture di Petrokimia Gresik Berpeluang Kurangi Impor Soda Ash

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:47

KPK Bantah Kembali Sita Uang Rp40 Juta dari Salah Satu PCNU Terkait Muktamar NU

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:27

Mantan Panglima TNI Pertama dari Angkatan Laut Widodo AS Wafat

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:12

Aksi Iklim Lintas Iman Desak Siklus Karhutla Tahunan Segera Diputus

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:02

Akuisisi Saham BYAN Haji Isam Sejalan dengan UU Minerba

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:44

Bill Gates: AI Bisa Picu Gejolak Ekonomi dan Sosial Selama 20 Tahun

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:43

Kehadiran Kopdes Bawa Harapan untuk Ekonomi Desa

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:19

Pesantren Didorong Ikut Terlibat dalam Pencegahan Karhutla

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:05

Selengkapnya