Berita

Ilustrasi Guru/Net

Publika

Surplus Guru dan Minus Guru Bangsa

OLEH: MOCH EKSAN
SELASA, 26 NOVEMBER 2024 | 02:28 WIB

SEKARANG, memang jumlah guru dan dosen di Indonesia sudah tembus 3,6 juta orang. Tetapi, jumlah ini belum dibarengi dengan munculnya guru bangsa yang memberi pencerahan dan keteladanan.

Bangsa ini membutuhkan guru yang menerangi lorong waktu, serta suri tauladan yang bisa digugu lan ditiru. Mereka para pemimpin bangsa yang selesai dengan dirinya. Mereka tak punya kepentingan kekuasaan dan kekayaan. Mereka telah mewakafkan hidup dan matinya demi kemajuan dan kemakmuran rakyat.

Indonesia memiliki tiga mantan presiden yang masih hidup. Tetapi Megawati Soekarno Putri, Susilo Bambang Yudhoyono, dan Joko Widodo masih terlibat langsung dalam perebutan kekuasaan, baik dalam jabatan presiden, gubernur, maupun jabatan bupati/walikota.


Tiga presiden di atas memang sudah selesai dengan dirinya sendiri, namun belum selesai dengan anggota keluarganya. Mereka secara sengaja atau tidak, ikut melapangkan jalan untuk tampilnya anggota keluarga dalam bingkai politik dinasti yang hegemonik.

Terbukti, tiga presiden ini masih cawe-cawe dalam pemenangan paslon pada Pilkada Serentak, Rabu, 27 November 2024. Di berbagai daerah, pertarungan politik dipertontonkan dengan vulgar oleh para mantan melalui endorsement paslon tertentu.

Dalam konteks Pilkada, pertarungan Mega vs Jokowi tampak mencolok mata pada Pilgub DKI Jakarta, Jawa Tengah, Sumatera Selatan, dan sejumlah daerah yang lain. Perseteruan dua tokoh banteng ini merupakan kelanjutan pertarungan Pilpres 2024 yang lalu.

Mereka menganggap pertarungan politik belum selesai. Mereka sama-sama berebut supremasi politis dan historis sebagai mantan presiden yang paling berpengaruh di Nusantara. Padahal, rakyat berharap kepada mereka untuk netral dalam Pilkada 2024.

Dengan demikian, Mega, SBY, dan Jokowi belum cukup syarat dan rukun disebut teacher of nations (guru bangsa). Sebab, mereka belum dapat menjadi guru bagi semuanya. Mereka belum bisa diterima secara bulat sebagai pemimpin bagi semuanya pula. Sebagian kelompok anak bangsa menerimanya. Dan sebagian anak bangsa lain justru menolaknya.

Istilah teacher of nations merupakan julukan bagi John Amos Comenius. Seorang bapak pendidikan modern yang memiliki pengaruh besar melalui sistem pendidikan yang telah mengubah nasib bangsa. Pengaruhnya itu cukup bertahan lama dalam memandu perjalanan kehidupan bangsa tersebut.

Istilah teacher of nations juga terkait dengan buku "Teacher, The Nation Builders and Nationalism" yang berisi tentang peran guru sebagai pembentuk karakter dan nasionalisme bangsa di India, layaknya tokoh Mahatma Gandhi.

Mereka adalah para tokoh inspiratif yang memotivasi anak bangsa untuk mencintai Tanah Air lebih dari apapun. Mereka rela berkorban harta, jiwa dan raga demi eksistensi bangsa yang merdeka dan berdaulat.

Maka untuk mengatasi surplus guru dan minus guru bangsa pada Hari Guru Nasional, Senin, 25 November 2024 ini, semua pihak harus menempatkan para guru sebagai the nation builders and nationalism.

Dalam pembentukan karakter dan nasionalisme, para gurulah yang paling bertanggung jawab secara formal dan institusional untuk mengajar, mendidik, dan melatih seluruh anak bangsa agar merasa punya sense of belonging demi kelangsungan dan kemajuan bangsa.

Yang harus disadari dari awal, guru bukan profesi profesional yang hanya berkutat pada guru kelas atau guru mata pelajaran, akan tetapi ia adalah pengajar, pendidik, dan pelatih pembentukan karakter dan nasionalisme anak bangsa.

Pengajaran dan keteladanan para guru menjadi sumber inspirasi bagi anak bangsa untuk memberi dedikasi dan kontribusi yang terbaik dalam mewujudkan Indonesia raya.

Selamat Hari Guru Nasional. Guru sejahtera, Indonesia jaya!

Penulis adalah Pendiri Eksan Institute

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Warga Gembira TransJakarta Layani Rute Kepulauan Seribu

Selasa, 11 Agustus 2026 | 06:10

UPDATE

Kejagung Periksa PNS Pemprov Banten terkait Korupsi MBG

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 06:17

Ahli dari Polri Untungkan Febri Adriansyah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 06:03

Kinerja BUMD DKI Dituntut Lebih Terukur

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 05:53

Bayar Rp650 Juta tapi Gagal Lolos Kedokteran Unsoed

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 05:41

KPK Bongkar Mahar Rp1,12 Miliar di Jalur Mandiri Unsoed

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 05:29

Kiai Marsudi Dinilai Mampu Membangun Kemajuan NU Tanpa Kehilangan Jati Diri

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 05:17

Rektor Unsoed Diduga Terima Gratifikasi Rp680 Juta Lewat Mulyono

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 04:46

Ahli Praperadilan Febrie Sebut TPPU Perlu Tindak Pidana Asal

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 04:29

Sjafrie Terima Menhan China: Perkuat Kerja Sama Militer

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 04:16

Mantan Dirdik Jampidsus Jasman Panjaitan Beberkan Kesaksian terkait Febrie

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 04:05

Selengkapnya